Sukses

Pesan Keberagaman di Balik Atraksi Tatung dan Cap Go Meh

Liputan6.com, Jakarta - Cap Go Meh atau hari kelima belas Tahun Baru Imlek adalah perayaan penting etnis Tionghoa, termasuk di Indonesia. Namun, perayaan Cap Go Meh di Singkawang, agak berbeda dengan di China--negeri leluhur etnis Tionghoa.

Penduduk kota di Kalimantan Barat, itu kurang afdal tanpa adanya atraksi tatung. Warga etnis Tionghoa di Singkawang, meyakini tatung sebagai tokoh yang menjadi medium arwah para ksatria Negeri Tiongkok.

Tatung adalah sebuah tradisi menusuk benda tajam ke tubuh, mirip debus di Banten. Akulturasi atau percampuran budaya Tionghoa dan lokal di Singkawang pun sangat kental terasa.

"Setiap tahun ada lebih dari 500 tatung berparade sambil memamerkan kesaktiannya. Tatung merupakan sosok manusia yang menurut beberapa kepercayaan sedang dirasuki roh dewa," tulis akun resmi Kementerian Pariwisata di Twitter, @Kemenpar_RI, Selasa, 19 Februari 2019.

Dalam dua tahun terakhir, Festival Cap Go Meh di Singkawang, bahkan kian semarak dengan kehadiran ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Para pelancong ini terutama ingin menyaksikan atraksi seribu lebih tatung.

Sebelum tampil, para tatung menjalani ritual cuci jalan. Salah satu tatung, Susi Susanti (28), mengatakan ritual ini bertujuan mengusir atau membersihkan segala bala dan roh jahat yang ada di seluruh kota.

Kala itu, wanita yang sudah belasan tahun ikut dalam perhelatan Cap Go Meh ini turun bersama delapan rombongan dari Pekong Jalan Tani Gang Bersama.

"Kita ada delapan rombongan yang terdiri atas enam tatung pakai tandu dan dua tatung jalan kaki," ucapnya, dilansir Antara, beberapa waktu lalu.

2 dari 6 halaman

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia

Seperti dalam beberapa tahun terakhir, Cap Go Meh atau puncak perayaan Imlek tahun 2019 atau 2570 yang merupakan shio Babi Tanah, juga dihelat di beberapa wilayah Indonesia. Terutama, wilayah dengan populasi besar etnis Tionghoa.

Sebut saja bilangan Glodok di Jakarta Barat, Jalan Suryakencana di Bogor, Jawa Barat, Singkawang dan Pontianak di Kalimantan Barat. Serta, pecinan di Manado, Sulawesi Utara dan Pulau Kemaro di Palembang, Sumatera Selatan.

Berdasarkan data yang dihimpun Liputan6.com, pada umumnya di negara besar seperti Tiongkok dan Taiwan, Cap Go Meh adalah ajang perjamuan besar. Pesta dan pawai digelar di jalanan dari pagi hingga malam.

Cap Go Meh adalah lafal dialek Tio Ciu dan Hokkian, artinya malam 15. Sedangkan lafal dialek Hakka adalah Cang Njiat Pan, artinya pertengahan bulan satu. Di daratan Tiongkok dinamakan Yuan Xio Jie dalam bahasa Mandarin yang berarti festival tanggal 15 bulan satu Kalender Tionghoa.

3 dari 6 halaman

Asal Muasal Cap Go Meh

Banyak versi yang menyebutkan asal muasal perayaan Cap Go Meh. Salah satu versi menyebutkan Dinasti Zhou (770-256 Sebelum Masehi) yang diyakini mengawali perayaan Cap Go Meh setiap tanggal 15 malam bulan satu Imlek.

Selama puluhan abad, kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun-menurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan etnis Tionghoa di seluruh dunia.

Sementara di negara-negara Barat, Cap Go Meh dianggap sebagai pesta karnaval etnis Tionghoa.

Dan sejatinya, sejarah Cap Go Meh di Nusantara--nama lama Indonesia--dimulai sejak abad XIV. Ketika itu terjadi migrasi besar dari daratan Tiongkok Selatan.

Berdagang menjadi alasan mereka singgah di Nusantara. Mereka pun mulai menetap dan menjadi warga Nusantara. Tradisi Tionghoa mulai dikenal, Imlek dan puncak rangkaiannya, Cap Go Meh, satu di antaranya.

4 dari 6 halaman

Pasang Surut Perayaan

Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (nama Jakarta saat masa kolonial) pada 1619, warga etnis Tionghoa sudah bermukim di sebelah timur muara Kali Ciliwung. Tapi, sewaktu Belanda membangun loji di tempat itu mereka pun diusir.

Barulah setelah terjadinya pembantaian orang Tiongkok di Batavia pada 9 Oktober 1740, etnis Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok. Tak jauh dari Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah). Pemindahan ini agar mereka mudah diawasi.

Setelah itu perayaan Imlek dan Cap Go Meh tetap berlangsung. Di Buitenzorg (nama lama Bogor saat zaman kolonial Belanda), misalnya. Dalam rentang tahun 1800-1930, sejak komunitas Tionghoa Buitenzorg memiliki klenteng Hok Tek Bio, perayaan Cap Go Meh mulai digelar.

Bahkan, sekitar tahun 1930, arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge diizinkan masuk ke Istana Gubernur Jenderal Belanda--kini Istana Bogor.

Namun, saat masa pendudukan Jepang di Indonesia, kemeriahan perayaan Imlek dan Cap Go Meh hampir tak terdengar gaungnya. Apalagi, saat itu bangsa Indonesia mengalami banyak penderitaan. Banyak orang di Indonesia bahkan dijadikan romusa untuk menjalani kerja paksa.

Memasuki zaman kemerdekaan, terutama saat pemerintah Orde Lama berkuasa, Imlek sempat dirayakan secara meriah. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1946 tentang Hari Raya Kaum Tionghoa sebagai bukti.

Pada 1954, Cap Go Meh bahkan bisa masuk ke Istana Bogor dan memeriahkan acara di area tersebut. Padahal, Cap Go Meh bisanya hanya digelar di kawasan Jalan Suryakencana. Namun, atas undangan Presiden Sukarno, Cap Go Meh menjelma menjadi ajang yang dapat dibanggakan warga Bogor.

Saat itu, arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge memukau Bung Karno beserta tamu negara yang berada di Istana Bogor. Sayangnya, pada 1962, Presiden Sukarno justru melarang perayaan Cap Go Meh di kawasan Glodok, Jakarta.

Sewaktu Presiden Soeharto berkuasa, pergerakan kaum Tionghoa dibatasi. Hal itu tersurat dalam Inpres Nomor 14 Tahun 1967, upacara agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dalam ruangan tertutup.

5 dari 6 halaman

Pesan Penting Keberagaman

Tiga dekade berlalu. Pada Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Bahkan, setahun kemudian, ia menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Hanya terbatas bagi kaum Tionghoa.

Selanjutnya pada 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Pengumuman ini dibacakan saat Megawati menghadiri puncak perayaan Imlek atau Cap Go Meh.

Sementara pada 26 Desember 2004, Aceh diguncang gempa dan tsunami. Ratusan ribu warga Aceh turut menjadi korban. Dua bulan pascatsunami, perayaan Cap Go Meh ditiadakan. Seiring dengan itu, bantuan sosial dari etnis Tionghoa digalang dan mengalir ke Aceh.

Setelah itu perayaan Cap Go Meh terus berlangsung hingga saat ini. Dengan tema akulturasi budaya dan Bhinneka Tunggal Ika, berbagai festival Cap Go Meh pun digelar di berbagai wilayah di Tanah Air. Maraknya festival Cap Go Meh bahkan turut mendorong sektor pariwisata di Indonesia.

Pada 2016, Karnaval Cap Go Meh dalam rangka merayakan Tahun Baru Imlek digelar di Lindeteves Trade Centre, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta.

Perayaan di pecinan Glodok kali ini mempunyai makna tersendiri. Sebab, Cap Go Meh baru dirayakan kembali setelah sempat berhenti 54 tahun.

Boleh dibilang, saat ini, Karnaval Cap Go Meh tak sekadar budaya Tionghoa yang dimiliki secara turun-temurun. Tapi, terdapat pesan penting kebinekaan, persaudaraan, dan keberagaman.

6 dari 6 halaman

Simak Video Pilihan