S&P Global Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 5,1% pada 2026

S&P Global Ratings memprediksi rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,9% pada 2026-2029.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 18:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2026. Prediksi pertumbuhan ekonomi itu seiring kinerja ekonomi dapat melambat pada kuartal-kuartal berikutnya karena ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dan suku bunga yang lebih tinggi.

“Kami memperkirakan rata-rata pertumbuhan 4,9% per tahun dari 2026-2029,” demikian mengutip dari laman spglobal.com, Senin, (13/7/2026).

Rata-rata penghasilan di Indonesia tetap lebih rendah daripada sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, tetapi meningkat lebih cepat.

Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dapat mencapai US$ 5.200 tahun ini, hanya naik sedikit dari US$ 5.100 pada 2025 dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nominal yang diperkirakan sebesar 8,3%. Hal ini terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah.

“Terlepas dari pergerakan nilai tukar, pertumbuhan tren Indonesia sebesar 3,9% akan lebih baik daripada sebagian besar ekonomi dengan tingkat penghasilan yang serupa,” demikian seperti dikutip dari laporan S&P.

Lembaga pemeringkat internasional terus percaya kalau lembaga politik dan kebijakan di Indonesia secara umum stabil dan bebas dari tantangan terhadap legitimasinya.

“Para pembuat kebijakan Indonesia terus memprioritaskan stabilitas ekonomi dan keuangan. Selama bertahun-tahun, mereka telah berupaya meningkatkan transparansi melalui interaksi dan berbagi informasi secara teratur dengan pelaku pasar keuangan,” demikian seperti dikutip.

“Mereka fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan bila diperlukan, seperti melakukan pemotongan besar-besaran untuk menjaga defisit di bawah ambang batas tahun ini,” demikian seperti dikutip.

 

 

Profil Fleksibilitas dan Kinerja

"Beban pembayaran utang, dan kebutuhan pembiayaan eksternal telah meningkat, sebagian karena faktor-faktor sekali pakai,” demikian seperti dikutip.

S&P Global Ratings memperkirakan defisit fiskal Indonesia akan tetap di bawhah 3% dari PDB, sesuai dengan persyaratan hukum negara, bahkan dengan pengeluaran yang lebih tinggi untuk subsidi energi.

“Defisit transaksi berjalan kemungkinan akan melebar tahun in, tetapi pendapatan ekspor lebih tinggi dan pasar energi yang secara bertahap kembali normal akan mengurangi dampaknya,” demikian seperti dikutip.

Mata uang rupiah meski telah berasa di bawah tekanan signifikan tahun ini, S&P memperkirakan bank sentral akan merespons dengan berbagai instrumen kebijakan. “Hal ini akan membatasi pengurasan cadangan devisa,” demikian seperti dikutip.

 

S&P Prediksi Pemerintah Tetap Jaga Defisit

Lembaga pemeringkat S&P memperkirakan pemerintah akan tetap berkomitmen pada aturan fiskal untuk menjaga defisit di bawah 3% dari PDB, meskipun biaya energi lebih tinggi.

“Meskipun tampaknya sebagian besar telah mengamankan pasokan bahan bakar yang cukup, termasuk dengan mengalihkan ekspor minyak dan gas untuk penggunaan domestik, biaya impor energi telah melonjak,” demikian seperti dikutip dari laporan S&P.

S&P Global Ratings menilai, ini akan meningkatkan kompensasi dan pembayaran subsidi untuk menjaga harga bahan bakar bersubsidi tetap.

“Pemerintah juga akan meluncurkan stimulus ekonomi lebih lanjut jika harga dan suku bunga yang lebih tinggi terus menekan ekonomi domestik,” demikian seperti dikutip.

Untuk menjaga defisit di bawah 3% dari PDB, pemerintah akan memangkas pengeluaran pada pos-pos lain seperti program makan bergizi gratis.

“Kami memperkirakan anggaran awal lebih dari Rp 300 triliun untuk program ini akan dipangkas sepertiganya. Penghematan akan berasal dari perubahan parameter program, peningkatan efisiensi dan pengetatan pengawasan,” demikian seperti dikutip.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6