Menjaga Hak Anak Indonesia Bersekolah di Arab Saudi

Tidak boleh ada anak Indonesia yang putus sekolah atau tidak mendapatkan akses pendidikan.

Diterbitkan 14 Juni 2026, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di balik aktivitas belajar di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), ada perjuangan panjang untuk memastikan setiap anak Indonesia tetap memiliki kesempatan duduk di bangku sekolah.

Bagi SIJ, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang memenuhi syarat dan siapa yang tidak. Sekolah ini berusaha menjadi pintu yang tetap terbuka bagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan tempat belajar.

“Tidak boleh ada anak Indonesia yang putus sekolah atau tidak mendapatkan akses pendidikan,” tegas Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, di Jeddah, Minggu (14/6).

Prinsip tersebut menjadi dasar berbagai kebijakan sekolah. SIJ tidak menerapkan jalur zonasi, jalur prestasi, maupun persyaratan perpindahan orang tua sebagaimana banyak sekolah di Indonesia.

Setiap anak yang memiliki hubungan dengan Indonesia dan membutuhkan layanan pendidikan akan diupayakan mendapatkan solusi.

Kondisi di lapangan sering kali tidak sederhana. Ada siswa yang datang terlambat mendaftar sehingga usia mereka tidak lagi sesuai dengan jenjang pendidikan yang seharusnya.

Namun, sekolah tidak memilih jalan mudah dengan menolak mereka. Guru dan pihak sekolah mencari cara agar anak tersebut tetap bisa kembali belajar sesuai kondisi masing-masing.

Komitmen terhadap akses pendidikan juga terlihat melalui keberadaan layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Di antara ribuan siswa yang belajar di SIJ, terdapat anak-anak yang membutuhkan pendekatan pembelajaran berbeda. Mereka tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama seperti siswa lainnya.

Karena itu, SIJ menghadirkan kelas khusus bagi siswa berkebutuhan khusus. Program tersebut mulai diterapkan sejak tahun ajaran lalu.

Saat ini, sekitar 14 siswa memperoleh layanan sesuai karakteristik masing-masing, termasuk siswa dengan disleksia dan spektrum autisme.

Pembelajaran disusun berdasarkan kemampuan individu. Penilaian mereka tidak hanya dilihat dari angka, namun melalui catatan perkembangan yang menggambarkan kemampuan, proses belajar, dan capaian setiap anak.

Bagi orang tua, catatan tersebut menjadi panduan penting untuk mendampingi anak di rumah. Melayani 1.368 siswa dengan fasilitas yang terbatas bukan pekerjaan mudah.

Saat ini, SIJ masih menghadapi persoalan ruang kelas dan jumlah guru. Dengan 56 guru yang menangani ribuan siswa, kebutuhan tenaga pendidik menjadi salah satu tantangan terbesar.

Menurut perhitungan sekolah, jumlah guru yang tersedia idealnya hanya mampu melayani sekitar 600 siswa.

Untuk menutup kekurangan tersebut, komite sekolah menghadirkan guru lokal melalui dukungan pembiayaan dari orang tua siswa dan mekanisme subsidi silang.

Dukungan itu tidak hanya membantu kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memberikan kesempatan bagi lebih dari 100 siswa yatim untuk tetap memperoleh pendidikan di SIJ.

 

Inovasi

Keterbatasan ruang kelas juga melahirkan inovasi lain melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Melalui program Kejar Paket A, B, dan C, siswa tetap dapat mengikuti pendidikan meski daya tampung kelas reguler terbatas. Pembelajaran dilakukan secara daring dengan pertemuan tertentu di sekolah untuk kegiatan akademik dan evaluasi.

Jika tersedia ruang di kelas formal, peserta didik PKBM dapat diarahkan masuk ke jalur pendidikan reguler.

Selama ini, SIJ menjalankan kegiatan belajar mengajar di gedung sewa dengan biaya sekitar Rp 6,5 miliar setiap tahun. Namun, harapan memiliki kampus permanen perlahan mulai terbuka.

Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan pembangunan gedung baru setelah pemerintah Arab Saudi menyetujui penyewaan lahan selama 50 tahun untuk kebutuhan sekolah.

Rencana pembangunan tersebut melibatkan beberapa kementerian. Kementerian Luar Negeri menangani penyediaan lahan, Kementerian Pekerjaan Umum bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik, sementara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan pengelolaan serta fasilitas pendidikan.

Bagi Mahrani, kampus permanen bukan hanya soal bangunan. Lebih dari itu, tempat baru tersebut menjadi simbol keberlanjutan pendidikan anak-anak Indonesia di Arab Saudi.

Sebab setiap anak yang belajar di SIJ membawa cerita masing-masing. Ada yang lahir jauh dari Indonesia, ada yang tumbuh di antara dua budaya, dan ada yang mengenal Tanah Air melalui sekolah ini.

Di Jeddah, sekolah itu menjadi tempat mereka menemukan kembali arti pulang. Bukan melalui jarak yang ditempuh, melainkan lewat nilai, bahasa, dan rasa Indonesia yang terus dijaga.