Mengenal Diet Anti-Inflammatory, Pola Makan yang Bantu Meredakan Peradangan

Diet anti-inflammatory merupakan pola makan minim makanan olahan, kaya nutrisi, dan mengutamakan bahan makanan utuh.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 12:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Diet anti-inflammatory menjadi salah satu pola makan yang banyak diperhatikan karena menekankan konsumsi makanan utuh dan bahan pangan yang dapat mendukung kesehatan tubuh. Pola makan ini juga berkaitan dengan upaya membantu menjaga tubuh dari peradangan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Peradangan sendiri merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi cedera, infeksi, atau gangguan tertentu. Dalam kondisi normal, proses tersebut membantu tubuh melakukan pemulihan dan biasanya mereda dalam hitungan jam hingga beberapa hari.

Kondisi berbeda terjadi ketika peradangan bertahan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Peradangan kronis dapat membebani sistem kekebalan tubuh dan berkaitan dengan sejumlah penyakit kronis.

Melansir BBC, Selasa (18/8/2026), pola makan yang beragam dan banyak mengandalkan bahan nabati dapat mendukung kesehatan tubuh. Kandungan serat dalam makanan tersebut juga membantu menjaga mikrobiota usus.

Beberapa rempah, seperti jahe, kunyit, bawang putih, dan lada hitam, turut dikaitkan dengan sifat anti-inflamasi. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat bukti mengenai manfaatnya ketika dikonsumsi langsung sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

Sementara itu, U.S. News & World Report memasukkan pola makan yang mengutamakan makanan utuh dan minim proses sebagai pilihan yang dapat mendukung pengelolaan peradangan. Penerapan diet anti-inflammatory dapat dimulai dengan memperbanyak makanan utuh yang kaya serat, lemak sehat, vitamin, dan mineral. 

Beberapa pilihan yang dapat masuk dalam pola makan ini antara lain tomat, minyak zaitun, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, kacang polong, serta beragam buah yang mengandung vitamin C.

Pilihan Makanan yang Bantu Lawan Peradangan

Ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan tuna dapat menjadi pilihan dalam diet anti-inflammatory karena mengandung asam lemak omega-3 yang dikenal memiliki sifat antiinflamasi. Konsumsi sekitar tiga ons ikan berlemak dua kali seminggu dapat membantu memenuhi asupan lemak sehat.

Kesehatan usus juga tidak kalah penting. Sejumlah bakteri di dalam usus dapat menghasilkan senyawa yang memiliki sifat antiinflamasi. Mengonsumsi makanan beragam, terutama yang berasal dari tumbuhan, dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Upaya menjaga tubuh dari peradangan juga tidak berhenti pada pilihan makanan. Faktor gaya hidup turut berperan dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. Stres berkepanjangan, kebiasaan merokok, paparan polutan, serta pola makan yang kurang sehat dapat berkontribusi terhadap peradangan dalam tubuh.

Karena itu, penerapan pola makan sehat sebaiknya berjalan bersama kebiasaan hidup yang lebih baik agar manfaatnya dapat mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Menjaga Gaya Hidup

Aktivitas fisik secara rutin dapat melengkapi penerapan diet anti-inflammatory sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu untuk memperoleh manfaat kesehatan.

Pengelolaan stres juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Meditasi, yoga, latihan pernapasan dalam, hingga aktivitas sederhana yang memberikan rasa rileks dapat membantu mengelola tekanan sehari-hari.

Upaya menjaga kesehatan akan lebih optimal jika dilakukan secara menyeluruh. Pola makan yang mengutamakan makanan utuh, buah, sayuran, dan berbagai sumber pangan nabati dapat menyediakan antioksidan, fitokimia, serta senyawa bioaktif yang dibutuhkan tubuh.

Asupan tersebut dapat membantu melawan stres oksidatif dan mendukung tubuh dalam menjaga keseimbangan dari peradangan. Konsistensi dalam menjalankan pola makan sehat, aktif bergerak, dan mengelola stres menjadi kunci penting untuk membangun kebiasaan yang berkelanjutan.

Diet Mediterania Jadi Salah Satu Pilihan

Diet Mediterania menjadi salah satu pola makan yang banyak mendapat perhatian karena mengutamakan makanan kaya nutrisi, tinggi serat, serta sumber lemak sehat. Pola ini juga menempatkan sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun sebagai bagian penting dalam menu sehari-hari.

Pola makan tersebut kerap dikaitkan dengan beragam manfaat kesehatan, mulai dari mendukung kesehatan jantung dan otak hingga membantu mengelola peradangan serta menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis.

Konsep ini menunjukkan bahwa pola makan antiinflamasi tidak bergantung pada satu jenis makanan tertentu. Kombinasi berbagai bahan pangan bernutrisi justru menjadi bagian penting dalam membangun pola makan yang seimbang.

Pilihan makanan yang beragam juga membuat penerapan pola makan sehat terasa lebih fleksibel. Dengan begitu, seseorang tidak harus mengikuti aturan menu yang terlalu ketat untuk membangun kebiasaan makan yang lebih baik.