Pelajar Indonesia Didorong Raih Pendidikan ke China dan Taiwan Lewat Beasiswa

Meski peluangnya terbuka lebar, namun bukan berarti tidak ada tantangan.

Diperbarui 12 Juli 2025, 10:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Studi ke Asia Timur meningkat karena biaya kuliah yang bersaing.
  • ABCDE targetkan 1.000 mahasiswa Indonesia kuliah di China & Taiwan.
  • Biaya hidup tinggi, bahasa, dan info jadi tantangan utama.

Liputan6.com, Jakarta - Tren studi ke luar negeri mengalami peningkatan, terutama ke negara-negara Asia Timur, seperti China dan Taiwan. Peningkatan ini tidak terlepas dari faktor biaya kuliah yang kompetitif, kemajuan riset dan teknologi di sana, serta kemitraan strategis antara negara-negara tersebut dengan Indonesia.

Aristia Chen, Founder Aristia Bachelor Collective Digital Education (ABCDE) sekaligus CMO Mazuta Group mengatakan, pihaknya menargetkan 1.000 warga Indonesia untuk bisa berkuliah ke China dan Taiwan. Caranya, dengan memperoleh beasiswa.

"Banyak institusi di China dan Taiwan yang menawarkan kurikulum internasional dan berbagai beasiswa bagi pelajar asing. Kondisi ini memberi ruang baru bagi generasi muda Indonesia untuk meraih gelar akademik sekaligus memperluas wawasan budaya dan profesional mereka," kata Aristia dalam keterangan diterima, Sabtu (12/7/2025).

Meski peluangnya terbuka lebar, namun bukan berarti tidak ada tantangan. Aristia mencatat, tingginya biaya hidup, kemampuan bahasa dan akses informasi adalah kendala utama bagi sebagian besar pelajar Indonesia yang ingin berkuliah ke luar negeri.

"Tak sedikit yang akhirnya gagal berangkat karena minimnya dukungan finansial atau persiapan yang belum matang," jelas dia.

Aristia pun menyarankan, bagi mereka yang serius ingin mendapatkan kesempatan tersebut disarankan mengikuti program pendukung yang terstruktur yang ditawarkan lembaganya, ABCDE.

“Program ini dapat memberikan kualitas hidup bagi generasi muda yang lebih baik melalui pendidikan, terutama bagi mereka yang berminat kuliah di China dan Taiwan,” yakin Aristia.

 

Akses Pendidikan Luar Negeri

Aristia berharap, dengan membangun ekosistem yang terstruktur dapat memungkinkan siapa pun terlibat dalam menciptakan akses pendidikan di luar negeri.

"Pada batch pertama, 150 peserta bootcamp akan disaring menjadi 20 penerima sertifikasi nasional dan 5–10 orang yang dibiayai studi ke luar negeri. ABCDE tidak hanya memberikan wawasan, tapi juga menyediakan proses seleksi yang menjadi ajang pengembangan diri, mulai dari bootcamp intensif, sertifikasi nasional resmi, hingga kursus Bahasa Mandarin secara komprehensif dan gratis,” Aristia menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6