Sukses

Spirit Kelahiran Pancasila 1 Juni 1945 Harus Dipelajari Agar Tak Multitafsir

Liputan6.com, Jakarta Agar tidak punya multitafsir, kita harus mempelajari spirit kelahiran Pancasila berdasarkan pidato  sang proklamator Soekarno atau Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.

Hal tersebut disampaikan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat berbicara di Seminar Nasional "Meneguhkan Pancasila Sebagai Falsafah Bangsa dan Dasar NKRI" yang digelar Majelis Kridatama Pancasila di Yogyakarta, Senin (4/7/2022).

"Agar penjabaran terhadap seluruh falsafah dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara itu kita tidak dikooptasi oleh kepentingan kepentingan politik tertentu. Maka mau tak mau kita kita mempelajari spirit kelahiran Pancasila 1 Juni," kata dia.

Hasto yang juga Pembina Majelis Kridatama Pancasila menjadi pembicara kunci bersama Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi. Ketua Umum Majelis Kridatama Hanief S. Ghafur dan Wakil Kepala BPIP Dr. Karjono pun ikut menjadi pembicara.

Dia pun menyoroti bagaimana sekarang sesama anak bangsa mudah saling berantem dan mencela. Ini kemunduran dari spirit kebangsaan karena dulu Indonesia telah outward looking, melihat keluar dan tidak hanya jago kandang.

"Dalam situasi keterbatasan sumber daya saat itu, Indonesia bisa menggelar Konferensi Asia Afrika. Kemana spirit itu sekarang? Tugas kita sekarang memiliki kemauan melihat keluar. Agar kita tidak menjadi bangsa yang berpikiran sempit," harap Hasto.

 

2 dari 3 halaman

Menjaga Persatuan

Sementara itu, Yudian mengawali paparannya mengenai munculnya Salam Pancasila yang dipopulerkan oleh BPIP.

Pada intinya, BPIP ingin memperkenalkan salam yang dibutuhkan dalam menjaga persatuan Indonesia tanpa mengganggu akidah.

Lalu, Yudian menyoroti bagaimana prestasi bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno, di awal masa kemerdekaan, sebagai sebuah negara baru.

"Bangsa kita ini bangsa terbaik di muka bumi dalam konteks pembangunan negara baru. Bikin negara baru yang terbaik di muka bumi adalah bangsa Indonesia," kata dia.

Yudian mengatakan Soekarno mampu mengelola perbedaan yang terjadi di dalam negeri dan kemudian membawa Indonesia tampil di pentas internasional.

"Jadi Bung Karno itu, pada zamannya, merupakan tokoh ketiga dari tiga tokoh dunia. Yang pertama Presiden Amerika Serikat, kedua Presiden Uni Soviet, dan ketika Presiden Republik Indonesia," tandas Yudian.

 

3 dari 3 halaman

Terjadi Disrupsi

Ketua Umum Majelis Kridatama Pancasila, Hanief S.Ghafur menyatakan, bahwa selama 23 tahun terakhir, terjadi disrupsi terhadap nilai Pancasila. Dan menurutnya, kehampaan Pancasila itu sangat berbahaya. Sebab bisa saja virus dari luar menjangkiti bangsa Indonesia.

Maka ke depan, menurut dia, kondisi disrupsi ini harus diatasi dengan memasyarakatkan Pancasila kepada seluruh anak bangsa dari segala lapisan.

“Bangsa ini harus sukses menyekolahkan seluruh anak bangsa di sekolah Pancasila, harus ada stempel aktif untuk sekolah mengenai Pancasila. Dan mudah-mudahan kehampaan dan kekosongan nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya, bisa diisi di masa mendatang,” kata Hanief.