Pasar Barito Digusur, Pedagang Tolak Pindah ke Lenteng Agung: Di Sana Jurang dan Rawan Banjir, Jualan Tidak Laku

Pedagang Pasar Barito menyatakan enggan relokasi ke Pasar Lenteng Agung lantaran khawatir jualannya tidak laku dan tempatnya yang dikhawatirkan banjir.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 12:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Sejumlah pedagang Pasar Barito, Jakarta Selatan, memblokir jalan di perempatan bundaran Taman Ayodya pada Senin (27/10/2025). Aksi ini dipicu penertiban kios oleh Pemkot Jakarta Selatan.

Pada pukul 07.45 WIB, mereka memilih duduk di jalanan dan membawa poster sebagai tanda mereka tidak menerima adanya penertiban yang berdampak pada kios dagangan mereka.

Dalam aksinya, satu orang perempuan ditemukan pingsan dan dibantu anggota polisi serta puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

"Surat tugas hanya bunyinya menertibkan bukan melakukan pembongkaran, itu yang kita sayangkan," kata kuasa hukum pedagang Barito, Damianus Jefry saat ditemui di lokasi.

Alasan Tolak Direlokasi ke Lenteng Agung

Dia menegaskan pedagang Pasar Barito bukanlah liar lantaran mereka sudah memenuhi kewajiban yakni membayar retribusi.

Kemudian, dia mewakili pedagang Pasar Barito menyatakan enggan relokasi ke Pasar Lenteng Agung lantaran khawatir jualannya tidak laku dan tempatnya yang dikhawatirkan banjir.

"Lenteng Agung itu relokasinya sangat tidak tepat. Kalau kita berdagang itu maunya laku. Kalau di sana itu modelnya jurang, hujan pasti banjir, kata warga setempat," ucapnya.

Hingga pukul 08.30 WIB, sepanjang Jalan Barito I telah dipenuhi kios yang rata oleh tanah dan dagangan pedagang yang telah dipindahkan ke seberang jalan.

Sejumlah pedagang tak terima lantaran dagangannya rusak hingga hewan jualan mereka ada yang mati diduga karena stres dan kepanasan.

Pemkot Jaksel Tertibkan Kios Pasar Barito

Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) akhirnya menertibkan kios pedagang Pasar Barito untuk membangun Taman Bendera Pusaka sejak pukul 05.00 WIB pada Senin ini.

Pasar Lenteng Agung dipilih sebagai tempat relokasi pedagang Pasar Hewan Barito karena dinilai memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Termasuk akses yang mudah bagi pembeli lantaran dekat dengan Stasiun Lenteng Agung dan halte Transjakarta non BRT rute D21.

Relokasi pedagang di Pasar Barito berkaitan dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menggabungkan tiga taman di Jakarta Selatan, yakni Taman Leuser, Taman Ayodya dan Taman Langsat menjadi Taman Bendera Pusaka yang ditargetkan rampung pada Desember 2025.

Pramono Pastikan Penertiban Pasar Barito Humanis

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan penertiban Pasar Barito dilakukan secara humanis. Pasar Barito diratakan dengan tanah pada Senin (27/10/2025) pagi.

Proses penertiban pasar tersebut sudah dilakukan sejak pukul 05.00 WIB di sekitar Jalan Barito 1. Sejumlah personel dikerahkan dari tiga unsur mulai dari Satpol PP, Polres Metro Jakarta Selatan dan TNI.

Jalan di perempatan bundaran Barito ditutup oleh polisi da mengalihkan pengendara bermotor ke arus lalu lintas lainnya. Sekitar pukul 07.00 WIB, kios pedagang Pasar Barito telah rata bersama tanah usai dirubuhkan oleh ekskavator.

“Pelaksanaan pembersihan (dilakukan) karena sudah diberikan SP1, SP2, SP3 dan kami sangat humanis, manusiawi sekali. Alhamdulillah pelaksanaan di lapangan dari jam lima pagi tadi sampai sekarang berjalan dengan baik,” kata Pramono.

Pramono memastikan, barang milik pedagang yang belum sempat diambil, sudah disimpan. Para pedagang bisa mengambilnya kapan saja. Saat ini, katanya, para pedagang sudah dapat menempati lokasi baru yakni di Sentra Fauna Lenteng Agung.

Lokasi tersebut juga memiliki 125 kios dengan berbagai fungsi mulai dari Zona A – Kuliner (22 kios), Zona B – Amphitheater (70 kursi), Zona C & D – Burung & Pakan Hewan (74 kios), dan Zona E – Parsel & Kuliner Tambahan (29 kios).

Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberikan gratis sewa selama enam bulan kepada pedagang. Pramono mengatakan, bahkan tempat ini juga sudah dilirik oleh pedagang-pedagang lain yang bukan berasal dari pedagang Pasar Barito.

“Dan saya sudah berpesan kepada Kepala Dinas UMKM, tak boleh ada yang mempunyai lebih dari satu kios. Jadi, maksimum satu kios adalah satu orang,” kata Pramono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6