Penjelasan Dokter yang Pertama Kali Tangani Raya Bocah Meninggal karena Tubuh Penuh Cacing

Raya datang ke puskesmas dalam kondisi batuk, demam, dan penurunan kesadaran. Kondisi Raya disampaikan Habibi kepada IDI Sukabumi.

Diperbarui 20 Agustus 2025, 16:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Sukabumi menjelaskan kondisi Raya saat pertama kali ditangani di fasilitas kesehatan. Raya merupakan bocah tiga tahun yang meninggal dunia usai cacing bersarang di tubuhnya. 

Ketua IDI Kabupaten Sukabumi, Asep Suherman mengatakan, Raya datang ke puskesmas dalam kondisi batuk, demam, dan penurunan kesadaran. Saat itu, Raya ditangani dokter bernama Habibi. Kondisi Raya kemudian disampaikan Habibi kepada IDI Sukabumi.

"Datang dalam kondisi batuk, demam, dan penurunan kesadaran," jelas Asep kepada Liputan6.com, Rabu (20/8/2025).

Namun, saat itu, lanjut Asep belum terlihat cacing pada tubuh Raya. Karena kondisi kesadaran Raya menurun, dokter menyarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit di Kota Sukabumi.

"Untuk rujukan 13 Juli setelah penanganan kontak awal. Setelah itu, keluarga mengatakan mau diskusi dulu," kata Asep.

Asep memastikan, penanganan awal terhadap Raya sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Dokter Habibi sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

"Saya lihat penanganan oleh dokter Habibi ini sudah benar," kata dia.

Dirawat di RSUD Kota Sukabumi Lalu Meninggal

Kondisi miris Raya pertama kali diungkapkan Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land. Kejadian ini dimulai dari laporan kerabat Raya pada 13 Juli 2025. Awalnya kerabat hanya menyampaikan bahwa Raya sakit sesak napas.

Relawannya langsung melakukan asesmen di hari yang sama. Saat tiba, kondisi Raya sudah tidak sadarkan diri. Penyakit cacingan akut yang diderita Raya baru diketahui setelah dia dibawa ke RSUD R Syamsudin Sh (Bunut).

"Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit)," kata Iin, Selasa (19/8/2025).

Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, dr Irfanugraha Triputra menuturkan, Raya tiba di IGD RSUD R Syamsudin SH pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Dia dibawa menggunakan ambulans oleh tim relawan Rumah Teduh.

“Menurut pihak keluarga, sehari sebelumnya Raya hanya mengalami gejala demam, batuk, dan pilek,” ujar dr Irfanugraha dikonfirmasi.

Awalnya dokter menduga ketidaksadaran Raya disebabkan oleh meningitis TB atau komplikasi dari TBC paru. Sebab Orang tua Raya juga sedang menjalani pengobatan TBC. Namun dugaan itu berubah saat dokter melihat cacing keluar dari hidung Raya selama observasi di IGD.

"Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing," jelas dr Irfan.

Selain tidak sadarkan diri, kondisi vital Raya juga tidak stabil, terutama tekanan darahnya. Setelah penanganan awal untuk menstabilkan kondisi, Raya segera dirawat di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) setelah dikonsultasikan dengan spesialis anak.

Cacing Menyebar hingga Paru-Paru dan Otak

Selama perawatan, kondisi Raya tidak membaik. Menurut Irfanugraha, infeksi cacing gelang (ascaris) yang dialaminya sudah sangat parah dan menyebar ke organ vital, seperti paru-paru dan otak.

Dia menjelaskan, keluarnya cacing dari hidung menandakan bahwa cacing sudah menjalar hingga saluran pernapasan atau saluran pencernaan bagian atas.

"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," terang dia.

Kondisi ini membuat penanganan medis menjadi sangat sulit. Raya mengembuskan napas terakhirnya pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB, tanpa sempat dipulangkan dari rumah sakit. Raya meninggal di RSUD R Syamsudin SH setelah dirawat selama sembilan hari.

Kemenkes Ungkap Penyakit Raya

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan soal penyakit yang dialami Raya. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, Raya terinfeksi cacing gelang. Cacing tersebut berukuran besar sehingga bisa dilihat secara langsung.

"Kasus anak R di Kab. Sukabumi yang terinfeksi cacingan, kasus tersebut adalah kasus dengan jenis cacing gelang karena jenis cacing ini ukurannya paling besar," jelas Aji melalui keterangan tertulis, Rabu (20/8/2025).

Cacing tersebut mudah dikenali. Ukurannya berkisar antara 10-35 cm. Menurut Aji, jika telur infektif cacing itu tertelan, akan menetas menjadi larva di usus halus kemudian menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe.

"Lalu terbawa aliran darah ke jantung dan paru hingga bisa menyebabkan terjadinya Pneumonia, dengan gejala batuk, pilek, tidak sembuh dalam waktu lama, bisa keluar cacing dari hidung dan sesak nafas," katanya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6