Sukses

Top 3 News: Hujan Lebat 4 Jam Picu Banjir Bandang Sukabumi dan Bogor

Liputan6.com, Jakarta Top 3 News hari ini, penyebab banjir bandang yang menerjang Kabupaten Sukabumi dan Bogor, pada Senin, 21 September kemarin akibat intensitas hujan tinggi selama 4 jam di kedua wilayah tersebut.

Menurut Deputi Bidang Meteorologi Guswanto, hujan lebat tersebut terjadi akibat kondisi atmosfer yang labil hingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar Jawa Barat.

Derasnya hujan yang turun membuat debit Sungai Ciliwung meningkat drastis hingga akhirnya meluap dan menyebabkan banjir bandang.

Sementara itu, banjir bandang yang terjadi di Sukabumi mengakibatkan jebolnya embung di lereng Gunung Salak. Embung diperkirakan tak kuat menahan debit air tinggi akibat hujan turun dengan intensitas lebat.

Jebolnya embung di Gunung Salak mengakibatkan tiga kecamatan, yakni Kecamatan Cidahu, Cicurug, dan Parungkuda diterjang banjir bandang hingga menyebabkan dua orang meninggal dunia. Kini 1.210 orang tengah mengungsi karena tiga ratusan lebih rumah warga rusak parah. 

Berita terpopuler lainnya terkait perkembangan kasus mutilasi yang ditemukan di Apartemen Kalibata City. 

Kepada polisi, LAS dan DAF mengaku tega melalukan pembunuhan tersebut lantaran didorong kebutuhan ekonomi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan, LAS bahkan sempat tidak makan beberapa hari karena tidak ada pemasukan.

Berikut deretan berita terpopuler di kanal News Liputan6.com, sepanjang Selasa, 22 September 2020:

2 dari 5 halaman

1. BMKG Ungkap Penyebab Banjir Bandang di Sukabumi dan Kabupaten Bogor

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto menyampaikan penyebab banjir bandang itu adalah hujan dengan intensitas tinggi. Hujan dengan intensitas 110 mm terjadi dalam periode 4 jam di wilayah tersebut.

"Kami amati di Citeko hujan menguyur dari pukul 15.00 sampai 19.00 WIB," kata Guswanto salam keterangan tertulis BMKG, Selasa (22/9/2020).

Guswanto menerangkan, hujan lebat ini dipicu oleh kondisi atmosfer yang labil dan diperkuat dengan adanya fenomena gelombang Rossby ekuatorial serta adanya daerah pertemuan angin (konvergensi). 

Kombinasi dari ketiga fenomena atmosfer ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar Jawa Barat.

Potensi hujan lebat yang terjadi pada siang dan sore di wilayah Bogor tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan potensi luapan air di sekitar daerah aliran sungai Ciliwung hingga akhirnya terjadi banjir bandang.

 

Selengkapnya...

3 dari 5 halaman

2. Wakil Bupati Sukabumi: Banjir Bandang Akibat Embung di Lereng Gunung Salak Jebol

Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono menyebut banjir bandang di Sukabumi, Jawa Barat pada Senin, 21 September dipicu jebolnya embung di lereng Gunung Salak.

"Karena hujan deras dan disana ada embung kemudian jebol," kata Adjo ditemui di lokasi bencana, Selasa (22/9/2020).

Berdasarkan laporan yang dia terima, kondisi curah hujan sangat tinggi membuat embung jebol lantaran tidak dapat menampung debit air yang sangat tinggi. Akibatnya, air meluap dan terjadi banjir bandang.

Dampaknya, air bercampur lumpur, batu dan batang pohon menerjang kawasan pemukiman di tiga kecamatan yakni Kecamatan Cidahu, Cicurug, dan Parungkuda.

Akibat bencana alam ini, 311 bangunan rusak, kurang lebih 299 Kepala Keluarga (KK) atau 1.210 jiwa mengungsi. Sementara 20 orang mengalami luka-luka.

 

Selengkapnya...

4 dari 5 halaman

3. Polisi: Pemutilasi di Kalilbata City Sempat Tidak Makan Beberapa Hari

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, tersangka pembunuhan disertai mutilasi di apartemen Kalibata City, LAS dan DAF, tega melalukan aksinya lantaran didorong kebutuhan ekonomi. LAS, bahkan kata Yusri sempat tidak makan beberapa hari karena tidak ada pemasukan.

"LAS sempat mengajar les untuk mahasiswa suatu perguruan. Dia ahli dalam Kimia. Kemudian dia mengakui juga sudah beberapa hari tidak makan sehingga timbul niat untuk pemerasan," beber Yusri di Jakarta, Senin (21/9/2020).

Yusri mengungkap, kedua tersangka pasangan kumpul kebo ini memang sudah tinggal bareng satu kos. Hal itu lantaran DAF yang sudah memiliki seorang istri sempat pisah.

"Mereka tinggal sama-sama dalam satu kos. Karena DAF ini sebenarnya sudah memiliki keluarga tetapi sempat pecah dengan kehadiran LAS ini. Mereka tinggal dalam kos. Terdesak ekonomi untuk membayar kos dan kehidupan sehari-hari. Karena yang bekerja itu adalah LAS sebenarnya," beber Yusri.

 

Selengkapnya...

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: