Indonesia Raih Rating Utang AAA di China, Purbaya Optimistis Panda Bond Laris

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, peringkat utang Indonesia mendapatkan rating AAA, yang termasuk paling tinggi dari Lianhe Credit Rating.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Indonesia memperoleh peringkat utang tertinggi, yakni AAA dengan outlook stabil, dari Lianhe Credit Rating di China. Peringkat tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah menjelang penerbitan Panda Bond senilai US$1 miliar pada 23 Juli 2026.

Purbaya mengatakan peringkat AAA mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia serta meningkatkan kepercayaan investor di pasar obligasi Tiongkok yang merupakan salah satu pasar surat utang terbesar di dunia. Pemerintah menilai capaian tersebut akan memperkuat akses pembiayaan dengan biaya yang lebih kompetitif.

"Jadi AAA itu yang paling tinggi. Jadi di China peringkat utang kita itu yang mentok atas, rata kanan ya,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, di Kementerian Keuangan, Selasa (21/7/2026).

Menurut Purbaya, Lianhe Credit Rating memberikan peringkat tertinggi karena menilai ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 6%, memiliki fundamental yang solid, menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, serta mampu bertahan menghadapi guncangan eksternal.

Lembaga pemeringkat itu juga menilai rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB masih relatif rendah, didukung kapasitas pembayaran utang yang kuat serta cadangan devisa yang memadai. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang memperkuat profil kredit Indonesia di pasar internasional.

“Dengan peringkat AAA tersebut, kami berharap penerbitan surat utang Indonesia di sana tidak akan mengalami kesulitan,” ujar Purbaya.

Pemerintah menargetkan penerbitan perdana Panda Bond sebesar US$ 1 miliar  atau sekitar Rp 17,8 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.890) sebagai langkah awal memasuki pasar obligasi Tiongkok. Purbaya mengatakan nilai penerbitan sengaja dibatasi meski potensi permintaan diperkirakan besar karena pemerintah ingin menguji minat investor terlebih dahulu.

 

Peluang Penerbitan Panda Bond Lebih besar

Menurut dia, pemerintah membuka peluang menerbitkan Panda Bond dalam jumlah lebih besar pada tahap berikutnya apabila respons pasar tetap positif. Lead underwriter penerbitan tersebut adalah Bank of China dengan dukungan ICBC, CITIC, CICC, dan DBS sebagai joint lead underwriters sekaligus joint bookrunners.

Purbaya menambahkan respons investor Tiongkok terhadap rencana penerbitan Panda Bond sejauh ini sangat baik. Pemerintah optimistis keberhasilan memperoleh rating AAA akan memperluas basis investor sekaligus memperkuat kepercayaan global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6