Sukses

Saat Dokter Rancang Baju Jaga Modis untuk Tenaga Medis

Liputan6.com, Jakarta - Baju jaga, disebut pula scrubs, menjadi outfit wajib bagi para tenaga medis. Penggunaannya mulai marak di kalangan tenaga kesehatan selama pandemi. 

Dengan aktivitas segudang dan jam kerja yang panjang, para tenaga medis mengharapkan pakaian kerja yang nyaman. Berangkat dari isu itu, dua dokter lulusan Fakultas Kedokteran Indonesia merancang baju jaga yang diklaim lebih modis.

Keduanya, dr. Hansens Yansah, BMedSci (Hons.) dan dr. Jessica Halim, MRes, merintis start-up scrubs brand bernama The SCRB Project. Inspirasinya datang dari kondisi yang dihadapi para tenaga medis saat bekerja di masa pandemi. Mereka merasa kenyamanan yang menjadi kebutuhan dasar saat bekerja sering dilupakan dan dinomorduakan.

"Kami berkomitmen mengutamakan kenyamanan nakes dalam bekerja agar mereka yang berada di garda terdepan dapat mengutakan hal yang terpenting, yaitu kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien," kata Hans, dalam rilis yang diterima Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Argumen mereka didukung hasil riset. Pihaknya menemukan bahwa nakes yang merasa nyaman dan percaya diri dengan pakaian yang dikenakan saat kerja dapat meningkatkan performa dan produktivitasnya. Selain itu, penggunaan scrubs di tempat kerja telah terbukti lebih baik dibandingkan baju biasa.

Scrubs tersebut memanfaatkan kain spandex polyclot untuk memastikan baju jaga itu lentur, nyaman, dan masih terlihat profesional. Terdiri dari atasan dan bawahan, pembeli bisa menyesuaikan modelnya dengan kebutuhan, dari klasik hingga untuk ibu hamil.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Alasan Memakai Scrubs

Sekilas tampilan koleksi klasik mirip dengan scrubs biasa, tetapi memiliki pinggang karet yang bisa diatur. Selain itu, celananya juga dilengkapi saku tambahan berdesain mirip saku celana kargo. Selain baju jaga, label itu juga menyediakan penutup kepala. Hans menyebut saat ini ada delapan varian koleksi yang tersedia. 

Ia juga menjelaskan sejumlah alasan tenaga medis wajib memakai scrubs. Berikut detailnya:

1. Lebih higenis dan steril

Scrubs sebaiknya digunakan hanya di lokasi kerja untuk menghindari kontaminasi dari rumah/komunitas ke pasien di rumah sakit yang terbawa saat nakes pergi ke tempat kerja. Juga, untuk mencegah kontaminasi infeksi dari rumah sakit ke rumah saat nakes selesai bekerja.

Scrubs juga dicuci setiap hari supaya lebih higenis dibanding penggunaan jas putih atau jas lab yang biasanya hanya dicuci beberapa hari sekali, sehingga dapat melindungi nakes dan pasien dari risiko infeksi.

3 dari 4 halaman

2. Kenyamanan Bekerja

Teknologi dan evolusi scrubs mengubah seragam yang dianggap kaku dan tidak berbentuk menjadi pakaian yang nyaman digunakan untuk aktivitas, manuver, dan gerakan apapun. The SCRB Project mengenalkan fitur scrubs dengan bahan berteknologi 4-way stretch yang lentur dan menyerap keringat.

Potongannya juga fungsional dan modis, sehingga memberikan rasa nyaman yang cocok untuk berbagai bentuk tubuh. Pasalnya, pasien cenderung merasa nyaman dan mempercayai tenaga medis yang berseragam secara profesional.

3. Tampilan profesional

Mengenakan scrubs sebagai seragam yang terkenal dengan desain klasik dengan warna atasan dan bawahan senada membuat para tenaga kesehatan lebih terlihat profesional di mata pasien dan masyarakat. Hal ini karena nakes dengan scrubs akan lebih mudah dikenali sebagai tenaga medis. Beberapa rumah sakit juga menggunakan warna scrubs yang berbeda antar-departemen sebagai identitas diri.

4 dari 4 halaman

4. Fungsional dan Hemat Waktu

Penggunaan scrub ini selain fungsional juga hemat waktu. Itu karena mereka tidak perlu pusing memilih pakaian kerja yang akan dikenakan. Scrub itu, kata Hans, dipasarkan secara online dan melayani pemesanan dari seluruh Asia.

Baju jaga jelas berbeda dengan baju hazmat yang dipakai tenaga medis saat menangani pasien Covid-19, terutama di awal pandemi. Baju APD buatan Indonesia dinyatakan lolos ISO 16604 Class 3, yang merupakan spesifikasi wajib untuk menjamin keamanan dan keselamatan tenaga medis. 

Dikutip dari kanal News Liputan6.com, baju APD yang lolos ISO 16604 Class 3 diusulkan PT Sritex. Pengujiannya dilakukan oleh Intertek Headquarter yang berbasis di Cortland, New York, Amerika Serikat.

Baju APD bersertifikasi ISO 16604 Class 3 memiliki ketahanan terhadap masuknya bakteri atau virus dengan ukuran yang sangat kecil. ISO 16604 Kategori kelas 3 berkualitas lebih tinggi dibandingkan tingkat kelas 2 atau ISO 16604 Class 2. Dengan demikian, baju APD lokal berhasil memenuhi standar internasional yang ditetapkan Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO).