Sukses

2 Jebolan ITB Tawarkan Solusi Atasi Paceklik Industri Tani di Ajang Wirausaha Singapura

Liputan6.com, Jakarta Neurafarm, salah satu social entrepreneurship yang didirikan dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah beradu ide dalam ajang internasional di Singapura, Young Social Entrepreneurs (YSE) besutan Singapore International Foundation atau SIF.

"Neurafarm didirikan karena keresahan karena inefisiensi sistem pangan saat ini," ujar kedua pendiri Neurafarm, Febi dan Lintang dalam sesi wawancara daring oleh SIF, dalam siaran pers diterima, Selasa (8/12/2020).

Menurut Febi dan Lintang, Indonesia merupakan negara agraris, tapi sampai saat ini, belum mampu memenuhi kebutuhan pangan. Padahal jumlah penduduk semakin banyak, lahan semakin menurun, dan celakanya jumlah profesi petani juga ikut menurun. 

"Artinya Indonesia akan memiliki tantangan yang akan semakin berat, dan kami percaya bahwa inovasi dan teknologi bisa menjawab tantangan-tantangan ketahanan pangan," jawab Febi mewakili.

Lintang menambahkan, dalam perkembangannya, setelah mengalami evolusi produk, Neurafarm meluncurkan Dr. Tania di tahun 2018. Produk anyar itu diharapkan bisa menjadi sahabat bagi indusri pertanian Indonesia.

"Dr. Tania telah digunakan di lebih dari 200 kota di Indonesia. Kami telah melakukan beberapa pilots di Cimenyan dan Lembang, Bandung," terang lulusan Agriculture Engineering ITB ini.

Lintang merinci, Neurafarm telah membantu lebih dari 10.000 petani melalui platform Dr. Tania. Neurafarm juga membentuk Komunitas Petani Digital yang sejak Maret 2020 dan membuat kerja petani lebih efisien saat terkoneksi internet.

"Piloting kami lakukan di Cimenyan dan Lembang pada 2019 dan 2020, intervensi tim Neurafarm dilakukan terhadap petani bisa meningkatkan pemahaman petani untuk menggunakan resources lebih baik (pupuk, pestisida)," imbuh Febri.

 

2 dari 3 halaman

Bikin Kerja Petani Lebih Produktif

Neurafarm mencatat, apa yang telah dikerjakannya bisa mengurangi cost penggunaan bahan-bahan kimia sebesar 70% dan bisa mengurangi resiko kegagalan panen akibat hama & penyakit tanaman hingga 49%. 

"Bayangkan apa yang bisa kita capai jika kita bisa meningkatkan pengetahuan petani secara masif, dan juga membantu mereka menggunakan teknologi terbaru yang bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi," yakin Febi dan Lintang menandasi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: