Ini Larangan dan Keutamaan Hari Tasyrik

Hari Tasyrik berlangsung tiga hari setelah Idul Adha. Umat Islam dilarang berpuasa pada hari Tasyrik dan dianjurkan untuk menikmati hidangan kurban.

Diperbarui 09 Juni 2025, 15:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yang memiliki kedudukan khusus dalam kalender Hijriah. Hari Tasyrik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Hari Tasyrik memiliki aturan dan keutamaan tersendiri. Pada hari-hari ini, umat Islam dilarang untuk berpuasa. Larangan ini memiliki alasan yang kuat dalam ajaran Islam.

Hari Tasyrik ditetapkan sebagai momen untuk memperbanyak dzikir, menikmati hidangan dari daging kurban, dan mempererat kebersamaan. Hal ini selaras dengan semangat syukur dan berbagi yang menjadi inti dari perayaan Idul Adha. Bahkan, dalam hadis Rasulullah SAW, hari Tasyrik disebut sebagai hari makan dan minum bagi umat Islam.

Dengan memahami makna dan aturan terkait hari Tasyrik, umat Islam dapat merayakannya dengan lebih bermakna dan sesuai dengan tuntunan agama. Momen ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan, mempererat tali persaudaraan, dan mensyukuri nikmat Allah SWT.

Larangan Utama di Hari Tasyrik

Larangan utama di hari Tasyrik adalah berpuasa. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang menganjurkan umat Islam untuk makan, minum, dan berdzikir pada hari-hari tersebut.

Larangan ini bertujuan agar umat Islam dapat menikmati hidangan dari daging kurban dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Hari Tasyrik merupakan bagian dari hari raya, dan berpuasa di hari raya adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Satu-satunya pengecualian adalah bagi mereka yang tidak mendapatkan hewan kurban saat menunaikan ibadah haji. Bagi mereka, diperbolehkan untuk berpuasa di hari Tasyrik sebagai pengganti.

Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW, 'Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.' (HR. An-Nasa'i no.2954).

Anjuran dan Aktivitas Positif di Hari Tasyrik

Selain larangan berpuasa, sebenarnya tidak ada larangan khusus lainnya yang disebutkan secara spesifik dalam sumber-sumber Islam terkait hari Tasyrik. Namun, fokus utama dari hari Tasyrik adalah pada syukur, berbagi, dan mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Muslim.

Oleh karena itu, segala aktivitas yang bertentangan dengan semangat tersebut, seperti tindakan yang bersifat boros, berlebihan, atau bahkan menyakiti orang lain, sebaiknya dihindari. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan positif, seperti bersedekah, mengunjungi sanak saudara, dan melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, hari Tasyrik menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas diri sebagai seorang Muslim, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Jadikan hari-hari ini sebagai kesempatan untuk meraih keberkahan dan ridha-Nya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6