Rawdogging, Benarkah Duduk Diam Tanpa Hiburan Selama Penerbangan Bermanfaat?

Pakar menilai praktik rawdogging bisa melatih mindfulness, tapi berisiko bagi kesehatan.

Diterbitkan 01 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan udara kini menawarkan semakin banyak pilihan hiburan bagi penumpang. Layar hiburan di kursi, layanan streaming yang telah diunduh, podcast, serta koneksi internet membuat waktu selama penerbangan terasa lebih singkat.

Di tengah beragam fasilitas tersebut, muncul tren yang justru mengajak penumpang mengabaikan seluruh hiburan selama berada di dalam pesawat. Tren tersebut dikenal dengan istilah rawdogging a flight.

Praktik ini, melansir Forbes, Selasa (21/7/2026), mengharuskan penumpang menjalani penerbangan tanpa menonton film, mendengarkan musik, membaca, memainkan gim di ponsel, atau melakukan aktivitas hiburan lainnya. Sejumlah pelaku bahkan memilih tidak tidur, serta tidak mengonsumsi makanan dan minuman.

Mereka hanya menatap kursi di depan atau memantau peta perjalanan hingga pesawat mendarat. Popularitas tren ini meningkat setelah banyak pengguna TikTok membagikan pengalaman mereka menjalani penerbangan tanpa distraksi.

Seorang kreator asal Manchester, Inggris, bahkan mengaku berhasil melewati penerbangan selama tujuh jam tanpa menggunakan headphone, menonton film, minum air, maupun beristirahat. "Kekuatan pikiran saya benar-benar tidak mengenal batas," tulisnya saat membagikan pengalamannya di media sosial.

Fenomena tersebut memunculkan beragam tanggapan, termasuk dari kalangan pemerhati kesehatan mental. Pendiri layanan pelatihan holistik Wellness & Woo Crystal Riley menilai, mengurangi distraksi selama penerbangan dapat menjadi latihan mindfulness jika dilakukan secara tepat.

Menurut dia, kondisi itu memberi kesempatan bagi seseorang untuk lebih menyadari napas. "Situasi ini bisa membantu seseorang memperdalam praktik mindfulness dengan memperhatikan napas, suara pesawat, bahkan detak jantung tanpa memberikan penilaian terhadap apa yang dirasakan," ujar Riley.

 

Tak Cocok untuk Semua Orang

Latihan tersebut dinilai mampu menghadirkan rasa tenang, sekaligus membantu seseorang lebih memahami kondisi emosinya. Bagi sebagian orang yang terbiasa bermeditasi, perjalanan panjang di dalam pesawat dapat menjadi waktu untuk beristirahat dari paparan gawai maupun informasi yang terus mengalir setiap hari.

Meski demikian, Riley mengingatkan, pendekatan tersebut tidak cocok diterapkan untuk semua orang. Ruang kabin yang sempit dan waktu penerbangan yang panjang dapat memicu rasa gelisah atau cemas pada sebagian penumpang ketika mereka kehilangan aktivitas pengalih perhatian.

"Jika seseorang mulai merasa sangat tidak nyaman atau semakin cemas, itu bisa menjadi tanda bahwa metode tersebut tidak sesuai untuk dirinya pada saat itu. Dengarkan kondisi tubuh dan pikiran sebelum memaksakan diri," katanya.

Peringatan yang lebih tegas datang dari para pakar kesehatan. Mereka menilai, rawdogging yang melarang penumpang minum air, tidur, atau bergerak selama penerbangan justru dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada perjalanan jarak jauh.

 

Jangan Abaikan Kebutuhan Dasar Tubuh

Psikoterapis sekaligus mindset coach Angela Williams mengatakan, tantangan yang mengharuskan seseorang mengabaikan kebutuhan dasar tubuh tidak layak diikuti. Menurut dia, kurang tidur selama penerbangan dapat menyebabkan gangguan konsentrasi ketika penumpang tiba di negara tujuan.

"Tidur membantu otak mengatur sistem saraf, memperkuat memori, serta menjaga keseimbangan fungsi otak. Mengorbankan waktu tidur demi mengikuti tren bukan keputusan yang bijak," jelas Williams.

Ahli gizi asal New York, Tiffany Ma, juga mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi selama berada di dalam pesawat. Kelembapan udara di kabin umumnya lebih rendah dibandingkan lingkungan biasa sehingga tubuh lebih mudah kehilangan cairan.

"Udara yang kering di dalam pesawat meningkatkan risiko dehidrasi sehingga penumpang tetap perlu minum air secara berkala selama perjalanan," kata Ma. Penumpang juga disarankan tetap menggerakkan tubuh meski duduk dalam waktu lama.

Lakukan Secara Moderat

Bila lampu sabuk pengaman menyala dan penumpang tidak dapat berjalan di lorong kabin, mereka tetap bisa menggerakkan kaki, melakukan peregangan ringan, atau mengangkat tumit secara bergantian untuk menjaga sirkulasi darah.

Ahli gizi di Hoag Orthopedic Institute California Selatan Reema Kanda menjelaskan, duduk tanpa bergerak selama lebih dari enam jam dapat memperlambat aliran darah di bagian bawah tubuh. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terbentuknya pembekuan darah pada kaki, terutama pada individu yang memiliki faktor risiko tertentu.

Meski menuai banyak perhatian di media sosial, para pakar menilai manfaat rawdogging a flight hanya dapat dirasakan jika dilakukan secara moderat. Mengurangi penggunaan gawai atau hiburan selama penerbangan bisa menjadi cara melatih fokus dan menikmati perjalanan.

Namun, kebutuhan dasar seperti tidur, minum air, makan, dan bergerak tetap harus dipenuhi agar kondisi tubuh tetap prima saat tiba di tujuan.