Sukses

Gaya Hidup Biksu Kaya dari Korea Selatan yang Tuai Kontroversi

Liputan6.com, Jakarta - Seorang biksu Buddha terkenal asal Korea Selatan telah menarik diri dari kehidupan publik setelah gaya hidupnya yang tak mirip Zen mendapat kecaman. Fenomena itu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu, 21 November 2020, menambahkan bab lain sejarah agama yang terkadang samar di Negeri Ginseng.

Biksu bernama Haemin Sunim tersebut, baru-baru ini, mengatakan bahwa ia akan mundur dari semua aktivitas publik dan kembali jadi pendidik Zen Buddhisme usai diserang secara daring atas gaya hidupnya. Menurut beberapa kritikus, Sunim lebih mirip seorang bon vivant daripada biksu Buddha.

Penulis buku laris yang juga dikenal sebagai biksu Twitter ini telah mengumpulkan lebih dari satu juta pengikut di platform tersebut.

"Ini adalah kesalahan saya karena gagal memenuhi tugas sebagai biksu," kicau Haemin, pekan lalu. "Mulai hari ini, saya akan meletakkan semuanya dan kembali ke (lembaga pendidikan Buddha Zen) publik untuk mempelajari kata-kata Buddha lagi dan fokus pada doa saya."

Biksu Buddha 46 tahun bernama sekuler Joo Bong Suk ini belajar di Princenton University dan Harvard Divinity School di Amerika Serikat. Juga, mengajar agama Asia di Hampshire College, Massachusetts sebelum kembali ke Seoul untuk jadi biksu pada 2008.

Ia mendapatkan ketenaran internasional untuk buku berjudul, The Things You Can See Only When You Slow Down, yang pertama kali diterbitkan pada 2012, kemudian diterjemahkan ke dalam lebih dari 35 bahasa. Buku karya sang biksu Budhha itu telah terjual lebih dari empat juta eksemplar dan menduduki puncak daftar buku terlaris Amazon Inggris pada 2017, menurut harian Korea Joongang.

2 dari 4 halaman

Gaya Hidup Tuai Kritik

Haemin menerbitkan buku keduanya, Love for Imperfect Things, pada 2016 yang menduduki puncak daftar buku terlaris di Korea Selatan. Ia juga telah mengoperasikan pusat konseling dan meluncurkan perusahaan rintisan yang mengembangkan aplikasi seluler untuk meditasi, tahun lalu.

Kontroversi meletus setelah Haemin baru-baru ini muncul di acara hiburan TvN berjudul On & Off yang mengikuti orang-orang terkenal, baik di rumah dan di tempat kerja. Dalam sebuah episode yang ditayangkan awal bulan ini, Haemin terbangun di sebuah rumah dua lantai yang relatif luas senilai 800 ribu dolar Amerika (Rp11 miliar) dengan pemandangan Gunung Namsan di pusat kota Seoul.

Ia menggunakan perangkat seluler yang mahal dan memamerkan aplikasi meditasi selulernya sebelum berangkat ke perusahaan pengembang aplikasi tersebut untuk bekerja. Rumor mengatakan, ia juga mengendarai Ferrari dan memiliki gedung di pusat kota Seoul.

Semua ini dari seorang biarawan Zen yang menjalani kehidupan keras yang kalimat dari buku larisnya, Pemberian Sejati dilakukan tanpa mengharapkan imbalan apa pun, telah dikutip secara luas di Korea Selatan dan di tempat lain.

Salah satu serangan paling parah terhadap karakter Haemin datang dari Krokodile Choi, penyanyi utama band heavy metal Victim Mentality yang video YouTube-nya mengecam apa yang ia lihat sebagai kemunafikan Haemin.

"Ia adalah orang paling serakah yang pernah saya kenal,” kata Choi di saluran YouTube-nya. "Ia menghasilkan uang dengan menipu orang-orang yang terluka secara emosional dengan kata-kata yang tak mendukung."

3 dari 4 halaman

Banyak yang Jauh Lebih Kaya

Chang Yong-jin, seorang jurnalis yang telah lama meliput serba-serbi agama Buddha di Korea Selatan, berkata bahwa ada biksu Buddha lain di negara itu yang jauh lebih kaya daripada Haemin. Tapi, Haemin mendapat lebih banyak kritik karena ia telah menyamar sebagai dirinya yang murni dan jadi selebritas, sementara biksu lain sebagian besar tak terlihat oleh publik.

"Orang-orang mengira Haemin akan berbeda dari mereka dan mereka semakin kecewa ketika ternyata ia bukan pengecualian," katanya di acara berita radio.

Seperti kebanyakan biksu Buddha Korea, Haemin ditahbiskan oleh denominasi terbesar negara itu, Ordo Jogye, yang telah lama dirundung tuduhan korupsi dan perselisihan antar faksi. Mantan kepala eksekutifnya, Seoljeong, dipaksa mundur pada 2018 di tengah tuduhan memalsukan kredensial akademis, mengumpulkan kekayaan berjumlah besar, dan melanggar sumpah selibat.

Pada 1994, Kuil Jogye di pusat kota Seoul menyaksikan faksi-faksi yang bersaing dari para biksu bentrok dengan kekerasan atas kendali pos-pos eksekutif ordo. Kala itu, banyak biksu dan polisi anti-huru hara yang terluka.

Dalam sebuah survei tahun 2015, dari 51 juta penduduk negara itu, jumlah yang diidentifikasi sebagai penganut Buddha mencapai 7,6 juta, turun 30 persen dari 10 tahun sebelumnya. Protestan berjumlah 9,7 juta orang, diikuti Katolik sebanyak 3,9 juta.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: