Duduk Perkara Lucky Hakim Tebar Ular di Sawah Lawan Hama yang Jadi Sorotan

Dalam program yang dia sebut “Sahabat Tani”, Lucky melepas ribuan ular jenis Coelognathus radiatus atau lebih dikenal sebagai ular lanang sapi ke area persawahan.

Diperbarui 13 Agustus 2025, 19:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Bupati Indramayu Lucky Hakim kembali menjadi perbincangan hangat. Namun kali ini bukan karena polemik politik, melainkan karena cara tak biasa yang dia ambil demi menyelamatkan panen petani. Alih-alih menggunakan racun atau jebakan, Lucky memilih ular sebagai solusi alami.

Dalam program yang dia sebut “Sahabat Tani”, Lucky melepas ribuan ular jenis Coelognathus radiatus atau lebih dikenal sebagai ular lanang sapi ke area persawahan. Aksi ini dimulai sejak Sabtu, 9 Agustus 2025 dan langsung mencuri perhatian publik, bahkan menuai berbagai reaksi di media sosial. Tak sedikit yang mempertanyakan, apakah tindakan ini aman bagi warga.

Menurut Lucky, langkah ini merupakan respons konkret atas keresahan petani terhadap hama tikus yang makin merajalela.

“Kasihan petani gagal tanam dan rugi besar karena serangan tikus sangat banyak,” ungkapnya, 8 Agustus 2025.

Ular-ular yang dilepaskan merupakan hewan asli Indramayu yang selama ini populasinya menurun drastis. Bukan karena punah alami, tapi karena ketakutan warga yang membuat mereka diburu dan dibunuh. Tak hanya ular, predator alami tikus lainnya seperti biawak dan burung hantu pun ikut lenyap dari habitatnya.

“Dulu tikus bisa dikontrol populasinya saat masih banyak ular, biawak, dan burung hantu,” jelas Lucky. “Tapi karena dianggap menakutkan, mereka diburu. Akibatnya, sekarang tikus tak terkontrol.”

Meski menuai kontroversi, Lucky Hakim yakin pendekatan ekosistem ini lebih ramah lingkungan ketimbang penggunaan racun kimia.

Bukan Ular Berbisa

Lucky Hakim menjawab kekhawatiran publik soal aksinya melepas ribuan ular ke sawah untuk membasmi hama tikus. Dia menegaskan, ular-ular yang dilepasliarkan tidak berbahaya bagi manusia, tidak berbisa, dan tak akan tumbuh menjadi besar seperti ular sanca.

“Ularnya tidak berbisa, ukurannya maksimal hanya sebesar jempol kaki orang dewasa, panjangnya pun hanya sampai 1,5 meter. Ini jenis ular spesialis pemakan tikus dan kodok. Kalau ketemu manusia, justru mereka yang kabur,” jelas Lucky Hakim.

Dia juga menyampaikan bahwa gigitan ular jenis ini pun tak membahayakan. “Kalau pun tertangkap dan menggigit, paling hanya lecet sedikit karena giginya kecil. Saya bahkan punya beberapa video yang menunjukkan ular-ular ini menggigit tangan, luka kecil, tidak berbahaya sama sekali,” lanjutnya.

Ular jenis Lanang Sapi yang dilepas ini dikenal efektif dalam mengontrol populasi tikus. Satu ekor ular dewasa mampu memangsa 2 hingga 3 tikus besar per minggu, bahkan lebih dari 10 anak tikus dalam waktu singkat.

Ciri khas ular ini mudah dikenali, berwarna coklat kekuningan dengan garis memanjang di punggung. Harapannya, para petani bisa dengan mudah mengidentifikasi ular ini dan tidak perlu panik saat menemukannya di sawah.

Gandeng Influencer

Dalam menggulirkan program "Ular Sahabat Tani", Lucky Hakim tak bergerak sendirian. Dia melibatkan YouTuber, influencer, dan pegiat konten edukatif untuk memperluas jangkauan informasi dan membangun pemahaman publik tentang pentingnya keseimbangan ekosistem di lahan pertanian.

Kolaborasi ini bukan sekadar strategi publikasi, tapi juga bagian dari upaya serius untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap ular. Lewat video edukatif dan interaksi langsung di lapangan, Lucky Hakim menunjukkan bahwa ular yang dilepaskan bukan jenis berbahaya.

Dia bahkan memperagakan langsung bagaimana ular tersebut bereaksi terhadap manusia, lebih memilih kabur ketimbang menyerang. Edukasi menjadi kunci utama dalam meruntuhkan stigma bahwa semua ular itu mematikan.

Melalui pendekatan ini, masyarakat mulai menerima kehadiran ular sebagai bagian dari solusi alami mengatasi serangan tikus yang selama ini membuat petani rugi besar.

Dampaknya pun terasa nyata. Dukungan dari para petani semakin kuat. Tak sedikit kelompok tani dari berbagai kecamatan di Indramayu yang kini justru meminta agar wilayah mereka juga jadi lokasi pelepasan ular. Bagi mereka, program ini bukan hanya unik, tapi juga efektif dan ramah lingkungan.

Direspons Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara soal langkah tak biasa yang diambil Lucky Hakim dalam mengatasi serangan hama tikus, melepasliarkan ular ke persawahan. Bagi Dedi, ini bukan sekadar aksi nyeleneh, tapi sebuah ikhtiar yang patut diapresiasi.

"Pada Pak Lucky Hakim, saya mengucapkan terima kasih. Bapak sudah berikhtiar mengatasi masalah petani," ujar Dedi lewat akun Instagram-nya, Rabu (13/8/2025).

Namun, Dedi juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat soal jenis ular yang dilepaskan. Menurutnya, banyak warga masih menganggap semua ular berbahaya.

"Ular sudah kreatif, tetapi nanti harus disampaikan kepada warga bahwa ular itu tidak berbisa, ular sawah," jelasnya.

Dia menambahkan, populasi ular sawah saat ini makin langka karena kebiasaan warga yang menangkap dan menjualnya. Padahal, ular adalah predator alami tikus. Ketika ular lenyap dari ekosistem, tikus pun berkembang biak tanpa kendali.

"Ular sawah itu habis karena diburu warga. Akhirnya, tikusnya merajalela. Itu sangat berbahaya," katanya.

Dedi mengungkapkan, hama tikus bisa membuat petani gagal panen dalam waktu singkat. Dia bahkan bergurau bahwa tikus perkotaan bisa menghabiskan hasil panen hanya dengan "sekali klik."

Menutup pesannya, Dedi memberi semangat kepada Lucky untuk terus menjalankan program “Ular Sahabat Tani” tersebut.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6