Lirik Mahalul Qiyam Lengkap untuk Acara Maulid Nabi Teks Arab, Latin, Arti dan Kandungannya

Lirik Mahalul Qiyam lengkap untuk acara Maulid Nabi menjadi bacaan dalam rangkaian ritual keagamaan paling sakral.

Diterbitkan 29 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lirik Mahalul Qiyam lengkap untuk acara Maulid Nabi menjadi bacaan dalam rangkaian ritual keagamaan paling sakral. Lazimnya, dalam peringatan kelahiran Rasulullah SAW di Indonesia dibacakan berbagai sholawat, yang salah satunya adalah Barzanji.

Tradisi mahalul qiyam ini pertama kali dipopulerkan oleh Imam Tajuddin As-Subki, ulama ahli hadis yang mencapai derajat Hujjatul Islam, sebagaimana dikutip dalam skripsi Rahmawati berjudul Analisis Al-Munada dalam Syair Mahallul Qiyam (UIN Datokarama Palu, 2022).

Mahallul Qiyam berasal dari kata Arab maḥall al-qiyām yang berarti “tempat berdiri”, merujuk pada momen jamaah berdiri saat pembacaan shalawat yang mengiringi kisah kelahiran Nabi. Prof. Dr. Muhammad Aman Al-Jami dalam Perayaan Maulid Nabi dalam Perspektif Islam (Pustaka Al-Mubarak) mengungkapkan perayaan maulid pertama kali muncul pada masa Dinasti Ubaidiyah dan tidak dikenal oleh tiga generasi sebelumnya.

Merujuk berbagai sumber, artikel ini menyajikan lirik Mahallul Qiyam secara lengkap untuk acara Mulid Nabi, makna mendalam, tata cara, serta hikmahnya.

Lirik Mahalul Qiyam Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Bacaan Mahallul Qiyam Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya

Mahallul Qiyam merupakan bagian dari rangkaian pembacaan maulid yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut bacaan Mahallul Qiyam lengkap beserta tulisan Arab, transliterasi Latin, dan terjemahannya.

1. Shalawat Pembuka dan Marhaban

Arab: صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا جَدَّ الْحُسَيْنِ مَرْحَبًا

Latin: Shallallāhu ‘alā Muhammad, shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Marhaban yā marhaban yā marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban.

Artinya: “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya. Selamat datang, selamat datang, selamat datang. Selamat datang wahai kakek Husain, selamat datang.”

2. Ya Nabi Salam ‘Alaika

Arab: يَا نَبِي سَلَامٌ عَلَيْكَ، يَا رَسُولُ سَلَامٌ عَلَيْكَ يَا حَبِيبُ سَلَامٌ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

Latin: Yā nabī salāmun ‘alayka, yā rasūlu salāmun ‘alayka.

Yā habību salāmun ‘alayka, shalawātullāhi ‘alayka.

Artinya: “Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu. Wahai Rasul, salam sejahtera untukmu. Wahai Kekasih, salam sejahtera untukmu. Semoga shalawat Allah tercurah kepadamu.”

3. Asyraqal Badru ‘Alaina

Arab: أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُورُ مِثْلَ حُسْنِكَ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُورِ

Latin: Asyraqal badru ‘alaynā, fakhtafat minhul budūru.

Mitsla husnika mā ra’aynā, qaththu yā wajhas-surūri.

Artinya: “Telah terbit purnama di atas kami, sehingga purnama-purnama lainnya menjadi redup karenanya. Belum pernah kami melihat keindahan seperti keelokanmu, wahai wajah yang penuh kegembiraan.”

4. Anta Syamsun Anta Badrun

Arab: أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ، أَنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورِ أَنْتَ إِكْسِيرٌ وَغَالِي، أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُورِ

Latin: Anta syamsun anta badrun, anta nūrun fawqa nūri.

Anta iksīrun wa ghālī, anta mishbāhus-shudūri.

Artinya: “Engkau laksana matahari, engkau laksana purnama. Engkau adalah cahaya di atas cahaya. Engkau laksana obat yang berharga dan mahal, engkau adalah lentera bagi hati.”

5. Yā Habībī Yā Muhammad

Arab: يَا حَبِيبِي يَا مُحَمَّدُ، يَا عَرُوسَ الْخَافِقَيْنِ يَا مُؤَيَّدُ يَا مُمَجَّدُ، يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَيْنِ

Latin: Yā habībī yā Muhammad, yā ‘arūsal-khāfiqayn.

Yā mu’ayyad yā mumajjad, yā imāmal-qiblatayn.

Artinya: “Wahai Kekasihku, wahai Muhammad. Wahai pengantin Timur dan Barat. Wahai yang diperkuat (oleh Allah), wahai yang dimuliakan, wahai imam dua kiblat.”

6. Man Ra’ā Wajhaka Yas‘ad

Arab: مَنْ رَأَى وَجْهَكَ يَسْعَدْ، يَا كَرِيمَ الْوَالِدَيْنِ حَوْضُكَ الصَّافِي الْمُبَرَّدُ، وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُورِ

Latin: Man ra’ā wajhaka yas‘ad, yā karīmal-wālidayni.

Hawdhukas-shāfil-mubarrad, wirdunā yawman-nusyūri.

Artinya: “Barang siapa melihat wajahmu, pasti berbahagia, wahai insan yang memiliki kedua orang tua yang mulia. Telagamu jernih dan sejuk, yang kelak menjadi tempat kedatangan kami pada hari kebangkitan.”

7. Mā Ra’aynā al-‘Īsa Hannat

Arab: مَا رَأَيْنَا الْعِيسَ حَنَّتْ، بِالسُّرَى إِلَّا إِلَيْكَ وَالْغَمَامَةُ قَدْ أَظَلَّتْ، وَالْمَلَأُ صَلُّوا عَلَيْكَ

Latin: Mā ra’aynal-‘īsa hannat, bis-surā illā ilayka.

Wal-ghamāmatu qad azhallat, wal-mala’u shallū ‘alayka.

Artinya: “Belum pernah kami melihat unta-unta yang merintih dalam perjalanan malam kecuali menuju kepadamu. Awan telah menaungimu, dan para makhluk bershalawat untukmu.”

Makna Mendalam Lirik Mahalul Qiyam

1. Salam penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW

Frasa “Yā Nabī salām ‘alayka” bukan sekadar sapaan, tetapi menjadi ungkapan penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Salam kepada Nabi juga bermakna doa keselamatan dan keberkahan, sekaligus pengakuan atas kedudukan beliau sebagai utusan Allah.

2. Metafora cahaya dan keindahan

Syair “Asyraqal badru ‘alaynā” yang berarti “telah terbit purnama di atas kami” menggambarkan kehadiran Nabi sebagai cahaya petunjuk. Purnama menjadi metafora karena cahayanya menerangi kegelapan malam, sebagaimana risalah Nabi Muhammad SAW menerangi manusia dari kegelapan jahiliah menuju jalan Islam.

Ungkapan “Anta syamsun anta badrun” juga menggambarkan Nabi dengan metafora matahari dan bulan, sebagai simbol kemuliaan, keindahan, dan cahaya petunjuk yang beliau bawa.

3. Ekspresi kerinduan kepada Rasulullah

Kalimat “Mitsla husnik mā ra’aynā” berarti “kami belum pernah melihat keindahan seperti keindahanmu”. Syair ini menggambarkan kekaguman terhadap keindahan akhlak dan pribadi Rasulullah SAW.

Kerinduan kepada Nabi tidak berhenti pada perasaan, tetapi semestinya diwujudkan dengan meneladani akhlak, sunnah, kasih sayang, kejujuran, dan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

4. Pengakuan terhadap telaga Nabi dan harapan syafaat

Ungkapan “Haudlukash shāfil mubarrad” menggambarkan telaga Nabi yang jernih dan menyegarkan. Dalam tradisi keislaman, telaga Nabi berkaitan dengan telaga yang akan didatangi umat beliau di akhirat.

Syair tersebut menjadi ungkapan harapan seorang Muslim agar termasuk umat yang memperoleh karunia Allah dan mendapatkan kesempatan mendatangi telaga Rasulullah SAW.

5. Kedudukan Nabi sebagai imam dan pemimpin

Frasa “Yā imāmal qiblataini” berarti “wahai imam dua kiblat”. Ungkapan tersebut berkaitan dengan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam dan sejarah dua kiblat, yakni Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram.

Dalam kajian bahasa Arab, syair-syair Mahallul Qiyam juga memperlihatkan penggunaan berbagai bentuk munada, seperti mufrad ‘alam, nakirah maqsudah, dan mudhaf. Struktur tersebut menunjukkan kekayaan bahasa Arab dalam menyampaikan penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Tata Cara dan Waktu Membaca Mahallul Qiyam

1. Dibaca pada bagian tertentu dalam rangkaian maulid

Mahallul Qiyam merupakan bagian dari rangkaian pembacaan maulid. Jamaah biasanya mulai berdiri ketika pembacaan sampai pada bagian yang mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang dalam sejumlah tradisi ditandai dengan lafaz “Wulida Nabiyyun”.

2. Jamaah berdiri dan membaca shalawat bersama

Setelah bagian tersebut, pembaca maulid melantunkan shalawat dan jamaah berdiri bersama. Shalawat kemudian dilantunkan secara berjamaah, biasanya dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk untuk memandu bacaan.

Dalam praktiknya, posisi jamaah dapat menghadap kiblat atau mengikuti arah majelis sesuai tradisi setempat. Setelah rangkaian Mahallul Qiyam selesai, jamaah kembali duduk dan pembacaan maulid dilanjutkan hingga doa penutup.

3. Banyak dilakukan pada bulan Rabiul Awal

Mahallul Qiyam paling sering dijumpai dalam peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Namun, praktik tersebut juga dapat ditemukan dalam majelis shalawat, pengajian, atau kegiatan keagamaan lainnya di luar bulan tersebut.

Hikmah Memahami Lirik Mahallul Qiyam:

1. Menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW

Memahami makna syair Mahallul Qiyam dapat membuat pembacaan shalawat tidak sekadar menjadi lantunan, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kecintaan tersebut idealnya diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan meneladani akhlak beliau.

2. Meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah

Berdiri dan melantunkan shalawat secara bersama-sama dapat menciptakan suasana yang khidmat. Penghayatan terhadap makna setiap syair membantu jamaah lebih fokus dalam mengingat Allah dan Rasul-Nya.

3. Memperkuat ukhuwah dan kebersamaan

Mahallul Qiyam biasanya dilakukan secara berjamaah. Kesamaan gerakan dan lantunan shalawat menciptakan suasana kebersamaan serta memperkuat hubungan sosial antarsesama Muslim.

Dalam konteks Indonesia, tradisi ini juga menjadi bagian dari praktik keagamaan masyarakat yang diwariskan dalam berbagai majelis maulid.

4. Menjadi sarana dzikir dan tafakkur

Aktivitas membaca shalawat dapat menjadi sarana mengingat Allah dan merenungkan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam. Semangat mengingat Allah dalam berbagai keadaan juga disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 191.

5. Mengajarkan sikap hormat dan adab

Mahallul Qiyam mengajarkan pentingnya penghormatan kepada sosok yang dimuliakan. Dalam hadis riwayat Muslim terdapat perintah Nabi kepada para sahabat Anshar, “Berdirilah untuk tuan kalian,” yang sering dijadikan salah satu landasan pembahasan mengenai berdiri sebagai bentuk penghormatan.

 

Pertanyaan Seputar Mahallul Qiyam

1. Apa hukum berdiri saat Mahallul Qiyam?

Hukum berdiri saat Mahallul Qiyam menjadi persoalan khilafiah di kalangan ulama. Sebagian ulama membolehkannya, bahkan memandangnya sebagai bentuk penghormatan yang baik kepada Nabi. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjelaskan praktik berdiri ketika mendengar kisah kelahiran Nabi sebagai bentuk istihsan dan menyebut adanya ulama yang mempraktikkannya.

2. Apa yang dimaksud dengan Mahallul Qiyam?

Secara bahasa, Mahallul Qiyam berarti “tempat berdiri”. Dalam rangkaian pembacaan maulid, istilah ini merujuk pada bagian ketika jamaah berdiri sambil melantunkan shalawat dan syair pujian kepada Rasulullah SAW, khususnya ketika sampai pada kisah kelahiran beliau.

3. Siapa yang pertama kali mempraktikkan Mahallul Qiyam?

Dalam literatur yang sering dijadikan rujukan oleh kalangan yang membahas tradisi ini, praktik berdiri ketika pembacaan maulid antara lain dikaitkan dengan Imam Tajuddin As-Subki. Kisah tersebut disebut dalam I‘anatut Thalibin karya Sayyid Bakri Syatha.

4. Apa makna Mahallul Qiyam dalam tradisi Indonesia?

Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, Mahallul Qiyam umumnya dipahami sebagai ungkapan kegembiraan, penghormatan, dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Berdiri bersama ketika membaca shalawat juga menjadi simbol penghormatan terhadap Rasulullah.

5. Apakah Mahallul Qiyam terdapat secara khusus dalam Al-Qur'an atau hadis?

Tidak terdapat ayat Al-Qur'an atau hadis yang secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk berdiri pada bagian tertentu dari pembacaan maulid. Karena itu, dasar dan hukum praktik Mahallul Qiyam menjadi pembahasan fikih yang memiliki perbedaan pendapat.

Sebagian ulama membolehkannya berdasarkan prinsip istihsan serta dalil-dalil umum mengenai penghormatan. Di sisi lain, terdapat ulama yang tidak menganggap praktik tersebut memiliki tuntunan khusus dari Nabi dan generasi awal Islam. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Mahallul Qiyam perlu ditempatkan sebagai persoalan khilafiah, bukan sebagai perkara yang disepakati seluruh ulama.