Tren Donat Kekinian Makin Beragam, Tak Lagi Sekadar Rasa Manis

Tren donat semakin berkembang dengan hadirnya beragam konsep, rasa, tekstur, hingga varian rendah gula.

Diterbitkan 04 Oktober 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren donat kini tidak lagi hadir dalam bentuk dan rasa yang itu-itu saja. Perkembangannya meluas dari pilihan topping dan isian hingga tekstur, perpaduan rasa, bahkan formulasi yang menyesuaikan preferensi konsumen.

Menurut Coherent Market Insights di Open PR, dilansir Jumat, 2 Oktober 2026, pasar global donat diperkirakan mencapai USD17,9 miliar atau sekitar Rp 320,84 triliun pada 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi USD24,9 miliar atau setara Rp 446,53 triliun pada 2033.

Inovasi produk menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kategori donat. Varian gourmet, reduced-sugar, serta penggunaan kombinasi bahan yang semakin beragam turut memperkaya pilihan di pasar.

Fenomena ini terlihat dari kemunculan berbagai konsep donat yang menarik perhatian konsumen. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, I’m Donut? dari Jepang berkembang menjadi salah satu fenomena viral dengan karakter donat yang berbeda dari produk konvensional.

Perkembangan serupa juga terjadi di Indonesia. Dalam setahun terakhir, sejumlah pemain menghadirkan konsep baru, mulai dari donat yang viral di kawasan Blok M hingga donat khas Jepang. Pilihan tersebut membuat konsumen semakin leluasa menemukan produk sesuai selera, baik dari segi rasa maupun tekstur.

Salah satu pemain yang ikut meramaikan perkembangan kategori ini adalah Fore Donut. Melalui Crumbs & Crunch Series, mereka menghadirkan tiga varian baru dengan perpaduan rasa dan tekstur berbeda. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi membaca perubahan tren makanan dan preferensi konsumen.

Acuan Mengembangkan Menu

Bagi Fore Donut, inovasi menu menjadi bagian dari proses pengembangan produk yang dilakukan secara rutin. Setiap kreasi baru tidak hanya mengandalkan ide internal, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan tren kuliner yang sedang diminati konsumen.

Corporate Executive Pastry Chef Fore Donut, Farid Al Farouq, menjelaskan bahwa timnya mengembangkan menu baru setiap tiga bulan dengan mengacu pada perkembangan tren kuliner Asia. "Kita coba menganalisis tren food-nya seperti apa, nanti kita kembangkan menunya berdasarkan itu," ujarnya.

Pendekatan ini terlihat dalam Crumbs & Crunch Series yang menawarkan tiga varian dengan karakter rasa dan tekstur berbeda. Eksplorasi tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen melalui kombinasi rasa yang lebih beragam, sekaligus memperlihatkan bagaimana tren kuliner diterjemahkan ke dalam kreasi donat.

Tren Donat Rendah Gula Mulai Dilirik

Perhatian konsumen terhadap pilihan makanan yang lebih seimbang turut memengaruhi pengembangan produk donat, termasuk dalam hal tingkat kemanisan. Fore Donut merespons kecenderungan tersebut dengan menghadirkan produk yang tidak terlalu manis dibandingkan donat dan dessert pada umumnya.

Farid mengatakan pendekatan tersebut diterapkan pada sejumlah menu, termasuk Nutty White Choco dalam Crumbs & Crunch Series. "Peanut butter-nya sendiri kita bikin tanpa ada gula. Jadi manisnya itu dari si crunch-nya, jadi buat balance supaya si donat ini tidak terlalu manis," ucapnya.

Penggunaan peanut butter tanpa tambahan gula membuat rasa manis berasal dari elemen lain dalam produk. Kombinasi tersebut memberikan profil rasa yang lebih seimbang pada Nutty White Choco, menurut dia.

Perluas Bisnis ke Kategori Donat

Fore Donut membawa pendekatan yang sebelumnya dikembangkan Fore Coffee ke kategori donat dengan mengusung konsep "new culture of donuts." Strategi tersebut memadukan kualitas bahan dengan inovasi untuk menghadirkan pilihan donat yang lebih beragam.

Chief Marketing Officer Fore Donut, Matthew, mengatakan, "Kita menduplikasi apa yang kita lakukan di Fore Coffee, tapi versi donat. Bahasa gampangnya seperti itu."

Pengembangan produk dilakukan melalui pemilihan bahan premium, serta variasi Stock Keeping Unit (SKU). Tim chef dan marketing turut terlibat dalam membaca arah pasar dan menerjemahkannya menjadi kreasi baru.

Saat ini, Fore Donut telah memiliki hampir 15 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Gerai di Panglima Polim menjadi cabang kedua, sementara ekspansi ke sejumlah wilayah Indonesia disiapkan untuk memperluas jangkauan konsumen.