Ketika Layar LED Jadi Spot Foto Baru di Tengah Kota

Pengalaman imersif di ruang publik salah satunya terlihat melalui penggunaan tiga layered layar LED seluas lebih dari 1.000 meter persegi di Pacific Place.

Diterbitkan 25 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Layar LED berukuran besar kini menjadi bagian dari pengalaman wisata urban. Tampilan imersifnya menarik pengunjung untuk berhenti, berfoto, bahkan ikut menjadi bagian dari konten digital.

Tren tersebut mendorong hadirnya pengalaman imersif di ruang publik. Salah satunya terlihat melalui penggunaan tiga layered LED seluas lebih dari 1.000 meter persegi di kawasan Pacific Place, Jakarta, yang menghadirkan tampilan visual berukuran besar bagi pengunjung.

Teknologi interaktif membuat pengalaman tersebut tidak berhenti pada aktivitas melihat layar. Pengunjung dapat menghubungkan ponsel mereka dengan layar dan mengikuti aktivitas yang ditampilkan secara real-time.

Konsep itu hadir melalui Interactive Launch Moment dan gameshow partisipatif. Pengunjung yang mengikuti aktivitas dapat melihat keterlibatan mereka muncul langsung pada layar berukuran besar di ruang publik.

Executive Vice President Strategy City Vision, David Somer, mengatakan perubahan fungsi tersebut berkaitan dengan cara media luar ruang berkomunikasi dengan masyarakat.

"Cara kerja out-of-home dulu adalah Anda memiliki billboard, menempatkannya di area dengan lalu lintas tinggi, kemudian berharap perhatian orang tertuju kepadanya," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

Pengiklan kini dapat menyesuaikan konten dengan kondisi di sekitar layar. Pendekatan tersebut membuat tampilan digital terasa lebih dekat dengan aktivitas yang sedang berlangsung di suatu kawasan.

Layar di sekitar Gelora Bung Karno, misalnya, dapat menampilkan konten yang berkaitan dengan konser atau pertandingan sepak bola. Pada Ramadan, layar juga dapat menyampaikan informasi seperti waktu berbuka puasa.

 

Daya Tarik Visual

David menyebut, pendekatan tersebut dapat membuat masyarakat memberikan perhatian lebih lama terhadap tampilan yang muncul. "Ini lebih dari sekadar terlihat dan berada di sana, tapi juga menciptakan sebuah pengalaman yang relevan sehingga orang dapat mengingat dan berinteraksi dengannya," ujarnya.

Ukuran layar menjadi salah satu elemen yang memperkuat pengalaman visual. Area tampilan yang luas memungkinkan konten terlihat menonjol dari berbagai sudut dan menjadi bagian dari lanskap kawasan.

Kehadiran layar digital juga dapat menyatu dengan aktivitas pengunjung. Masyarakat tetap dapat berbelanja, makan, bertemu teman, atau menghabiskan waktu luang sambil menikmati tampilan visual yang hadir di sekitarnya.

Pendekatan tersebut membuat ruang komersial memiliki pengalaman tambahan bagi pengunjung. Layar tidak harus menjadi tujuan utama perjalanan, tapi dapat menjadi salah satu elemen yang membuat sebuah kawasan lebih menarik untuk dikunjungi dan diabadikan.

 

Pengalaman Lebih Dekat

Co-Founder & Co-CEO City Vision, Juliana Kumala, mengatakan media luar ruang dapat membangun pengalaman yang lebih dekat dengan audiens melalui penggunaan teknologi.

"Out of home bukan hanya sekadar penempatan media. OOH dapat menciptakan sebuah momen, menciptakan sebuah pengalaman, dan yang paling penting, menciptakan momen brand bersama audiens," sebut dia.

Interaksi juga menjadi pembeda antara layar digital dan media luar ruang konvensional. Audiens tidak lagi hanya menerima pesan dari satu arah karena teknologi memungkinkan mereka mengambil bagian dalam konten.

Pemanfaatan kebiasaan masyarakat menjadi bagian lain dari pendekatan tersebut. Konten dapat mengikuti fenomena budaya, rutinitas harian, atau momentum tertentu sehingga kehadirannya terasa lebih relevan dengan kehidupan audiens.

 

Membangun Keterhubungan

Chief Marketing Officer Savoria, Thomas Sutton, mengatakan pemahaman terhadap kebiasaan masyarakat dapat membantu pengiklan membangun keterhubungan melalui media luar ruang.

"Dalam out-of-home, penting untuk memanfaatkan perilaku yang sudah familiar bagi masyarakat. Bisa berupa fenomena budaya, kebiasaan, waktu tertentu dalam sehari, dan sebagainya," jelas Thomas.

Perubahan tersebut turut memperluas cara pengiklan memanfaatkan ruang yang sudah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Media luar ruang kini dapat dirancang dengan mempertimbangkan lokasi, momentum, serta bentuk keterlibatan yang sesuai dengan karakter audiens.

Perkembangan itu membuat ruang publik menjadi titik pertemuan antara teknologi visual dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Kehadiran layar digital pun berkembang mengikuti cara orang menikmati, merekam, dan membagikan pengalaman mereka di ruang kota.