5 Ayat Al-Quran tentang Pentingnya Memaafkan Orang Lain, Hati Bersih Jiwa Tenang

Salah satu ajaran yang ditekankan secara berulang dalam kitab suci ini adalah sikap pemaaf.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur'an tentang pentingnya memaafkan orang lain menjadi landasan utama dalam membangun relasi sosial yang harmonis dalam Islam. Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan horizontal antar-sesama manusia.

Salah satu ajaran yang ditekankan secara berulang dalam kitab suci ini adalah sikap pemaaf. Konsep maaf dalam perspektif Al-Qur'an bukan sekadar tindakan sosial, melainkan ibadah yang bernilai pahala besar di sisi Allah Swt.

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Dalam interaksi sehari-hari, konflik dan perselisihan menjadi hal yang tak terhindarkan. Di sinilah urgensi sikap memaafkan menjadi sangat penting. Al-Qur'an mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik dan membersihkan hati dari dendam serta kebencian.

Niken Widiyawati dalam studi Konsep Maaf Perspektif Al-Qur'an (Studi Tafsir Tematik) menjelaskan, kata maaf dalam Al-Qur'an secara terminologi ditemukan dalam tiga kata kunci: 'afw, ṣafḥ, dan ghafara, masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda namun saling melengkapi dalam membentuk konsep pemaafan yang sempurna.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Pentingnya Memaafkan Orang Lain

1. Surat Ali 'Imran Ayat 134

Arab: الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Latin: Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā'i waḍ-ḍarrā'i wal-kāẓimīna al-ghaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

2. Surat Al-Baqarah Ayat 263

Arab: قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Latin: Qaulun ma'rūfuw wa maghfiratun khairum min ṣadaqatin yatba'uhā adzā, wallāhu ghaniyyun ḥalīm

Artinya: Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

3. Surat Asy-Syura Ayat 40

Arab: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Latin: Wa jazā'u sayyi'atin sayyi'atum miṡluhā, fa man 'afā wa aṣlaḥa fa ajruhū 'alallāh, innahū lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn

Artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

4. Surat An-Nur Ayat 22

Arab: وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Latin: Wa lā ya'tali ulul-faḍli minkum was-sa'ati ay yu'tū ulil-qurbā wal-masākīna wal-muhājirīna fī sabīlillāh, walya'fū walyaṣfaḥū, alā tuḥibbūna ay yaghfirallāhu lakum, wallāhu ghafūrur raḥīm

Artinya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

5. Surat Al-A'raf Ayat 199

Arab: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Latin: Khużil-'afwa wa'mur bil-'urfi wa a'riḍ 'anil-jāhilīn

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

Makna Mendalam Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Memaafkan

1. Tiga Tingkatan Sikap dalam Menghadapi Kesalahan Orang Lain

Dalam menafsirkan Surat Ali 'Imran ayat 134, M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan sikap yang dianjurkan Al-Qur'an ketika menghadapi kesalahan orang lain.

Tingkatan pertama adalah menahan amarah (al-kāẓimīna al-ghaiẓ). Kata kāẓimīn terambil dari akar kata yang berarti menahan dan menutup rapat-rapat, seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Pada tahap ini, seseorang masih menyimpan perasaan tidak senang namun mampu mengendalikan diri.

Tingkatan kedua adalah memaafkan (al-'āfīna 'anin-nās). Kata 'afw secara bahasa berarti menghapus. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa seseorang yang memaafkan orang lain berarti ia telah menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir menambahkan bahwa sifat memaafkan ini lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah, karena seseorang dapat menahan amarah karena kebencian, tetapi memaafkan berarti benar-benar menghilangkan kebencian tersebut.

Tingkatan ketiga adalah berbuat kebajikan (al-muḥsinīn). M. Quraish Shihab menegaskan bahwa tingkatan ini merupakan puncak akhlak mulia, yaitu tidak hanya memaafkan tetapi juga berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepadanya.

2. Keutamaan Maaf di Atas Sedekah

Surat Al-Baqarah ayat 263 menegaskan bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan tindakan menyakiti.

Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa menyambut orang dengan perkataan yang baik dan sikap yang lembut lebih baik dibanding memberikan sedekah dengan dibarengi perlakuan yang menyakitkan atau ucapan yang jelek.

Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an juga menekankan bahwa pemberian maaf memiliki fungsi membersihkan hati dan menjinakkan jiwa, yang merupakan tujuan utama dari sedekah itu sendiri.

3. Maaf sebagai Jalan Mendapatkan Ampunan Allah

Dalam Surat An-Nur ayat 22, Allah mengaitkan perintah memaafkan dengan janji ampunan-Nya. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini turun terkait peristiwa besar yang dialami keluarga Abu Bakar saat Aisyah difitnah.

Abu Bakar bersumpah tidak akan menafkahi Misthah yang terlibat dalam penyebaran fitnah, namun Al-Qur'an memotivasi Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada. Perintah memaafkan dalam ayat ini disampaikan tanpa syarat adanya permintaan maaf terlebih dahulu, menunjukkan bahwa memberi maaf adalah keutamaan yang dianjurkan bahkan sebelum diminta.

4. Terminologi Maaf dalam Al-Qur'an

Niken Widiyawati dalam skripsinya Konsep Maaf Perspektif Al-Qur'an (Studi Tafsir Tematik) mengidentifikasi tiga term utama maaf dalam Al-Qur'an:

Pertama, kata 'afw yang secara bahasa dimaknai memaafkan dan menghapus kesalahan orang lain. Kata ini ditemukan sebanyak 35 kali dalam Al-Qur'an dan pada umumnya merujuk pada penghapusan dosa dan kesalahan.

Imam Ghazali yang dikutip oleh M. Quraish Shihab menyatakan bahwa 'afwu Allah lebih tinggi nilainya daripada maghfirah-Nya, karena 'afw berarti menghapus secara total, sedangkan maghfirah berarti menutup—sesuatu yang ditutup pada hakikatnya masih tetap ada.

Kedua, kata ṣafḥ yang bermakna "lapang" dan "lembaran baru". M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dari akar kata aṣ-ṣafḥ lahir kata ṣafḥāt yang berarti lembaran yang terhampar, memberi kesan bahwa yang melakukannya membuka lembaran baru, putih bersih, belum pernah dinodai. Ṣafḥ berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada 'afw karena tidak hanya menghapus kesalahan tetapi juga melapangkan hati hingga mampu kembali menjalin hubungan baik.

Ketiga, kata ghafara yang berarti "menutup". M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa al-ghafūr berarti Allah menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya.5. Maaf Tanpa Syarat Permintaan Maaf

Ade Nailul Huda dan Muhammad Azizan Fitriana dalam penelitian Resepsi Terhadap Konsep Pemaafan dalam Al-Qur'an mengemukakan bahwa salah satu konsep penting dalam Al-Qur'an adalah perintah memaafkan meskipun tanpa didahului permintaan maaf.

Hal ini didasarkan pada Surat An-Nur ayat 22 yang menggunakan bentuk fi'il mudhari' dengan lam amar yang menunjukkan perintah yang berlaku terus-menerus. Al-Maraghi juga menegaskan bahwa Al-Qur'an memberi perintah kepada manusia agar mau memilih memaafkan meskipun orang yang menyakiti tidak mau meminta maaf terlebih dahulu.

 

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur'an tentang Pentingnya Memaafkan Orang Lain

1. Mendapatkan Kecintaan dan Ampunan Allah

Orang yang memaafkan kesalahan orang lain akan mendapatkan kecintaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali 'Imran ayat 134: "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". Selain itu, Allah menjanjikan ampunan bagi mereka yang mau memaafkan, sebagaimana dalam Surat An-Nur ayat 22: "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".

2. Membersihkan Hati dari Dendam dan Kebencian

Memaafkan adalah obat bagi penyakit hati. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa memaafkan merupakan salah satu bentuk pengendalian nafsu yang menjadi inti pembinaan akhlak dalam Islam. Dengan memaafkan, seseorang membebaskan dirinya dari belenggu dendam dan kebencian yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.

3. Mendatangkan Ketenangan dan Kebahagiaan Batin

Penelitian Ade Nailul Huda dan Muhammad Azizan Fitriana menunjukkan bahwa mayoritas responden (93,5%) merasakan kelegaan setelah memaafkan. Habib Abdurrahman Al Habsyi menyatakan, "Memaafkan membawa Anda kepada kebahagiaan. Tidak memaafkan menarik Anda kepada kegelisahan".

4. Mempererat Hubungan Sosial dan Menjaga Perdamaian

Sikap pemaaf menjadi fondasi terciptanya perdamaian dalam masyarakat. Niken Widiyawati dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain penting dilakukan untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia dan menghindari sifat dendam serta kebencian demi terwujudnya perdamaian dalam masyarakat.

5. Mendapatkan Kemuliaan dan Pahala Besar dari Allah

Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwatta': "Tidaklah Allah menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan". Surat Asy-Syura ayat 40 juga menegaskan bahwa pahala orang yang memaafkan dan berbuat baik berada di sisi Allah.

 

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran

1. Apa saja ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk memaafkan?

Ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk memaafkan di antaranya: Surat Ali 'Imran ayat 134 (perintah menahan amarah dan memaafkan), Surat Al-Baqarah ayat 263 (keutamaan maaf di atas sedekah), Surat Asy-Syura ayat 40 (pahala memaafkan di sisi Allah), Surat An-Nur ayat 22 (perintah memaafkan dan berlapang dada), dan Surat Al-A'raf ayat 199 (perintah menjadi pemaaf).

2. Apa perbedaan antara 'afw, ṣafḥ, dan maghfirah dalam Al-Qur'an?

'Afw berarti menghapus kesalahan secara total; ṣafḥ berarti melapangkan hati dan membuka lembaran baru tanpa meninggalkan bekas; sedangkan maghfirah berarti menutup kesalahan—sesuatu yang ditutup pada hakikatnya masih tetap ada, hanya tidak terlihat. Menurut Imam Ghazali, 'afw lebih tinggi nilainya daripada maghfirah.

3. Apakah memaafkan harus didahului dengan permintaan maaf?

Tidak. Al-Qur'an dalam Surat An-Nur ayat 22 memerintahkan untuk memaafkan tanpa mensyaratkan adanya permintaan maaf terlebih dahulu. Al-Maraghi menegaskan bahwa Al-Qur'an memberi perintah agar manusia mau memaafkan meskipun orang yang menyakiti tidak mau meminta maaf.

4. Mengapa memaafkan lebih baik daripada membalas?

Karena memaafkan membawa banyak kebaikan: mendapatkan ampunan dan kecintaan Allah, membersihkan hati dari dendam, mendatangkan ketenangan batin, mempererat hubungan sosial, serta mendapatkan kemuliaan dan pahala besar. Surat Al-Baqarah ayat 263 juga menegaskan bahwa maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai tindakan menyakiti.

5. Bagaimana cara melatih diri untuk menjadi pribadi yang pemaaf?

Pertama, memahami bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Setiap anak Adam memiliki dosa, dan sebaik-baiknya adalah yang bertaubat". Kedua, menyadari bahwa memaafkan bermanfaat bagi diri sendiri. Ketiga, meminta penjelasan (tabayyun) untuk memahami alasan di balik perbuatan menyakitkan. Keempat, berlatih menahan amarah dan membiasakan diri memaafkan secara bertahap.