Sukses

Inovasi Limbah Masker Jadi Bahan Tembok dari Parongpong

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan masker saat pandemi terus meningkat. Terlebih, ada anjuran memakai masker dobel agar mereka bisa aman berkegiatan saat menghadapi virus Covid-19 varian baru. 

"Sejak tahun lalu, sebenarnya kami (Parongpong Raw Lab) sudah sadar bahwa peluang sampah masker ini sangat tinggi sehingga dicari dari waste material yang menjadi expertist-nya Parongpong. Sebenarnya, yang menjadi inovasi kami adalah kami berhasil memanfaatkan tali dan polimer yang ada di masker juga itu untuk pengganti pasir," ujar Founder Parongpong Raw Lab, Rendy Aditya Wachid, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 1 Juli 2021.

Parongpong Raw Lab adalah perusahaan pengelolaan/pengolahan sampah yang memberikan pelatihan untuk memisahkan sampah, mendaur ulang, dan mencegah sampah residu agar tidak mencapai tempat pembuangan sampah (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA) dengan dikelola secara mandiri oleh penghasil sampah.

Rendy melanjutkan, fiber sintetik yang biasanya digunakan dalam material bangunan harganya mahal. Selain itu, jejak karbon fiber sintetik lebih tinggi karena diimpor dari luar negeri dan sekarang pasir pun menjadi sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui.

"Ini menjadi inovasi yang menarik sekali karena bukan hanya menyelesaikan masalah sampah masker, tapi kami juga mencari subtitute dari material yang selama ini sulit atau tidak sustainable untuk menjadi lebih baik lagi dan ada di sekitar kita," terang arsitek kelahiran 26 Desember 1985.

Rendy menjelaskan pengolahan limbah masker menggunakan metode waste material dengan teknologi hydro thermal. Dari masker itu diperoleh tiga bahan, yaitu kawat yang digunakan sebagai penyangga di bagian hidung, plastik, dan fiber dari talinya.

"Plastik ini lalu kami cacah sebagai pengganti agregat, seperti pengganti pasir. Lalu, fibernya sendiri kami pakai untuk proses, memang material kami. Kawatnya sendiri ketika selesai diproses sebetulnya menjadi kawat kecil-kecil dan dan cenderung mudah patah, dan itu juga kami olah untuk masuk ke dalam komponen," tutur Rendy.

Berdasarkan riset yang dilakukan pihaknya, mereka mendapatkan bahwa satu kilogram limbah masker itu terdiri dari 200 pieces masker. Saat ini salah satu produk yang dimunculkan adalah wall tiling bekerja sama dengan Contur Concrete Lab.

"Kenapa wall tiling? Karena penggunaannya di ruang publik bisa besar sekali. Contohnya, kami terapkan di jalan layang yang ada di kota, itu penggunaannya bisa sangat tinggi. Saat ini untuk wall tiling (bahan untuk tembok) penggunaannya bisa 10 gram masker itu kurang lebih seperti 2000 pieces masker menjadi satu tiling ukuran 10x20 meter," ia menjelaskan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 4 halaman

Hal yang Mengkhawatirkan

Bqgi Rendy, limbah masker itu harus dikelola secara bijak karena penggunaannya banyak sekali. Meskipun limbah masker disebut B3, masyarakat umum membuangnya masih sebagai limbah rumah tangga. Jadi, ia menilai perlu ada edukasi yang tepat, mau diapakan masker-masker ini.

"Sudah ada beberapa inovasi dari beberapa teman seperti, seperti partner kami dari UGM. Baru-baru ini, kami berkoordinasi dengan LIPI dan mereka juga melakukan pengumpulan. Kami merasa bahwa semakin banyak gerakan-gerakan yang bisa menunjukkan pengelolaan, pengolahan, dan pengumpulan masker ini bisa dilakukan dengan sehat, aman, dan bijak. Dengan begitu, masyarakat akan lebih tenang dalam menghadapi masa yang tidak menentu seperti sekarang," papar Rendy.

Selain masalah keselamatan, limbah masker juga mencemari lingkunngan. Sifat material yang mudah terurai menjadi mikroplastik dalam waktu singkat bisa berakhir di mana pun, seperti di sumber air minum, di makanan, dan di tanah. 

"Kami di Parongpong sendiri selalu meriset dalam skala kecil, rapid prototyping pilot project yang diharapkan jika bisa bekerja sama dengan pemerintah maupun produsen dan masyarakat. Jadi kita bisa bareng-bareng menyelesaikan limbah masker sekali pakai. Karena saat ini jumlah sudah 2,8 juta penggunaannya per menit di seluruh dunia,"  ujar Rendy.

Sampai saat ini, lanjut lelaki yang juga General Manager Rumah Stroberi Bandung, pihaknya belum mengumpulkan limbah masker karena termasuk B3. Penanganan dan pengolahannya memerlukan perlakuan khusus dan sangat ketat agar virus tak tersebar ke mana-mana.

Ia mengaku perlu koordinasi yang baik antara pemerintah, produsen, dan masyarakat untuk mencari tahu cara mengumpulkannnya yang paling tepat. "Persoalan limbah masker menantang sekali, karena masker ini langsung menjadi media yang menempel langsung sama para penggunanya dan dalam hal ini kami tidak dan belum untuk menyentuh ranah masker dari tenaga medis atau dari rumah sakit atau dari klinik. Ini benar-benar mau mencari solusi dari masker sekali pakai dari rumah tangga," kata Rendy menjabarkan.

3 dari 4 halaman

3 Solusi

 

Rendy menegaskan, saat ini pihaknya sedang duduk bersama dengan beberapa produsen masker untuk mencari cara. Pertama, mengedukasi masyarakat untuk bisa, minimal mempersiapkan proses pengumpulan limbah masker sehingga menjadi lebih tepat. Contohnya memotong masker-masker sehingga tidak bisa dipakai dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Kedua, saat ini kami sedang bekerja sama dengan perusahaan masker, di Indonesia yang sudah mengembangkan masker yang bisa di kompos. Jadi kami sedang duduk bersama untuk melihat peluang mengedukasi masyarakat bahwa ada pilihan yang lebih baik," imbuhnya.

Ketiga, mencari cara agar proses pengumpulan masker didukung penuh pemerintah sehingga masker-masker bekas tidak terbuang di mana-mana. Ia berharap generasi mendatang tidak diwariskan sampah pandemi.

"Biar kita saja yang selesaikan, kita harus survive, kita harus bertahan untuk mereka dan harus memberikan masa depan mereka yang lebih baik," kata Rendy.

4 dari 4 halaman

Infografis 6 Cara Aman Buang Masker Sekali Pakai