Sukses

Menanti Kabar Baik dari Jamur dan Bakteri Potensial Pengurai Sampah Plastik

Liputan6.com, Jakarta - Samantha Jenkins, kepala insinyur di Biohm, awalnya mempelajari beberapa tipe jamur untuk proyek penelitian bio-panel isolasi. Namun, ia justru menemukan hal yang lebih menarik. Jamur yang ditelitinya memakan bagian spons plastik seperti mencerna material makan biasa. Padahal, material itu dipakai untuk menyegel pergerakan organisme itu.

"Bayangkan wadah yang berisi penuh dengan biji-bijian dengan bentuk seperti segumpalan jamur tumbuh di atasnya," kata Jenkins, seperti dikutip dari BBC, Sabtu, 31 Juli 2021.

"Hal tersebut tidak terlihat terlalu menarik. Tetapi, setelah dibuka, akan tampak sangat keren," tambahnya.

Pada akhirmya, percobaan jamur di perusahaan biomanufaktur itu menjalar ke ranah lainnya. Saat inin, Biohm mengembangkan penelitian strain jamur yang lebih efisien mencerna material plastik. Dengan begitu, ada harapan untuk membantu menghilangkan sampah plastik.

Sudah rahasia umum bahwa plastik sekali pakai merupakan masalah yang besar. Menurut Greenpeace, pada 2015, 6,3 miliar ton plastik murni dihasilkan di seluruh dunia, tetapi hanya sembilan persen yang didaur ulang. Sisanya dibakar di insinerator atau akan dibuang.

Kondisi membaik belakangan ini dengan lebih dari 40 persen kemasan plastik di Uni Eropa didaur ulang. Targetnya, 50 persen didaur ulang pada 2025. Tetapi sejumlah tipe plastik, seperti PET yang banyak digunakan sebagai botol minuman, sulit didaurulang menggunakan alat tradisional. Jadi, bisakah metode biologi jadi jawabannya?

Jawabannya mungkin. Menurut hasil uji coba Jenkins pada jamur di plastik PET dan poliuretan, jamur itu memakan plastik tersebut. "Jamur tersebut akan membelah diri dan dari situlah Anda bisa membuat biomaterial… untuk makanan atau persediaan pakan ternak atau antibioti."

 

 

2 dari 5 halaman

Bakteri E. coli

Ilmuwan dari Universitas Edinburgh mencoba dengan spesies berbeda. Mereka menggunakan bakteri E. coli hasil dari rekayasa laboratorium untuk mengubah asam tereftalat, molekul pembentuk PET, menjadi vanili yang digunakan dalam bahan baku kue. Tentunya, pengubahan ini melalui beberapa ekstrasi kimia.

"Penelitian kami masih berada dalam fase titik awal dan kami harus menemukan berbagai macam cara lainnya untuk membuat proses menjadi semakin efisien dan ekonomis," kata Dr Joanna Sadler dari Universitas School of Biological Sciences.

"Tetapi ini merupakan langkah awal yang sangat menarik dan ada potensi untuk menjadi komersial yang praktis di masa mendatang setelah adanya pengembangan lebih lanjut," tambahnya.

Sementara itu, tim Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz-UFZ di Leipzig menggunakan bakteri yang biasa ditemukan di tempat pembuangan sampah daerah untuk menghancurkan poliuretan. Pseudomonas sp. TDA 1 merupakan bakteri yang mengonsumsi sebagian besar dari plastik untuk meningkatkan biomassa, sisanya akan dibuang sebagai karbon dioksida.

Seperti kebanyakan organisme pemakan plastik lainnya, Pseudomonas menghancurkan poliuretan dengan menggunakan enzim. Saat ini, tim peneliti sedang menganalisis genom dari bakteri dengan tujuan untuk mengidentifikasi gen tertentu yang membentuk enzim tersebut.

Pertanyaan pun muncul, apakah teknik yang dilakukan tersebut tergolong layak secara komersil? "Perubahan enzim atau mikroba PET menjadi bahan yang menyusunnya merupakan hal yang menarik untuk dieksplorasi. Namun, teknologi yang digunakan harus terbukti bersaing dengan teknologi konversi yang menggunakan sistem water-catalyst yang kurang menarik," ujar Prof Ramani Narayan dari Universitas Negeri Michigan.

 

3 dari 5 halaman

PET Food Grade

Di sisi lain, Carbios, sebuah perusahaan Perancis yang menggunakan versi rekayasa dari enzim yang berasal dari tumpukan kompos pemecah PET. Setelah bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar, termasuk L’Oreal dan Nestle, baru-baru ini perusahaan mengumumkan bahwa mereka telah memproduksi botol plastik PET food grade pertama di dunia.

Seluruhnya diproduksi menggunakan plastik daur ulang secara enzimatik. Tidak seperti metode daur ulang pada umumnya, enzim yang digunakan dapat bekerja pula pada PET yang berwarna.

"Dengan metode tradisional seperti daur ulang dengan menggunakan mesin, untuk membuat produk akhir yang cocok dengan botol transparan, Anda membutuhkan botol yang transparan juga untuk didaur ulang," ujar wakil kepala eksekutif Martin Stephan.

"Dengan teknologi yang kita miliki, berbagai jenis limbah PET dapat didaur ulang menjadi produk PET apapun," ia menambahkan.

Sayangnya, botol yang dihasilkan dari proses ini jauh lebih mahal daripada yang diolah dengan petrokimia. Menurut Stephan, walaupun lebih mahal tekonologi, perusahaannya berpotensi menekan biaya hingga sama dengan botol yang dibuat secara tradisional.

Dr Wolfgang Zimmermann dari Institut Kimia Analitik Universitas Leipzig menilai, teknik yang digunakan Carbios menjanjikan. Enzim juga memiliki keuntungan karena terdiri dari bagian-bagian kecil yang rendah jejak karbon. Tapi, teknologi itu juga memiliki keterbatasan lantaran membutuhkan pra-perawatan yang panjang. "Banyak pekerjaan di hadapan kita." (Gabriella Ajeng Larasati)

4 dari 5 halaman

Indonesia Penyumbang Sampah Plastik

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: