Sukses

Virus Corona Masih Ganas, Ethiopian Airlines Tetap Terbang ke China

Liputan6.com, Jakarta -  Sekarang ini, hampir semua maskapai penerbangan dari berbagai negara untuk sementara tidak melayani rute penerbangan dari dan ke China. Wabah virus corona yang berasal dari Wuhan, China, dan sudah menyebar ke banyak negara jadi penyebab utamanya.

Sampai Selasa, 11 Februari 2020, sekitar 43 ribu orang terdampak virus corona, 1.019 orang meninggal dunia, dan 4.043 dinyatakan sudah sembuh. Di saat corona masih ganas, ada maskapai yang tetap setia melayani rute penerbangan ke negeri tirai bambu tersebut. Setidaknya, ada satu maskapai yang masih melayani rute tersebut, yaitu Ethiopian Airlines.

Dikenal sebagai maskapai terbesar dari Afrika, Ethiopian Airlines, akan tetap terbang ke China, khususnya ke Beijing, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, and Hong Kong, di tengah kekhawatiran wabah yang mematikan itu. Padahal, sudah banyak maskapai penerbangan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang telah membatalkan atau mengurangi layanan penerbangan ke berbagai kota di China.

Sementara, maskapai dari Afrika Timur yang juga pesaing utama Ethiopian Airlines, Kenya Airways dan RwandAir, sejak 31 Januari 2020 sudah menyatakan telah menangguhkan semua penerbangan dari dan ke China sampai pemberitahuan lebih lanjut. Mereka baru akan meninjau kembali keputusan tersebut pada akhir bulan ini.

Dilansir dari South China Morning Post, Selasa, 11 Februari 2020, kepala eksekutif Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, mengatakan maskapai itu tidak akan melepas rute, yang termasuk di antara rute yang paling menguntungkan itu. Tewolde mengatakan kepada media, maskapainya telah terbang ke China sejak 1973 dan menunda penerbangan ke negara itu adalah sebuah tindakan yang tidak etis.

"Secara moral untuk berhenti terbang ke China hari ini tidak akan diterima karena masalah sementara mereka," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Hubungan Dekat dengan China

Menurut, Tewolde, kalau mereka menghentikan layanan, China dan Afrika akan sepenuhnya terputus. "Kita harus mengambil tindakan pencegahan maksimum, namun menghentikan penerbangan bukan satu di antaranya," ucapnya.

Selain berusaha untuk meningkatkan pendapatan, para analis mencatat bahwa maskapai itu berada di bawah kendali negara yang ketat, dan Ethiopia tidak akan melakukan sesuatu yang dapat merusak hubungan bilateral mereka yang kuat dengan China.

Ethiopia termasuk negara di benua Afrika dengan jumlah imigran China terbesar. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang terlibat dalam pembangunan proyek infrastruktur. Proyek-proyek itu dibiayai dengan pinjaman dari China.

Tahun lalu, China terpaksa merestrukturisasi utang Ethiopia. Ethiopia juga merupakan penerima utama investasi asing langsung dari China.

Beragam faktor itu sepertinya membuat pemerintah Ethiopia menekan pihak maskapai untuk tetap melayani rute penerbangan dari dan ke China meski di tengah ancaman wabah virus corona.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Wabah Corona Belum Teratasi, Peserta Lomba Lari Maraton di Jepang Dibatasi
Artikel Selanjutnya
Cek Fakta: Miliarder China Sebut Penderita Virus Corona Mencapai 1,5 Juta Orang, Benarkah?