Amirul Hajj Yakini Pergerakan Jemaah Haji ke Armuzna Tak Akan Semacet Tahun Sebelumnya

Total jumlah jemaah haji asing yang sudah tiba di Arab Saudi per Selasa, 27 Mei 2025, mencapai 1,18 juta, masih lebih rendah sekitar 600 ribu dari total jemaah haji pada 2024 yang mencapai 1.833.164 orang.

Diterbitkan 31 Mei 2025, 01:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jeddah - Amirul Hajj mewaspadai potensi kemacetan yang akan dihadapi selama pergerakan jemaah haji Indonesia dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) selama puncak haji 2025. Menurut laporan Saudia Gazette, 1.180.306 jemaah haji dari berbagai negara di dunia telah tiba di Arab Saudi per Selasa, 27 Mei 2025. Jumlah itu berkurang sekitar 600 ribu dari total jumlah jemaah haji dunia pada tahun lalu.

Dengan jumlah tersebut yang bergerak bersama-sama menuju satu tempat, kepadatan lalu lintas dan mobilitas manusia tak terhindarkan. Meski begitu, Ketua Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama Nasaruddin Umar meyakini manajemen lalu lintas baru yang disiapkan pemerintah Arab Saudi akan bisa mengurai masalah tersebut.

"Mudah-mudahan dalam konsep Saudi maupun estimasi kita, (jalanan) tak akan semacet tahun-tahun sebelumnya. Buktinya sekarang-sekarang ini, katanya, sekarang sudah sangat lengang. Dari Jeddah ke Makkah sangat lengang," kata Nasaruddin dalam jumpa pers di Kantor Urusan Haji Jeddah, Jumat, 30 Mei 2025.

Ia juga mendapat laporan bahwa kepadatan manusia juga menurun di Kompleks Masjidil Haram saat ini. Hal itu, kata dia, karena otoritas Arab Saudi menerapkan kartu nusuk sebagai akses utama jemaah haji untuk masuk ke masjid tempat kakbah berada itu.

"Termasuk untuk warga Arab Saudi sendiri, tidak boleh masuk untuk salat berjemaah kalau tidak mengantongi kartu nusuk. Berarti bisa terukur lah," sambungnya. Hingga Selasa, 27 Mei 2025, jumlah kartu nusuk yang telah terdistribusi ke jemaah haji Indonesia mencapai 95 persen atau 176.437 orang, baik haji reguler, maupun haji khusus. 

Pergerakan Jemaah Haji Indonesia ke Arafah

Sementara itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjadwalkan seluruh jemaah haji Indonesia akan bergerak serentak ke Arafah pada 8 Dzulhijjah 1446 H atau Rabu, 4 Juni 2025. Kepala Satuan Operasi (Kasatops) Armuzna Harun Arrasyid menerangkan pergerakan itu tidak akan berlangsung sekaligus, melainkan secara bergelombang. Jadwalnya terbagi menjadi tiga termin.

"Ini akan bergerak semua jemaah berbasis syarikah. Nanti akan bergerak dari Makkah menuju Arafah melalui tiga trip keberangkatan, mulai pukul 06.00 sampai 11.00, kemudian 11.00--16.00, dan kemudian trip ketiga pukul 16.00 sampai pukul 23.00 WAS," kata Harun dalam program Liputan6 Update, Rabu, 28 Mei 2025.

Karena pergerakan berdasarkan syarikah, jemaah haji yang sebelumnya pindah hotel tanpa berkoordinasi dengan petugas haji diminta kembali ke hotel asal. Surat edaran Nomor 101/PPIH-AS/5/2025 tentang Persiapan Pelaksanaan Puncak Ibadah Haji Armuzna yang bertanggal 26 Mei 2025 menetapkan batas waktunya adalah Sabtu, 31 Mei 2025, pukul 18.00 WAS.

Jemaah haji yang masih membandel akan menghadapi konsekuensi. "Berisiko tidak dilayani pergerakannya ke Armuzna karena tidak sesuai data syarikah dan markaz," bunyi pengumuman tersebut.

Siapkan Pos-pos Pantau

Tahun ini, Indonesia menggandeng delapan syarikah untuk melayani jemaah haji selama di Armuzna, dikenal pula sebagai layanan Masyair, yang termasuk komponen biaya haji. Dengan delapan syarikah, pergerakan jemaah haji tahun ini menjadi lebih menantang.

Salah satunya karena posisi tenda markaz yang tidak urut. Harun menerangkan bahwa perbedaan itu bisa berimbas pada jarak tenda yang tidak berdekatan.

"Kita selaku satuan operasi sudah memitigasi untuk membuat sektor-sektor adhoc untuk memudahkan nanti pemantauan jemaah di tenda-tenda tersebut. Itu yang kami rencanakan dengan satuan operasi di sini," ujarnya lagi.

Selain posisi tenda yang berjauhan, waktu mabit di Mina juga cukup lama, yakni tiga hari empat malam. Untuk itu, pihaknya membuat pos-pos pantau untuk memantau jemaah yang melaksanakan lempar jumrah di Jamarat lantai 3 dan arah kembali ke tenda.

"Kita akan buat pos, baik di sekitaran Mina, dan juga di sekitar Jamarat lantai atas," sambungnya.

Terapkan Skema Tanazul dan Murur

Mulai tahun ini, pemerintah Indonesia mengkoordinasi pelaksanaan tanazul. Skema ini memungkinkan jemaah haji dalam kondisi tertentu tidak perlu mabit di tenda Mina selama prosesi melontar jumrah di hari-hari tasyrik, melainkan menginap di hotel yang tak jauh dari Jamarat.

Skema itu akan diberlakukan pada 95 kloter dengan jumlah jemaah haji sekitar 37 ribu orang. Dengan skema tersebut, diharapkan ruang di tenda-tenda jemaah di Mina bisa lebih lapang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Insya Allah diharapkan dengan berkurangnya sekitar 30 ribu lebih jemaah yang melewati tadi, tidak lagi ikut membebani beratnya kemah-kemah itu," kata Menag

Skema tanazul memberikan kemudahan terutama pada penyandang disabilitas, lansia, atau mereka yang sakit untuk menghuni hotel di area dekat Jamarat, seperti Syisyah dan Raudhah. Meski begitu, mereka yang sehat juga diperbolehkan mengikuti skema tersebut dengan catatan hotelnya berada di area itu, khususnya sektor I dan sektor V.

Menurut Menag, jarak hotel mereka lebih dekat ke Jamarat dibandingkan bila tinggal di kemah. "Dengan tidur di hotel, tentunya lebih private, ada kamar mandinya sendiri," kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6