Banjir Bangkok Diprediksi Rugikan Ekonomi Thailand hingga Rp 5,8 Triliun

Banjir di Bangkok dan 41 provinsi Thailand sejak 16 September menewaskan delapan orang dan merendam 580 ribu rumah.

Diterbitkan 29 September 2026, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi ibu kota Thailand, Bangkok, karena sebagian wilayahnya masih terendam banjir usai hujan lebat akhir pekan lalu. Akibat banjir juga berdampak terhadap ekonomi Thailand.

Seluruh permukiman terendam dan jaringan drainase kewalahan. Curah hujan mencapai 320 mm dalam dua hingga tiga hari, hampir setara dengan curah hujan yang biasa diterima sepanjang September.

"Banjir ini diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini, menurunkan pertumbuhan menjadi 2,1 persen, dan memangkas pertumbuhan kuartal ketiga sekitar 0,5 poin persentase menjadi 1,7%," kata seseorang dari Departemen Ekonomi Universitas Rangsit, Aat Pisanwanich, dikutip dari VnExpress International, Selasa (29/9/2026).

Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand Unsit Sampuntharat menuturkan, lebih dari 80.000 warga yang tinggal di area banjir tidak bisa meninggalkan rumah mereka. Ia menambahkan,  dapur umum keliling dan perahu tengah dikerahkan untuk membantu.

Bangkok menjadi salah satu dari 41 provinsi di Thailand yang dilanda banjir sejak 16 September, menewaskan sedikitnya delapan orang dan berdampak pada lebih dari 580.000 rumah.

Banjir ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi setidaknya 11 miliar baht atau Rp 5,8 triliun (asumsi kurs baht terhadap rupiah 535.5) secara nasional, dan berpotensi terus bertambah jika situasi tidak kunjung membaik.

Ekonomi terbesar ketiga Asia Tenggara ini sebelumnya sudah tertinggal dari negara-negara sekawasan sejak pandemi Covid-19. Thailand tumbuh 1,9% secara tahunan pada kuartal kedua 2026, masih turun tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 2,8%.

 

Ribuan Warga Mengungsi, Waduk di Rayong Meluap

Bangkok dan wilayah timur diperkirakan menanggung dampak paling berat, terutama bisnis grosir dan ritel. Sementara itu, sektor industri dan pertanian diperkirakan terdampak di wilayah lain. Aat menyebut kondisi ini bisa memperlambat pemulihan ekonomi Thailand secara keseluruhan.

Warga terpaksa mengarungi air setinggi pinggang di kawasan Bang Kapi, salah satu lingkungan terparah di Bangkok, untuk membeli kebutuhan pokok. Sejumlah pedagang bahkan mendirikan lapak dengan kotak plastik dan drum yang mengapung.

Sedikitnya 5.901 orang di Bangkok telah dipindahkan ke 234 pusat evakuasi. Kota ini berdiri di atas delta sungai berlumpur lunak hanya 1,5 meter di atas permukaan laut dan tenggelam beberapa milimeter setiap tahun.

Lebih jauh ke timur, di provinsi pesisir Rayong yang berbatasan dengan kawasan industri besar, otoritas memerintahkan evakuasi pada 28 September. Langkah ini diambil setelah air banjir membuat dua waduk melampaui kapasitasnya.

Pada 2025, banjir dahsyat di wilayah selatan Thailand menewaskan sedikitnya 145 orang dan merendam lebih dari 33.000 rumah. Bencana itu turut merusak fasilitas penting seperti sekolah, rumah sakit, dan jalan raya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6