Gelombang Panas, RS Prancis Kesulitan Dapatkan Es Batu

Gelombang panas juga melanda negara lain.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Rumah-rumah sakit di Prancis mulai memperkuat kesiapan menghadapi gelombang panas ekstrem setelah lonjakan pasien pekan lalu mengungkap berbagai kelemahan dalam sistem penanganan darurat.

Pemerintah pun menggelontorkan dana besar untuk meningkatkan fasilitas pendingin di rumah sakit sebagai bagian dari adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Di Rumah Sakit Paris-Saclay, wilayah Paris, tenaga medis bahkan harus mencari pasokan es dalam jumlah besar untuk menurunkan suhu tubuh pasien yang mengalami serangan panas (heatstroke). Karena tidak memiliki mesin pembuat es, pihak rumah sakit sempat memperoleh pasokan dari restoran cepat saji dan supermarket sebelum akhirnya memesan mesin es sendiri.

"Kami pikir sudah siap, ternyata belum," kata Direktur Rumah Sakit Paris-Saclay, Cédric Lussiez, dikutip dari laman Independent, Rabu (1/7/2026).

Menurut Lussiez, pengalaman menghadapi gelombang panas yang disebutnya sebagai situasi "mengerikan" menjadi pelajaran penting bagi rumah sakit untuk menghadapi musim panas berikutnya.

"Kami bekerja 24 jam sehari untuk menemukan solusi baru dalam waktu yang sangat singkat. Kami telah belajar banyak pelajaran," ujarnya.

Sebagai respons, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan alokasi dana sebesar 100 juta euro atau sekitar US$114 juta untuk meningkatkan sistem pendingin rumah sakit dan memperbaiki fasilitas kesehatan agar lebih tahan terhadap suhu ekstrem.

Selain itu, pemerintah juga akan mendistribusikan 30.000 unit pendingin udara ke berbagai fasilitas kesehatan. Pengiriman pertama ditargetkan dimulai pada akhir pekan ini hingga awal pekan depan.

"Prioritas utama kami adalah memastikan jika gelombang panas kembali terjadi, situasi di rumah sakit akan jauh lebih terkendali," kata Lecornu.

Gelombang panas yang melanda Prancis pekan lalu kemudian bergeser ke sejumlah wilayah Eropa lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa fenomena tersebut hanya menjadi "latihan pendahuluan" sebelum musim panas yang diperkirakan akan semakin berat pada tahun-tahun mendatang.

 

WHO: Panas Eropa Dua Kali Lipat dari Biasanya

WHO menegaskan bahwa Eropa mengalami pemanasan lebih dari dua kali lipat rata-rata global, sehingga gelombang panas kini bukan lagi peristiwa langka.

"Setiap musim panas yang gagal kita persiapkan akan dibayar dengan nyawa manusia," kata WHO.

Di Paris-Saclay, Kepala Departemen Gawat Darurat Dr. Nicolas Gonzales mengatakan pasien mulai berdatangan sejak 20 Juni dan jumlahnya terus meningkat selama sepekan.

"Rasanya seperti gunung yang sangat besar. Kondisi itu berlangsung selama tujuh hari dan sangat intens," ujarnya.

Kasus yang ditangani meliputi serangan panas, serangan jantung, dehidrasi, hingga gangguan fungsi ginjal yang menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Pasien pertama yang dirawat dalam gelombang panas kali ini adalah seorang pria berusia 50 tahun yang ditemukan tidak sadarkan diri di rumahnya dengan suhu tubuh sekitar 40 derajat Celsius. Ia langsung dilarikan ke unit perawatan intensif.

Menurut Gonzales, panas ekstrem memberikan tekanan besar terhadap tubuh manusia.

"Panas adalah serangan fisik terhadap tubuh. Ketika tubuh tidak lagi mampu beradaptasi atau melawannya, seseorang bisa tiba-tiba mengalami henti jantung," katanya.

Rumah Sakit Paris-Saclay memang telah dilengkapi pendingin udara. Namun, tiga rumah sakit lama yang berada di bawah pengelolaan grup rumah sakit tersebut masih kesulitan menghadapi suhu tinggi.

Untuk menjaga kualitas obat-obatan, tenaga medis terpaksa menggunakan kipas angin dan balok es sebagai pendingin darurat. Rumah sakit juga merekrut perawat magang tambahan untuk membantu memastikan pasien tetap terhidrasi.

Di unit psikiatri yang berada di lantai paling atas, suhu ruangan bahkan sempat mencapai 33 derajat Celsius.

Ke depan, pihak rumah sakit berencana membangun ruang pendingin khusus di setiap lantai, melakukan renovasi bangunan, serta memindahkan unit perawatan lansia ke gedung baru yang memiliki sistem pendingin lebih baik.

"Kami yakin akan berada dalam kondisi yang jauh lebih siap menghadapi gelombang panas berikutnya dibandingkan pekan lalu," ujar Lussiez.