JFW 2027, Eksplorasi Tenun Nusantara dalam Balutan Elegansi dan Estetika Kontemporer

Lewat TEXTUM, Cita Tenun Indonesia menghadirkan Tenun Nusantara melalui karya Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, dan Eridani.

Diterbitkan 02 November 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tenun Nusantara mendapat interpretasi baru lewat TEXTUM, peragaan busana persembahan Cita Tenun Indonesia (CTI) di Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Peragaan pada Sabtu, 31 Oktober 2026 ini menghadirkan 42 look karya tiga desainer Indonesia.

Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, dan Eridani mengeksplorasi kekayaan tenun dari Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Lampung.  Ketiga desainer menerjemahkan karakter wastra daerah melalui permainan siluet, tekstur, dan detail yang merefleksikan DNA desain masing-masing.

Koleksi ini merupakan hasil kolaborasi dengan perajin dari tiga program pelatihan dan pengembangan tenun CTI. Perpaduan keterampilan tradisional dan visi kreatif desainer menghadirkan ruang eksplorasi baru bagi kain Nusantara dalam lanskap fashion kontemporer.

Nama TEXTUM berakar dari kata Latin "texere," yang berarti menenun atau menyusun. Pada era Romawi Kuno, istilah ini juga digunakan sebagai metafora untuk merangkai kata menjadi cerita atau gagasan yang utuh.

Filosofi tersebut menjadi benang merah peragaan, menggambarkan bagaimana material, keahlian, dan ide kreatif berpadu membentuk narasi melalui busana. Dalam interpretasi ketiga desainer, tenun menempati posisi sentral sebagai elemen yang membangun karakter setiap look.

Permainan tekstur, kekayaan motif, dan teknik pengolahan kain menjadi medium untuk menghadirkan estetika yang lebih dinamis. Identitas budaya yang melekat pada setiap wastra berdialog dengan bahasa desain modern, menghadirkan perspektif segar dalam memosisikan tenun sebagai bagian dari ekspresi gaya masa kini.

Sentuhan Modern Tenun Cual

Priyo Oktaviano membuka rangkaian peragaan TEXTUM lewat koleksi bertajuk "ROYAL REVERIE." Terinspirasi dari kemegahan Istana Versailles, koleksi ini menginterpretasikan tenun Cual Bangka Belitung melalui sentuhan modern dan elegan.

Sebanyak 12 look pria dan wanita dihadirkan dengan eksplorasi material, warna, konstruksi, serta siluet. Karakter tenun cual yang memadukan teknik ikat dan sungkit menjadi daya tarik utama. Motifnya terbentuk melalui proses pencelupan benang pakan, sementara aksen benang emas dan perak memperkaya tampilan kain.

Nuansa arsitektur kerajaan dan chandelier kristal diterjemahkan melalui estetika Victorian-inspired elegance, serta modern European tailoring. Keduanya berpadu dalam siluet androgini dengan karakter edgy.

Palet warna seperti emerald green, siam ruby red, dan imperial topaz orange terinspirasi dari alam Bangka Belitung, serta batu permata, menghadirkan nuansa opulen pada setiap rancangan.

Pesan Lingkungan dalam Tenun Dayak Iban

Wilsen Willim menghadirkan 15 look busana wanita yang memadukan tenun Dayak Iban dengan katun, suiting fabric, tulle, dan denim. Koleksi ini merupakan bagian dari program Aram Bekelala Tenun Iban, hasil kolaborasi Cita Tenun Indonesia dan Yayasan Kawan Lama.

Salah satu eksplorasi utamanya adalah teknik pileh yang dikenal rumit dan langka. Di komunitas penenun Lauk Rugun, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, hanya tiga penenun senior yang menguasai teknik tersebut.

Koleksi ini juga menyoroti dampak kerusakan alam terhadap kehidupan perajin, termasuk berkurangnya tumbuhan untuk bahan pewarna alami. Melalui siluet dreamy dan palet hitam, putih, cokelat, serta abu-abu, Wilsen menyampaikan kepeduliannya terhadap keberlangsungan tradisi menenun.

Ia memilih mempertahankan karakter asli kain agar detail dan keindahan hasil karya para perajin tetap menjadi fokus utama setiap rancangan.

Menghidupkan Kembali Tenun Inuh

Eridani mengangkat tenun Inuh dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, melalui koleksi "MANGI (THE BECOMING)." Sebanyak 15 busana wanita dihadirkan untuk menarasikan kebangkitan kain tradisional yang sempat hilang selama lebih dari satu abad.

Tenun Inuh memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan letusan Gunung Krakatau pada 1883. Dalam tradisi masyarakat setempat, kain ini juga menjadi pusaka perempuan sekaligus penanda status sosial yang diwariskan kepada perempuan tertua dalam garis keluarga.

Nilai historis tersebut diterjemahkan Eridani melalui sosok perempuan modern yang elegan, karismatik, dan berwibawa. Dari sisi desain, koleksi ini mengeksplorasi siluet tegas melalui teknik tailoring yang berpadu dengan drapery terstruktur, menciptakan permainan bentuk yang kokoh sekaligus anggun.

Motif kapal dan hewan laut tetap dipertahankan sebagai identitas tenun Inuh. Keduanya merepresentasikan perjalanan hidup, keteguhan iman, serta pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.