Ragam Tradisi Menyambut 1 Muharram di Berbagai Daerah Indonesia

Terdapat berbagai tradisi menyambut 1 Muharram di berbagai daerah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke

Diterbitkan 13 Juni 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pergantian tahun baru Islam senantiasa menjadi momentum istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Terdapat berbagai tradisi menyambut 1 Muharram di berbagai daerah Indonesia, yang menjadi bukti bahwa ajaran Islam telah menjadi bagian dari sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sebagai negara dengan akar sejarah dan keragaman budaya yang sangat kaya, pergantian kalender Hijriah di nusantara sering kali disambut dengan ragam festival, ritual adat, dan perayaan lokal. Tradisi-tradisi ini tidak hanya merepresentasikan ungkapan syukur, tetapi juga menjadi potret akulturasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal.

Islam telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Dalam hal ini, umat Islam patut bersyukur menjadi mayoritas di tengah masyarakat yang plural tersebut.

Namun, dari kacamata syariat, berbagai perayaan ini turut memunculkan diskursus kritis di kalangan ulama mengenai batas antara kebudayaan dan penyimpangan akidah. Berikut ini adalah berbagai tradisi menyambut 1 Muharram di berbagai daerah di Indonesia, merangkum berbagai sumber.

1. Sumatra Barat: Tabuik dari Pariaman

Di Pariaman, Sumatera Barat, tradisi Tabuik menjadi ikon budaya yang sudah ada sejak abad ke-19. Upacara ini berlangsung selama 10 hari—dimulai 1 Muharram hingga puncaknya pada 10 Muharram (Asyura). Kata “Tabuik” berasal dari “Tabut” (peti/keranda) yang dilafalkan dengan dialek Minang, mengacu pada replika peti yang dihias dengan bunga dan kain warna-warni, lalu diarak keliling kampung.

Tradisi ini awalnya diperkenalkan oleh penganut Syiah dari India Selatan pada tahun 1826 untuk memperingati wafatnya Husain bin Ali, cucu Rasulullah ﷺ yang gugur di Karbala. Seiring waktu, tradisi ini menjadi bagian dari adat Minangkabau yang kental dengan nilai sosial dan kebersamaan.

2. Bengkulu: Tabot, Warisan Lintas Budaya

Dari Bengkulu, ada tradisi serupa yang disebut Tabot. Ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) sebagai bentuk tolak bala dan penyambutan tahun baru Islam.

Tak hanya itu, masyarakat Jawa yang merantau ke Bengkulu juga melestarikan ritual Suroan. Mereka berkumpul di masjid dengan membawa nasi takir pelontang—wadah dari daun pisang berbentuk segi empat yang dihias janur kuning sebagai simbol rasa syukur.

3. Aceh: Pawai Ta‘aruf, Meugang, dan Kanji Asyura

Aceh dikenal dengan Pawai Ta‘aruf yang melibatkan mobil hias dan ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat. Acara ini bukan sekadar karnaval, tetapi syiar Islam untuk memperkuat identitas keislaman daerah.

Masyarakat Aceh juga merayakan Meugang—memasak daging dalam jumlah besar dan menyantapnya bersama keluarga serta anak yatim. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa Kerajaan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607–1636) sebagai bentuk syukur dan sedekah.

Tak ketinggalan, Kanji Asyura atau bubur Asyura yang dimasak secara gotong-royong dalam panci besar di tempat umum. Bubur ini kemudian dibagikan ke tetangga dan menjadi menu wajib saat berbuka puasa Asyura (10 Muharram), sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur atas keselamatan Nabi Nuh dari banjir besar.

4. Keraton Yogyakarta & Surakarta: Mubeng Beteng dan Tapa Bisu

Bagi masyarakat Jawa, Muharram lebih dikenal sebagai Bulan Suro, sebuah akulturasi Islam dan budaya Jawa yang digagas Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 8 Juli 1633 M.

Di Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng (mengelilingi benteng) dilakukan pada malam 1 Suro. Para abdi dalem dan masyarakat berjalan kaki mengitari benteng keraton sejauh 4–5 km tanpa alas kaki dan tanpa berbicara—dikenal sebagai Tapa Bisu, sebagai bentuk refleksi diri dan introspeksi di tahun baru.

Sementara di Surakarta, Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran juga menggelar tradisi serupa. Keduanya diawali dengan Jamasan Pusaka (pembersihan benda pusaka) pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro.

5. Tulungagung: Larung Kepala Kerbau

Masyarakat Tulungagung, Jawa Timur, memiliki ritual unik: melarungkan kepala kerbau ke Laut Selatan Popoh. Kepala kerbau diletakkan di sampan bersama tumpeng nasi kuning besar dan diarak sebelum didoakan bersama. Tujuannya: memohon keselamatan bagi pengunjung dan kesejahteraan bagi warga sekitar.

6. Boyolali: Sedekah Gunung Merapi

Di lereng Gunung Merapi, tepatnya Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, masyarakat menggelar Sedekah Gunung Merapi dengan cara melarung kepala kerbau di puncak gunung sebagai bentuk tolak bala dan rasa syukur.

7. Ponorogo: Grebeg Suro

Grebeg Suro di Ponorogo adalah pesta rakyat yang menggabungkan religi, seni, budaya, dan pariwisata. Tradisi tahunan ini menjadi daya tarik wisata sekaligus wujud syiar Islam di tahun baru Hijriah.

8. Lainnya di Jawa Timur: Baritan, Tirakatan, dan Memandikan Keris

Di lereng Gunung Raung, tradisi Baritan diisi doa bersama, makan bersama, dan saling tukar makanan untuk menolak bala. Sementara di Surabaya, terdapat ritual memandikan keris pusaka sebagai bagian dari penyucian diri menjelang tahun baru.

9. Bangka Belitung: Nganggung

Masyarakat Bangka Belitung merayakan 1 Muharram dengan Nganggung—makan bersama keluarga dan tetangga. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi, di mana setiap keluarga berlomba menyambut tamu dengan berbagai sajian.

10. Sambas, Kalbar: Kue Lapis Wajib

Di Sambas, Kalimantan Barat, kue lapis hadir sebagai menu wajib saat warga saling berkunjung menyambut 1 Muharram.

11. Kalimantan Utara: Yasinan Keliling Sungai Kayan

Masyarakat Kalimantan Utara membaca Surah Yasin dan berdoa sambil mengelilingi Sungai Kayan—tradisi turun-temurun sejak zaman kerajaan.

12. Kutai Kartanegara & Sungai Mariam, Kaltim: Pawai & Bersih Desa

Di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, pawai 1 Muharram diramaikan masyarakat dan santri. Sementara di Desa Sungai Mariam, tradisi Bersih Desa dilakukan sebagai simbol penyucian diri dan lingkungan, dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama di sepanjang jalan desa.

13. Bugis-Makassar: Belanja Ember dan Gayung

Tradisi unik di kalangan Bugis-Makassar: berbondong-bondong membeli ember, baskom, dan gayung saat 1 Muharram. Tujuannya—sebagai simbol pengharapan akan pintu rezeki yang lebih lancar di tahun mendatang. Tradisi ini merupakan asimilasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.

14. Pinrang, Sulsel & Baubau, Sultra: Syukur Nelayan

Di Kabupaten Pinrang, ritual tahun baru Islam merupakan bentuk syukur para nelayan yang selamat saat mencari ikan hingga ke Kendari. Sementara di Baubau, tradisi membeli wadah air tetap dilestarikan dengan keyakinan serupa.

15. Bua, Luwu: Pawai Napak Tilas

Warga Kecamatan Bua, Luwu, menggelar pawai napak tilas jejak Islam, mulai dari Lapandoso menuju Masjid Jami Bua, lalu dilanjutkan tablig akbar dengan busana serba putih.

16. Lombok Barat: Tolak Balaq dan Mandik Pusake

Warga Lingkungan Karang Buaya, Lombok, menggelar tradisi Tolak Balaq—doa bersama dan adzan di tiap penjuru gang pada malam 1 Muharram, diikuti lebih dari 400 warga. Mereka meyakini malam pergantian tahun sebagai waktu yang mustajab untuk memohon perlindungan Allah dari segala musibah.

Tak hanya itu, Lombok Barat juga memiliki ritual tahunan Mandik Pusake: memandikan keris dari seluruh penjuru Lombok dengan air yang dicampur tujuh jenis bunga. Tradisi ini bertujuan untuk silaturahmi sekaligus melestarikan budaya dan inventarisasi keris pusaka.

17. Desa Kuranji Dalang, NTB: Roah Segare

Roah Segare adalah bentuk syukur masyarakat nelayan Desa Kuranji Dalang kepada Allah atas hasil laut yang melimpah.

18. Maluku Utara: Popas Lipu

Kesultanan Bacan, Maluku Utara, menggelar tradisi Popas Lipu: ritual adat keliling kampung dengan pembacaan doa untuk memohon perlindungan dari bencana dan keberkahan bagi wilayah. Tradisi ini bahkan telah masuk pencatatan Kekayaan Intelektual.

19. Papua: Pengajian, Doa Bersama, dan Bakti Sosial

Di Papua, peringatan 1 Muharram lebih banyak diisi dengan pengajian, doa bersama, serta kegiatan sosial seperti bakti sosial dan pembagian bantuan kepada yang membutuhkan. Momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat kerukunan antarwarga dan menumbuhkan kepedulian.

Tinjauan Syariat: Memisahkan Budaya dan Khurafat

Keanekaragaman tradisi tersebut tentu memperkaya khazanah kebudayaan nasional. Akan tetapi, otoritas keilmuan Islam memberikan batasan tegas agar umat tidak terjebak dalam praktik kesyirikan. Ulasan para ulama dalam literatur keislaman menyoroti secara kritis beberapa tradisi ini.

1. Bantahan Terhadap Pengkeramatan dan Ritual Tolak Bala

Dalam buku "Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?", Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman memberikan peringatan keras terhadap berbagai ritual di tanah air yang mengatasnamakan malam 1 Suro. Beliau secara eksplisit menyoroti tradisi Kirab 1 Syuro yang sarat akan praktik kesyirikan.

Tindakan mencari berkah (ngalap berkah) dari benda pusaka keraton, meyakini kerbau bule memiliki kekuatan gaib, hingga memperebutkan kotoran sapi sebagai jimat keselamatan adalah penyimpangan akidah yang nyata. Menjadikan bulan Muharram sebagai "bulan angker" yang membutuhkan ritual tolak bala atau Larung Sesaji (sedekah laut ke makhluk gaib) bertentangan secara mutlak dengan ajaran tauhid.

2. Memurnikan Kedudukan Muharram dan Syariat Asyura

Lebih jauh, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam bukunya "Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram" (terjemahan Abu Salma Muhammad Rachdie) menegaskan bahwa Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah). Keistimewaan bulan ini tidak terletak pada tradisi kirab atau laku bisu yang tidak memiliki sandaran dalil syar'i, melainkan pada anjuran untuk memperbanyak amal ketaatan, khususnya berpuasa.

Hal ini selaras dengan ulasan dalam Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram (Tim Bimbingan Islam) dan e-book "Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya" (Said Yai), yang mendudukkan bahwa perayaan historis seperti Tabot yang diwarnai ratapan ala Syi'ah bukanlah bagian dari ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.

Umat Islam diajarkan untuk menyambut bulan yang agung ini bukan dengan pesta pora, ritual mistis, atau kesedihan yang berlebihan, melainkan dengan memfokuskan diri pada ibadah puasa Tasu'a (9 Muharram) dan puasa Asyura (10 Muharram) untuk meraih keutamaan penghapusan dosa setahun yang lalu.

Pertanyaan Seputar Topik

Sebutkan 3 contoh tradisi apa saja yang ada di Indonesia.?

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tiga contoh tradisi yang paling populer meliputi Ngaben (Bali), upacara pembakaran jenazah sebagai simbol penyucian; Rambu Solo' (Toraja, Sulawesi Selatan), upacara pemakaman megah untuk mengantar arwah ke alam baka; serta Karapan Sapi (Madura, Jawa Timur), pesta pacuan sapi tradisional.

Apa nama tradisi yang diperingati pada tanggal 1 Suro atau 10 Muharram yang berasal dari pulau Jawa?

Tradisi Malam Satu Suro adalah perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada tanggal 1 Muharram menurut penanggalan Jawa. Tradisi ini memiliki nilai spiritual dan kebudayaan yang penting serta mengandung makna dan simbolisme yang kaya.

1 Muharram biasanya ada acara apa?

Acara 1 Muharram (Tahun Baru Islam) biasanya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian akbar, istighosah, pawai obor, dan santunan anak yatim. Di berbagai daerah di Indonesia, momen ini juga dirayakan dengan tradisi budaya khas, seperti Tabuik di Pariaman serta Kirab Pusaka dan Tradisi Mubeng Beteng di Jawa.

Apa saja tradisi malam 1 Suro?

Malam satu suro terutama didaerah surakarta dan yogyakarta sering diadakan ritual tapa bisu ialah berjalan mengelilingi keraton dalam keheningan total sebagai bentuk instropeksi diri dan mendekatkan diri kepada sang pencipta adapun tradisi lain yaitu berupa labuhan ialah ritual yang dilakukan dipantai atau digunung

Apa saja yang dilakukan saat 1 Muharram?

Pada 1 Muharram (Tahun Baru Islam), umat Muslim dianjurkan untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah, membaca doa akhir dan awal tahun, bersedekah, serta memperbanyak zikir. Momen ini adalah waktu yang tepat untuk memperbarui niat dan meningkatkan amal kebaikan.