Sudah 32 tahun Eko menjalani kehidupan sebagai penjual air bersih. Lelaki tersebut tidaklah asing bagi banyak warga Ancol. Dengan mendorong gerobak, ia rajin menyusuri jalan-jalan sempit untuk menawarkan air. Bahagia pun selalu terpancar dari raut wajah Eko bila berpapasan dengan para warga yang mengenalnya.
Para penjaga warung adalah pelanggan setia Eko. Mereka kerap membeli air bersih jualan Eko seharga Rp 1.500 per dua jeriken. Tanpa terasa waktu terus berputar, kini Eko berumur lebih dari setengah abad. Namun ia masih terlihat gagah dan kuat untuk berjualan air. Dia pun masih sanggup berkeliling mendorong gerobak airnya sampai delapan kali sehari.
Dengan berjualan air bersih itulah Eko berhasil membiayai anak kandungnya yang berjumlah tiga orang, bersekolah sampai lulus perguruan tinggi. Penghasilan Rp 70 ribu sehari dari berjualan air, ditambah Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per hari dari jerih payah mengojek sepeda menjadi segenggam asa Eko buat membiayai keluarganya.
Advertisement
Semangat hidup Eko memang sungguh luar biasa. Eko seolah membuktikan bahwa selagi manusia mau berusaha, maka tak ada yang tidak mungkin dalam mewujudkan cita-cita dan harapan. Betapa tidak. Eko bersama sang istri, Suwarsih, bisa melihat ketiga anaknya meraih cita-citanya. Semuanya berhasil menggondol gelar sarjana. Anak pertama, Siti Indriat atau Iin, menyelesaikan kuliah di Universitas Sebelas Maret di Solo, Jawa Tengah. Putri kedua, Sumi Arsih, juga menuntaskan kuliah di ASMI Yogyakarta. Sedangkan anak laki-lakinya atau si bungsu, Lilik Trijoko, kuliah di Universitas Trisakti, Jakarta Barat.
"Berlayar jangan takut ombak," ucap Eko, menerangkan prinsip utamanya menjalani kehidupan. Selain berjualan air, ia pun menyempatkan diri mengojek sepeda. Itu semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, termasuk menyekolahkan ketiga anaknya. Tak hanya bekerja keras, Eko pun rajin menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan yang didapatnya. Tabungan itu dia simpan di lemari. "Saya sama istri sampai tidak beli baju untuk Lebaran," ungkap Eko Parsim yang hadir bersama sang istri dalam acara Bayu di Pagi di Studio Liputan 6 SCTV, Kamis (4/1).
Eko menuturkan, setelah terkumpul, uang tabungan itu dibelikan seekor sapi. Terutama saat Eko pulang ke kampungnya. "Setiap tahun beli sapi. Kalau 12 tahun berarti ada 12 sapi," tutur Eko dengan rendah hati. Namun seluruh sapi itu sudah habis dijual demi biaya kuliah ketiga anaknya. "Setiap anak sekolah, jual sapi. Sekarang habis," ungkap pria tersebut.
Walau demikian, Eko mengaku sempat cemas saat anak pertamanya menuntut ilmu di Solo. Dia takut sang anak gagal. Maklum, tak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan. Ternyata kekhawatiran Eko tak terbukti. Sang anak justru lulus kuliah dengan cepat, yaitu tiga setengah tahun. Eko pun membuka rahasia suksesnya. Antara lain tidak memanjakan anak-anaknya. Bahkan, ia tak pernah sekalipun menengok anaknya. Eko dan istrinya cuma hadir ketika anaknya diwisuda. Dan ketika mendapat kabar bahwa konsentrasi anaknya terganggu, ia senantiasa mengingatkan suatu pesan. "Pesan saya, mau kawin atau kuliah," ujar Eko.
Sukses Eko dalam menyekolahkan ketiga anaknya hingga perguruan tinggi juga tak lepas dari dukungan keluarganya. Hingga akhirnya jerih payah Eko membuahkan hasil yang baik. Bentuk dukungan itu antara lain ditunjukkan Suwarsih, sang istri, dengan membuka warung nasi kecil-kecilan.
Di sebuah sudut perkampungan di Ancol, kehidupan keluarga pasangan Eko Parsim dan Suwarsih yang bersahaja mengalir. Di rumah yang sederhana, Suwarsih membuka usaha warung nasi kecil-kecilan. Di warung itulah semangat dan harapan keluarga Eko menyala. Warung nasi yang sekaligus merupakan tempat tinggal keluarga Eko. Kini, pasangan suami istri tersebut hanya ditemani dua anaknya, Sumi dan Lilik Trijoko. Adapun seorang anaknya, Siti Diarty, telah menjadi guru sekolah menengah atas di Bengkulu, ikut suaminya.
Boleh dibilang, Suwarsih paling banyak berperan menangani warung kecil ini. Sejak pagi hingga menjelang siang, perempuan berusia 48 tahun ini selalu sibuk memasak untuk warung nasinya. Kedai kecil ini antara lain menjual nasi bungkus dan es sirop. Pembelinya rata-rata buruh pabrik karena lokasi warungnya memang tak jauh dari kawasan pabrik.
Dengan membuka kedai makanan itulah, Suwarsih menambah penghasilan sang suami. Walau keuntungan yang diraih hanya Rp 20 ribu per hari, perempuan ini tetap bangga karena bisa membantu dan mendukung suami tercinta. Ternyata semangat Suwarsih didorong oleh pengalaman masa lalunya. "Waktu kecil saya disekolahkan oleh orang tua hanya sampai SR (Sekolah Rakyat)," ungkap Suwarsih.
Lebih rinci Suwarsih mengungkapkan, dirinya dikenal sebagai murid yang pandai. Sayangnya, orang tuanya tak mau membayar uang gedung sekolah. Padahal, itulah syarat agar Suwarsih diterima di sekolah yang jenjangnya lebih tinggi. "Ingin sekolah terus, orang tua saya tidak mau membiayai," kata Suwarsih, mengisahkan hambatan yang sempat dialaminya.
Suwarsih yang saat itu masih duduk di bangku kelas lima jelas kecewa. Kendala itulah yang mendorong dirinya berniat kelak menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Tekad itu benar-benar dijalani Suwarsih saat anak-anaknya hendak melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi.
Berbagai aral terkadang menghadang, namun Suwarsih bersama sang suami tak mengenal kata menyerah. Tak jarang, uang sekolah sang anak telat dibayar. Untuk itu ia tak segan-segan mencari pinjaman. Tak hanya itu. Kiriman wesel untuk biaya anaknya yang bersekolah di daerah sering terlambat datang hingga seminggu.
Nah, gara-gara keterlambatan kiriman uang itulah sang anak sempat diskors. Namun, Suwarsih tak putus asa. Dia kemudian mendatangi pimpinan sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Wanita ini pun menjelaskan hambatan yang dialaminya dan meminta keringanan dalam hal waktu pembayaran. "Yang penting saya tanggung jawab. Saya bayarnya tidak seperti biasanya. Ada uang saya langsung bayarkan," ujar Suwarsih.
Perjuangan Suwarsih dan Eko Parsim untuk menyekolahkan ketiga anaknya hingga ke jenjang yang tinggi memang luar biasa. Anak-anaknya jelas bangga. "Saya salut dan bangga dengan ibu dan bapak saya, di mana memperhatikan pendidikan anak-anaknya," ucap Sumi. Menurut Sumi, kebanggaan itu kian bertambah mengingat warga di kampung orang tuanya belum ada yang menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. "Belum bisa membalas apa yang telah diberikan oleh orang tua. Mudah-mudahan Tuhan yang bisa membalasnya," kata Iin, putri yang lain dan kini tinggal di Bengkulu.
Begitulah sukses keluarga pasangan Eko dan Suwarsih. Potret sebuah ketabahan dan kegigihan di tengah kehidupan yang memang tak mudah, terutama di Ibu Kota.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
Komentar dan Saran: bayu.liputan6@sctv.co.id
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3835760/original/050425800_1640739830-IMG-20211228-WA0174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344257/original/055252700_1757482470-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_11.23.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287416/original/074940600_1783225116-cek_fakta_sandiaga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/471470/original/040107abayu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869224/original/026288600_1782930974-ko8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288050/original/077739700_1783289115-000_B9BX7KA-Haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288049/original/011271500_1783288749-000_B9BX29C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869225/original/041971000_1782930974-ko9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257144/original/052940400_1781226984-javier-aguirre.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258343/original/056341300_1781336647-063_2281311201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287245/original/018106300_1783200103-ma8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287948/original/075704800_1783254081-AP26185782516118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287278/original/006462200_1783206952-pra7.jpg)