Soekarno dan Semangat Bandung: Upaya Menghidupkan Kembali Pemikirannya yang Mulai Pudar

Gagasan Soekarno tentang kemerdekaan dan keadilan universal terasa semakin relevan: bahwa kemanusiaan sejati hanya lahir ketika tidak ada lagi bangsa yang menindas bangsa lain.

Diterbitkan 23 Oktober 2025, 03:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Bonnie Triyana tekankan pentingnya meneladani pemikiran Soekarno menolak penindasan.
  • Soekarno menyatukan bangsa Asia-Afrika melalui KAA 1955 melawan kolonialisme.
  • KAA Bandung 1955 mengubah dunia, melahirkan kekuatan moral baru dan mempengaruhi PBB.

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bonnie Triyana menekankan pentingnya meneladani kembali pemikiran Soekarno yang menolak segala bentuk penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa.

Hal ini disampaikannya dalam acara bertajuk 'Sukarno and The Making of The News World' di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (22/10/2025). Di mana turut menghadirkan sejarawan asal Belgia, David Van Reybrouck, penulis buku 'Revolusi Indonesia and the Birth of the Modern World' yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

"Bung Karno percaya kemerdekaan sejati belum tercapai bila masih ada eksploitasi satu bangsa atas bangsa lain. Dari keyakinan itu lahirlah semangat Bandung," ujar Bonnie.

Menurut dia, pada masa awal kemerdekaan, Soekarno memainkan peran sentral dalam menyatukan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung.

Soekarno bersama tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), John Kotelawala (Sri Lanka), dan U Nu (Burma/Myanmar) membangun solidaritas melawan kolonialisme dan ketidakadilan global.

Dalam konteks itu, kata Bonnie, Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno tak hanya menjadi simbol kemerdekaan politik, tetapi juga pusat moral gerakan anti-kolonial dunia.

"Semangat internasionalisme Bung Karno adalah cerminan kemanusiaan universal yang kini mulai pudar," tutur Bonnie.

Sementara itu, David Van Reybrouck dalam kuliah umumnya menyebut bahwa KAA Bandung merupakan tonggak sejarah yang mengubah wajah dunia. Ia menilai semangat Bandung mencerminkan optimisme dan harapan bangsa-bangsa baru merdeka pasca-Perang Dunia II.

"Bandung adalah momen luar biasa. Di sana, dunia ketiga lahir sebagai kekuatan moral baru. Namun mimpi Bandung hanya bertahan sejenak dan hancur pada 1965, seiring perubahan politik global dan campur tangan kekuatan besar," ujar David.

 

Pengaruh Besar Soekarno pada Tatanan Dunia Baru

David menerangkan, salah satu warisan penting KAA adalah transformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lima bulan setelah konferensi, banyak negara peserta Bandung bergabung ke PBB, menjadikan lembaga itu lebih inklusif dan benar-benar global.

"Tahun 1960 dikenal sebagai Tahun Afrika, ketika 18 negara merdeka dan sebagian besar adalah peserta Konferensi Bandung. Itu menunjukkan pengaruh besar Indonesia dan Soekarno terhadap tatanan dunia baru," urainya.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta Kuliah umum bertanya kepada David mengenai pandangannya terhadap Soeharto yang kini disoroti terkait rencana pemberian gelar pahlawan nasional.

David menjawab bahwa pengakuan terhadap tokoh sejarah harus selalu dilihat dalam konteks moral dan politik zamannya.

Adapun cara yang turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, antara lain: Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Wagub DKI Rano Karno, sejumlah Anggota DPR RI PDIP, Gunawan Mohamad, Wardiman Djojonegoro, Halidah Hatta, Sukmawati Soekarno, serta perwakilan diplomatik dari Belanda dan Belgia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6