AVI: Dukungan Inggris Terhadap Produk Tembakau Alternatif Patut Dicontoh Pemeritah RI

AVI menilai pendekatan ilmiah seperti yang dilakukan Yorkshire Cancer Research perlu menjadi contoh bagi pengambil kebijakan di Indonesia.

Diperbarui 12 Juni 2025, 20:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) menyambut baik dukungan lembaga riset di Inggris terhadap penggunaan produk tembakau alternatif sebagai langkah peralihan dari kebiasaan merokok.

AVI menilai pendekatan ilmiah seperti yang dilakukan Yorkshire Cancer Research perlu menjadi contoh bagi pengambil kebijakan di Indonesia.

"Layanan Kesehatan Nasional (NHS) Inggris sangat mendukung penggunaan produk tembakau alternatif. Bahkan sampai ada toko vape di rumah sakit. Jadi saya percaya bahwa Inggris, termasuk Yorkshire Cancer Research, sangat mendukung produk tembakau alternatif,” ujar Didong Wanorogo, Kepala Bidang Humas AVI, Rabu (11/6/2025).

Pernyataan Didong menanggapi langkah Yorkshire Cancer Research, lembaga riset kanker asal Inggris, yang aktif meluruskan kesalahpahaman publik mengenai rokok elektrik (vape).

Lembaga tersebut menilai produk tembakau alternatif memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibanding rokok konvensional.

Menurut Didong, pemerintah Indonesia perlu lebih terbuka terhadap dialog dan kolaborasi riset dalam merumuskan kebijakan. “Pemerintah harusnya open-minded. Yuk kita ngobrol bareng, bikin riset bareng. Jangan cuma pakai data luar negeri, kita juga bisa riset sendiri di dalam negeri agar datanya makin relevan,” tegasnya.

AVI menyebut pihaknya secara aktif mengedukasi perokok dewasa mengenai manfaat peralihan ke produk tembakau alternatif. Meski menghargai pilihan berhenti merokok sepenuhnya, AVI menekankan bahwa bagi perokok yang kesulitan berhenti, penggunaan produk alternatif bisa menjadi solusi yang lebih rendah risiko.

"Kita selalu edukasi perokok dewasa. Kita kasih tahu manfaatnya. Walaupun yang terbaik adalah berhenti total, tapi kalau tidak bisa, maka gunakan produk yang lebih rendah risikonya. Kita juga riset bareng, jadi pemerintah bisa punya data ilmiah yang valid," jelas Didong.

Namun demikian, AVI menyoroti bahwa regulasi saat ini dinilai masih menjadi kendala, terutama bagi pelaku industri vape yang mayoritas merupakan pelaku UMKM.

“Regulasi sekarang ini justru memberatkan pelaku industri vape. Industri ini masih muda. Tapi aturannya membatasi. Padahal, produk tembakau alternatif bisa jadi solusi. Kalau supply-nya susah karena regulasi, kita juga jadi terhambat dalam menyediakan alternatif lebih rendah risiko bagi perokok dewasa,” kata Didong.

 

Tingkat Risiko Lebih Rendah

Sebelumnya, Yorkshire Cancer Research menyampaikan bahwa produk tembakau alternatif, seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibanding rokok. Lembaga tersebut telah membantu ribuan warga Yorkshire beralih dari rokok melalui program pembagian vape gratis dan pendanaan layanan berhenti merokok senilai lebih dari 2,7 juta poundsterling.

“Vape adalah metode efektif untuk membantu orang beralih dari kebiasaan merokok. Lebih dari 4.600 orang beralih setiap tahun dengan menggunakan vape di Yorkshire saja,” kata Dr. Stuart Griffiths, Direktur Penelitian Yorkshire Cancer Research, dikutip dari situs Your Harrogate.

Dr. Stuart menegaskan bahwa meskipun bukan produk gaya hidup, produk tembakau alternatif merupakan alat bantu berhenti merokok yang harus tetap tersedia bagi perokok dewasa yang membutuhkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6