Liputan6.com, Jakarta - Kita hidup di dunia yang penuh persaingan. Tidak heran jika banyak orang terkadang terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dan berusaha menjadi yang terbaik.
Sebagian orang mampu menyadari kelebihan dirinya tanpa membiarkan pencapaian orang lain menentukan harga dirinya. Namun, ada juga yang terus-menerus merasa harus bersaing dan menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul.
Lantas, apa yang terjadi ketika seseorang merasa perlu membuktikan kehebatannya setiap saat? Atau ketika ada pertentangan antara dirinya yang sebenarnya dengan bagaimana ia ingin terlihat di hadapan orang lain?
Advertisement
Jika seseorang merasa perlu merendahkan atau mengkritik orang lain agar dirinya merasa lebih baik, hal tersebut bisa menjadi salah satu tanda superiority complex atau perasaan superior yang berlebihan.
Berikut tujuh hal yang sering dilakukan orang dengan kecenderungan tersebut.
1. Menolak Mengakui Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4270614/original/085919700_1671781014-portrait-girls-talking-spending-time-isolated-blue-wall.jpg)
Orang dengan superiority complex cenderung berusaha membuktikan bahwa orang lain yang salah, bukan dirinya. Namun, mengapa mereka bisa bersikap seperti itu?
Sederhananya, mereka mungkin sebenarnya belum merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Alih-alih menghadapi perasaan tersebut, mereka justru berusaha menampilkan versi diri yang dianggap sempurna di hadapan orang lain.
Orang yang mengalami kondisi ini bisa sangat sulit melepaskan citra diri yang selama ini mereka bangun. Mengakui kekurangan berarti harus menerima bahwa dirinya tidak sempurna.
Sayangnya, ketika seseorang terlalu terikat dengan perasaan superior, mengakui kesalahan dianggap bisa merusak citra diri yang selama ini ingin dipertahankan.
Akibatnya, mereka lebih memilih mencari alasan, menyalahkan orang lain, atau terus mempertahankan pendapat meskipun sudah jelas melakukan kesalahan.
Advertisement
2. Menuntut Perlakuan Istimewa
Orang dengan superiority complex bisa merasa bahwa dirinya berada di atas orang lain dan berhak mendapatkan apa pun yang diinginkan.
Mereka mungkin kesulitan memahami bahwa setiap orang layak mendapatkan rasa hormat yang sama. Karena merasa lebih penting, mereka juga bisa menganggap dirinya berhak memperlakukan orang lain sesuka hati demi mencapai tujuan.
Beberapa ahli mengaitkan perilaku seperti ini dengan pola pengasuhan sejak masa kanak-kanak. Dalam beberapa kasus, kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang mungkin digantikan dengan pemberian materi secara berlebihan.
Akibatnya, seseorang bisa tumbuh tanpa memahami pentingnya batasan, tanggung jawab, atau proses untuk mendapatkan sesuatu. Mereka terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan sehingga merasa perlakuan khusus merupakan sesuatu yang wajar.
3. Selalu Ingin Menentukan Bagaimana Segalanya Harus Dilakukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3436858/original/012136300_1619085156-woman-screaming-megaphone_171337-17803.jpg)
Orang dengan superiority complex sering tertarik pada posisi kepemimpinan, baik di tempat kerja maupun dalam kelompok. Posisi tersebut memberi mereka alasan untuk menunjukkan dominasi terhadap orang lain.
Menurut pakar kesehatan mental Adina Mahalli, ketika berada dalam posisi berkuasa, orang seperti ini bisa membuat orang lain takut daripada benar-benar menghormatinya.
Masalahnya, kehilangan posisi atau kendali bisa menjadi pukulan besar bagi mereka. Ketika tidak lagi bisa mengatur keadaan, mereka merasa seolah-olah kehilangan keunggulan yang selama ini dimiliki.
Harga diri mereka sangat bergantung pada kemampuan untuk memegang kendali. Karena itu, ketika kendali tersebut hilang, rasa percaya diri mereka juga bisa ikut terguncang.
Advertisement
4. Terus Membandingkan Diri untuk Mendapatkan Validasi
Karena rasa berharga dalam dirinya bergantung pada orang lain, seseorang dengan superiority complex biasanya sulit berhenti membandingkan dirinya dengan orang-orang di sekitar.
Pencapaian orang lain dapat membuat mereka merasa kalah. Bagi mereka, keberhasilan orang lain seolah menjadi bukti bahwa dirinya tidak cukup baik atau memiliki kekurangan tertentu.
Untuk mengatasi perasaan tersebut, mereka mungkin justru meremehkan pencapaian orang lain. Dengan membuat keberhasilan orang lain terlihat tidak istimewa, mereka merasa dirinya sedikit lebih baik.
Padahal, keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri seseorang. Ada cukup banyak kesempatan untuk semua orang berkembang dan mencapai kesuksesan.
Belajar ikut merasa bahagia atas pencapaian orang lain justru bisa membuat hubungan menjadi lebih sehat sekaligus membantu seseorang merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri.
5. Bisa Berubah dari Manis Menjadi Ketus dalam Sekejap
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4570833/original/042949300_1694414623-Ilustrasi_pasangan_bertengkar__cuek.jpg)
Orang dengan superiority complex sering mengalami pertentangan antara rasa tidak aman di dalam dirinya dan keinginan untuk terlihat dominan di hadapan orang lain.
Tidak mengherankan jika konflik tersebut terkadang muncul dalam bentuk perubahan suasana hati yang cukup drastis. Mereka bisa bersikap sangat ramah pada satu waktu, kemudian tiba-tiba berubah menjadi dingin atau ketus.
Masalahnya, mereka mungkin tidak menyadari bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan masalah kepercayaan diri. Mereka juga belum tentu memahami emosi yang sedang dirasakan sehingga kesulitan mengendalikannya.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan membuat seseorang semakin sulit memahami siapa dirinya yang sebenarnya.
Advertisement
6. Membuat Semua Situasi Berpusat pada Dirinya
Orang dengan superiority complex memang mudah terlihat sebagai pribadi yang terlalu mementingkan diri sendiri. Cara berpikir mereka lebih sering berpusat pada "saya" dan "saya", tanpa banyak mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap orang lain.
Mereka juga bisa mengecilkan pencapaian orang lain dengan cara mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri. Misalnya, ketika seseorang sedang bercerita tentang keberhasilannya, mereka justru menyela dan mulai membicarakan pencapaian pribadi.
Kebiasaan membanggakan diri seperti ini bisa muncul karena adanya kekhawatiran tidak disukai atau tidak dianggap penting oleh orang lain.
Dengan terus membicarakan diri sendiri, mereka berusaha mendapatkan kembali rasa berharga yang sebenarnya masih rapuh di dalam dirinya.
7. Mengecilkan Masalah yang Sedang Dihadapi Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4843926/original/068798200_1716798063-Ilustrasi_teman__konflik__bertengkar__iri.jpg)
Orang dengan superiority complex biasanya juga mengalami kesulitan menunjukkan empati. Mereka terlalu sibuk menghadapi rasa tidak aman dalam dirinya dan membangun citra tertentu di hadapan orang lain.
Akibatnya, mereka mungkin tidak memiliki cukup ruang untuk benar-benar memahami perasaan orang lain.
Kurangnya empati tersebut bisa membuat mereka terlihat dingin, tidak peduli, atau terlalu fokus pada kepentingan pribadi. Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, misalnya, mereka mungkin justru menganggap masalah tersebut berlebihan atau tidak seberapa dibandingkan masalah yang pernah mereka hadapi.
Padahal, setiap orang memiliki pengalaman dan batas kemampuan yang berbeda. Sesuatu yang terlihat kecil bagi seseorang belum tentu terasa ringan bagi orang lain.
Advertisement
Superiority Complex Tidak Selalu Berarti Seseorang Adalah Orang Jahat
Meski berbagai perilaku tersebut bisa terasa menyebalkan bagi orang lain, superiority complex tidak otomatis membuat seseorang menjadi pribadi yang buruk.
Di balik sikap merasa lebih unggul, bisa saja terdapat masalah emosional yang lebih kompleks, termasuk rasa tidak aman dan perasaan tidak cukup baik.
Superiority complex sendiri bukan diagnosis resmi sehingga tidak memiliki satu metode pengobatan khusus. Namun, bagi sebagian orang, menjalani terapi dapat membantu memahami sumber perasaan tersebut dan membangun kembali rasa percaya diri yang lebih sehat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5300825/original/063294400_1753929347-20250721_132106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523300/original/073953200_1772800710-IMG_0778.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823561/original/095238400_1714998284-Ilustrasi_diam__tenang__kalem__diri_sendiri__berpikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5149576/original/003765400_1740993364-Buah_Alpukat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1701652/original/019511800_1504680223-alpukatcov.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556100/original/075261400_1776231675-sawi_hijau.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5313708/original/016702600_1755053302-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2369571/original/039338400_1538110077-PHOTO-2018-09-28-07-32-20.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324950/original/050981800_1786780625-Gemini_Generated_Image_ma64rxma64rxma64.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323416/original/045611700_1755768001-smiling-modern-woman-with-tablet-looking-confident-student-with-her-gadget-standing-blue-backgr-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324934/original/077119100_1786779791-ChatGPT_Image_15_Agu_2026__14.41.19.jpg)