Kasus Pemerasan Modus VCS, Pelaku Raup Untung hingga Rp100 Juta

Polisi menangkap satu orang pelaku berinisial MD terkait pemerasan modus video call sex atau VCS. Pelaku diduga sudah menipu puluhan laki-laki dengan total keuntungan mencapai Rp 100 juta.

Diterbitkan 06 Mei 2025, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Polisi menangkap satu orang pelaku berinisial MD terkait pemerasan modus video call sex atau VCS. Pelaku diduga sudah menipu puluhan laki-laki dengan total keuntungan mencapai Rp 100 juta.

Hal itu diungkap oleh Kasubdit IV Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon berdasar pemeriksaan. Kepada polisi, MD mengaku melakukan pemerasan sejak 2024 lalu.

"Korban sementara yang kita data hampir sebagian besar laki-laki ada juga perempuan tapi sebagian kecil, mayoritas laki-laki. Karena sosok figur yang digunakan perempuan berarti otomatis yang menjadi korban laki-laki," kata Herman saat konferensi pers, Selasa (6/5/2025).

Dia mengungkapkan modusnya, pelaku membuat akun media sosial palsu menggunakan identitas perempuan menarik, lalu membuat konten vulgar di akun Bigo Live untuk memancing calon korban.

Setelah ada yang terperangkap, pelaku akan menjalin komunikasi intens lewat aplikasi Telegram. Saat itulah, pelaku mengajak korban melakukan video call. Namun, yang ditampilkan bukanlah pelaku asli, melainkan video vulgar yang diunduh dari internet.

"Nah video call ini dia menggunakan 2 handphone, yang untuk menghubungi korban yang satu untuk menampilkan video jadi seolah-olah itu real atau asli padahal itu rekaman yang diputar melalui video kepada korban. Korban kemudian diminta menunjukkan bagian tubuh pribadi, yang kemudian direkam untuk dijadikan alat pemerasan,” papar Herman.

 

Kerugian Korban Bervariasi

Selama itu, Herman menyebut, ada puluhan pria termakan jebakan pelaku. Kerugian korban bervariasi, mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah. Total keseluruhan, Rp 100 juta ditransfer para korban ke sejumlah rekening.

"Pengakuannya Rp 100 juta dan digunakan untuk kehidupan sehari-hari," ucap dia.

Kendati, banyak dari para korban yang memilih bungkam karena khawatir video intim tersebar ke keluarga atau pasangan.

"Jumlahnya belum bisa kami pastikan, jadi terdapat puluhan korban yang kami coba untuk kami hubungi namun sebagian besar tidak mau melaporkan," ujar dia.

"Jadi mereka takut informasi tersebut tersebar ke keluarga. Atau yang sudah berkeluarga takut video itu diketahui istri atau suaminya," dia menandaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6