Sukses

Hangry Buka Restoran Perdana di Tengah Pandemi Covid-19, Padukan 2 Konsep di Satu Tempat

Liputan6.com, Jakarta - Di saat banyak pemilik restoran menutup usaha akibat terdampak pandemi Covid-19, grup Hangry justru membuka pintu mereka untuk kali pertama. Lokasinya berada di kawasan Puri Pesanggrahan, Jakarta Barat. Jadi, apa alasan pihak restoran justru melawan arus?

"Ini sebenernya feedback dari customer. Saat makan Moon Chicken, mereka bilang lebih enjoy bareng temen-temen. Masa PSBB begini, masa kalau mau makan bareng, harus ke rumah temen dulu? Mereka lalu usulin tolong buka restoran supaya bisa makan berempat atau berenam. Dari situ, kita ingin buka lebih banyak dine in," jelas Viktor Abraham, CEO Hangry, yang akrab disapa Bram, dalam jumpa pers virtual, Kamis, 26 Februari 2021.

Bisnis Hangry bukan tidak terdampak, apalagi mereka baru merintis usaha pada akhir 2019. Saat awal PSBB diterapkan, omzet perusahaan turun sampai 30 persen. Tapi, situasi itu tak berlangsung lama karena setelah bisnis membaik, pendapatan melesat hingga 22 kali lipat. 

"Dulu orang mulai coba-coba masak di rumah. Lama-lama sadar, masak enak itu enggak gampang, biayanya juga enggak murah. Orang mulai pesen-pesen lagi," katanya.

Business Lead Hangry, Kenny Timothy Ivander, menyebut restoran yang dinamai Hangry The Alley menggabungkan dua konsep utama brand sebagai inspirasi interior restoran, yakni Moon Chicken dan San Gyu. Maka, restoran pun memadukan gaya milenial yang kental dengan spot Instagrammable dan unsur simplisiti ala Jepang.

Sementara, nama The Alley diambil dari bentuk restoran yang memiliki lorong panjang sebelum memasuki area makan. Dalam restoran tersebut, konsumen tidak hanya bisa memilih menu dari salah satu brand Hangry, melainkan semua merek yang kini bernaung. Hal tersebut dimaksudkan agar bisa memenuhi preferensi konsumen yang berbeda-beda.

"Kita pengen berikan experience untuk dinikmati customer selain lewat makanan. Kita ingin engage langsung dengan customer sehingga kita putuskan buka restoran dine in. Konsumen jadi enggak hanya nikmati makanannya, tapi juga layanan dan tempat," tutur Kenny.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Target Ambisius

Salah satu upaya mendekatkan konsumen dengan restoran adalah lewat challenge. Saat ini, restoran punya program Race to Galaxy yang menantang para konsumen menyantap 10 potong ayam dalam 10 menit di tempat. Tentu ada imbalan bagi pemenangnya.

Menurut Kenny, tantangan tersebut disambut baik pelanggan mereka yang didominasi generasi milenial dan generasi Z. "Ke depan tantangannya bisa berbeda lagi," imbuh dia.

Kenny menargetkan 50 restoran bisa dibuka tahun ini. Tapi, tak semua restoran akan mengadopsi konsep The Alley. Sebagian nantinya akan menghadirkan menu dari satu brand saja sehingga lebih variatif. Lokasinya tak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di luar area tersebut.

Untuk mendukung itu, Hangry merancang protokol kesehatan yang ketat bagi pengunjung dan karyawan. Penyediaan hand sanitiser, pengukuran suhu karyawan dan pelanggan, serta pemakaian masker saat tidak makan dan minum adalah beberapa protokol yang diberlakukan. 

Selain itu, restoran juga membatasi kapasitas tamu hingga 50 persen dan menata meja, juga kursi agar bisa menjaga jarak aman. Di sisi lain, QR Code diberlakukan dalam proses pemesanan untuk meminimalkan kontak yang tidak perlu. Bagaimana dengan sertifikasi CHSE?

"Sudah ada 18 outlet yang memiliki sertifikat CHSE. Sisanya dalam pengajuan. Kemarin sebenarnya sudah ngajuin, tapi kuotanya habis. Sekarang kita tunggu dari mereka," Kenny menerangkan.

Hangry juga berambisi untuk membuka total 150 outlet pada 2021. Dua kota di luar Jabodetabek yang jadi sasaran utama, yakni Bandung dan Surabaya. "Kita juga invest effort di branding. Orang selama ini hanya lihat Hangry di delivery platform dan apps. Brand engagement lebih dikit," imbuh Bram.

3 dari 4 halaman

Cara Aman Pesan Makanan Online

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: