Sukses

4 Fakta Terkait Polemik Penyelenggaraan Musda DPD Partai Demokrat Riau

Liputan6.com, Jakarta - Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Provinsi Riau yang digelar pada 30 November 2021 di SKA Co-Ex, Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru menuai polemik.

Akibatnya, Ketua DPD Demokrat Riau Asri Auzar memutuskan keluar dari Demokrat. Dirinya menganggap jabatannya diambil paksa lewat Musda.

Namun hal tersebut dibantah Ketua Partai Demokrat DPC Meranti, Provinsi Riau Muzamil yang mewakili 12 DPC se-Riau. Dia menyatakan Musda Riau sudah sesuai aturan yang ada.

"Menanggapi dinamika musda kelima Demokrat, saya dan kawan-kawan mewakili DPC Riau bahwa tidak terpilihnya Bapak Asri Auzar bukan karena dizalimi," kata Muzamil lewat keterangan video, Rabu 1 Desember 2021.

Tak terima, sejumlah kader Partai Demokrat di Riau membakar atribut partai, mulai dari bendera, baju, hingga jas.

Aksi yang dilakukan di depan Kantor DPD Demokrat di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru itu digelar sebagai protes pelaksanaan Musda.

Berikut 4 fakta terkait polemik Musda DPD Partai Demokrat Provinsi Riau dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 6 halaman

1. Sebut Sesuai Konstitusional dan Sesuai AD/ART

Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Provinsi Riau menuai polemik. Bahkan, Ketua DPD Demokrat Riau Asri Auzar memutuskan keluar dari Demokrat, karena menganggap jabatannya diambil paksa lewat Musda.

Menggapi hal tersebut, Ketua Partai Demokrat DPC Meranti, Provinsi Riau Muzamil yang mewakili 12 DPC se-Riau menyatakan, Musda Riau sudah sesuai aturan yang ada.

"Menanggapi dinamika musda kelima Demokrat, saya dan kawan-kawan mewakili DPC Riau bahwa tidak terpilihnya Bapak Asri Auzar bukan karena dizalimi," kata Muzamil lewat keterangan video, Rabu 1 Desember 2021.

"Proses Musda Riau hari ini konstitusional dan sesuai aturan partai, AD/ART partai. Percepatan Musda itu kehendak seluruh pemilik suara," imbuh dia.

 

3 dari 6 halaman

2. Anggap Hal Wajar Ada Kekecewaan

Menurut Muzamil, apabila ada kekecewaan dari hasil Musda, hal itu adalah hal yang wajar dan dinamika dalam parpol.

"Itu adalah dinamika biasa. Ada yang kecewa ada yang terpilih, tidak terpilih dan itu manusiawi, lumrah dalam kita berpartai," kata dia.

 

4 dari 6 halaman

3. Hak Setiap Kader Untuk Mundur

Sementara terkait adanya kader yang mundur, Muzamil menyebut hal itu adalah hak tiap kader.

"Kami belum bisa menjelaskan, belum bisa klarifikasi, tapi kalau ada yang merasa tidak lagi mau bergabung dengan partai itu kan hak demokrasi," ucapnya.

"Musda ini untuk menghadapi Pemilu 2024, perlu kita segera konsolidasi tingkat daerah. Musda Riau bukan yang pertama, seluruh Indonesia sudah lakukan Musda ada 22 sudah," pungkas dia.

 

5 dari 6 halaman

4. Sejumlah Kader Demokrat di Pekanbaru Bakar Atribut Partai

Sejumlah kader Partai Demokrat di Riau membakar atribut partai, mulai dari bendera, baju, hingga jas. Aksi di depan Kantor DPD Demokrat di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru ini, sebagai protes pelaksanaan musyawarah daerah (Musda).

Puluhan kader juga membakar kartu anggota Partai Demokrat. Aksi ini dilakukan secara bergantian dan disaksikan oleh Ketua DPD Demokrat Riau periode 2017-2022 Asri Auzar.

Sejatinya, Asri selesai menjabat pada pertengahan tahun depan. Namun Musda dipercepat sehingga posisi Asri terdongkel dan digantikan oleh Agung Nugroho yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPC Demokrat Pekanbaru.

Agung Nugroho terpilih secara aklamasi di Musda yang diselenggarakan di SKA Co-Ex, Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru pada 30 November 2021. Dia terpilih secara aklamasi setelah menjadi calon tunggal.

Usai membakar atribut partai, Asri Auzar menyatakan mundur dari partai berlambang mercy itu. Dia menyatakan Musda yang memilih Agung Nugroho sebagai ketua tidak sesuai dengan AD/ART Partai.

6 dari 6 halaman

Saling Sindir PDIP Vs Demokrat Bandingkan Kinerja Presiden