Demokrat Bantah Dalangi Isu Ijazah Palsu: Itu Upaya Adu Domba SBY-Jokowi!

Demokrat menegaskan tuduhan tersebut adalah fitnah yang tidak berdasar.

Diperbarui 28 Juli 2025, 16:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Demokrat membantah tuduhan dalang isu ijazah palsu Jokowi, sebut itu fitnah.
  • Roy Suryo bukan kader Demokrat saat persoalkan ijazah Jokowi sejak 2019.
  • Hubungan SBY dan Jokowi baik, Gibran hadir di Kongres V Demokrat.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Strategis, DPP Demokrat Herzaky Mahendra Putra angkat bicara soal tuduhan bahwa Partai Demokrat berada di balik ramainya isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

Herzaky menegaskan tuduhan tersebut adalah fitnah yang tidak berdasar.

“Fitnah tidak mendasar. Istilah 'partai biru' yang diarahkan kepada Partai Demokrat merupakan upaya insinuatif yang menyesatkan dan mencemarkan nama baik kami,” kata Herzaky dalam keterangannya, Senin (28/7/2025).

Herzaky menegaskan, Roy Suryo sebagai pihak yang mempersoalkan ijazah Jokowi bukan lagi kader Demokrat.

“Saudara Roy Suryo yang beropini terkait 'dugaan ijazah palsu', bukan lagi bagian dari Partai Demokrat. Ia telah mengundurkan diri sejak tahun 2019. Keputusan tersebut diterima karena adanya perbedaan pandangan yang tidak lagi sejalan dengan arah kebijakan partai,” kata dia.

 

Jokowi-SBY Saling Menghormati

Menurut Herzaky, hubungan antara Jokowi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selalu baik dan saling menghormati.

“Hubungan antara keluarga Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga Bapak Joko Widodo sangat baik dan penuh saling hormat,” kata dia.

Bahkan, lanjutnya, Putra sulung Jokowi yakni Wapres Gibran Rakabuming Raka, menghadiri Kongres V Partai Demokrat yang dipimpin oleh Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Hubungan ini mencerminkan keharmonisan yang kuat antarkeluarga, dan tidak pantas dijadikan sasaran provokasi,” kata dia.

 

Upaya Adu Domba

Menurutnya, ada pihak yang mencoba mengail di air keruh, dengan memanfaatkan isu ini untuk mengadu domba.

“Untuk mengadu domba antara SBY dan Jokowi. Tindakan seperti ini sangat tidak etis, berpotensi merusak ruang publik, dan sama sekali tidak mencerminkan semangat demokrasi yang sehat,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6