Nostalgia Saigon hingga Pesona Gaun bak Taman Surga Melantai di Runway JFW 2027

SEA Fashion Parade JFW 2027 menampilkan eksplorasi setelan klasik dari Vietnam, gaun floral dramatis dari Kamboja, dan kriya Peranakan dari Malaysia.

Diterbitkan 02 November 2026, 12:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - SEA Fashion Parade kembali membawa keberagaman mode Asia Tenggara ke panggung Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Setelah mengeksplorasi tema laut, denim, dan siluet feminin pada peragaan sebelumnya, kali ini runway menampilkan ragam interpretasi baru.

Peragaan yang berlangsung pada Minggu malam, 1 November 2026, tersebut menampilkan setelan klasik, busana bervolume terinspirasi alam, hingga kreasi pesta dengan sentuhan kriya. Sejumlah desainer dari Malaysia, Kamboja, dan Vietnam turut meramaikan panggung.

Label asal Vietnam, THAT, menandai debut di JFW 2027 dengan koleksi bertajuk "A Suit, Rewritten" untuk lini Spring/Summer 2027. Terinspirasi dari kehidupan Saigon pada era 1960-an, rancangan ini mengangkat perpaduan teknik penjahitan bergaya Barat dengan dinamika kehidupan urban Vietnam.

Lewat koleksi ini, THAT menghadirkan wajah baru setelan klasik. Teknik tailoring tetap menjadi fondasi desain. Namun, siluetnya dibuat lebih ringan dengan potongan longgar dan struktur yang mengikuti bentuk tubuh. Palet krem, beige, dan camel mendominasi koleksi, memperkuat karakter minimalis yang diusung.

Eksplorasi desain juga terlihat pada busana perempuan. Kemeja putih dengan saku lebar dan lengan tergulung tampil bersama bodis hitam tanpa tali berbahan mengilap. Padanan bawahan berpotongan lebar memberikan kesan lebih dinamis.

Perhatian terhadap detail menjadi bagian penting dari koleksi ini. THAT menghadirkan jahitan terbuka, tepian kain mentah, dan konstruksi bagian dalam yang sengaja diperlihatkan. Setiap elemen dirancang untuk mengekspos keterampilan tangan, teknik pengerjaan, dan karakter material.

Imajinasi Taman Eden

Desainer asal Kamboja, Natacha Van, menghadirkan "Echoes of Eden" yang terinspirasi dari alam purba dan vegetasi liar. Ia mengeksplorasi organza transparan, ruffle bertingkat, serta aplikasi bunga tiga dimensi untuk menciptakan siluet dramatis dengan kesan ringan.

Pengerjaan tangan menjadi elemen penting melalui manipulasi tekstil yang menghasilkan volume dan tekstur. Eksplorasi tersebut terlihat pada gaun kuning pastel dengan lipit halus dan hiasan bunga.

Ada pula gaun kuning keemasan dengan aplikasi mawar organza di bahu, pinggang, dan rok. Sementara itu, gaun merah strapless dengan sulaman manik dan tumpukan ruffle tulle menghadirkan tampilan lebih dramatis.

Nuansa taman mitologis turut diperkuat melalui tata panggung bergambar pepohonan rimbun dan satwa. Natacha memadukan keindahan alam dengan feminitas modern yang ekspresif.

Kemewahan Kriya Peranakan

Rumah mode Malaysia, Rizman Ruzaini, menampilkan pengembangan koleksi Fall/Winter 2026 bertajuk "Lemari Nyonya." Terinspirasi dari budaya Peranakan di Melaka, rancangan ini memadukan warisan budaya dengan siluet busana pesta dan detail manik-manik yang menjadi ciri khas label tersebut.

Pengerjaan beadwork melibatkan para perajin di studio Kuala Lumpur dengan teknik yang mengutamakan ketelitian. Salah satu tampilannya berupa setelan chartreuse bertabur kristal dan payet, lengkap dengan panel bermotif bunga di bagian pinggul. Ada pula gaun gading dengan sulaman floral pastel dan rok tulle berlapis.

Nuansa glamor semakin terasa melalui gaun bola berwarna champagne. Bodis strapless berhias manik dan kristal berpadu dengan rok tulle mengembang hingga menyapu lantai. Siluet tersebut menghadirkan karakter busana pesta yang megah dan feminin.

Peluang Kolaborasi Mode Asia Tenggara

SEA Fashion Parade menjadi salah satu upaya memperkuat hubungan industri mode di Asia Tenggara. Program yang diinisiasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini menghadirkan ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kreativitas kawasan. Ajang ini juga membuka peluang pertukaran gagasan serta kolaborasi lintas negara.

Chairwoman Jakarta Fashion Week, Svida Alisjahbana, menilai Asia Tenggara memiliki potensi kreatif yang besar. Menurutnya, peluang kolaborasi dapat memperkuat posisi industri mode kawasan.

"Asia Tenggara memiliki suara kreatif yang kuat, dan kita dapat memperkuatnya dengan menciptakan lebih banyak kesempatan satu sama lain," katanya di Jakarta, Minggu, 1 November 2026.

Selain mempertemukan desainer, JFW juga mendorong perluasan peluang bisnis bagi pelaku mode. Upaya ini dilakukan melalui program pertukaran, jaringan ritel, serta platform yang mempertemukan desainer dengan pembeli dan pelanggan. Dengan begitu, karya kreatif memiliki akses untuk menjangkau pasar baru.