Kapan 1 Muharram 1448 Hijriah dan Amalan yang Dianjurkan? Simak Jadwal dan Sunnahnya

Pada akhir Dzulhijjah 1447 H, pertanyaan kapan 1 Muharram 1448 Hijriah dan amalan yang dianjurkan mengemuka menandakan antusiasme umat sambut Tahun Baru Islam

Diterbitkan 12 Juni 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang berakhirnya bulan Dzulhijjah 1447 H, banyak umat Islam mulai mencari tahu kapan 1 Muharram 1448 Hijriah dan amalan yang dianjurkan. Sebab, sebagian besar umat Islam mengetahui keutamaan Muharram sebagai salah satu dari empat Syahrul Hurum.

Secara syariat, Muharram memiliki kedudukan yang sangat luhur. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram." Ayat ini lantas diperkuat dengan hadis Nabi SAW, yang mendudukkan status Muharram sebagai bulan yang dimuliakan.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyebutan Muharram sebagai "Bulan Allah" (Syahrullah) merupakan bentuk pengagungan. Menyambut datangnya momentum mulia ini, umat Islam sepatutnya mengisi waktu dengan ibadah berlandaskan sunah.

Merujuk berbagai literatur otoritatif, berikut ini adalah jadwal 1 Muharam 1448 Hijriah, lengkap dengan amalan-amalan yang dianjurkan di bulan mulia ini.

Jadwal 1 Muharram 1448 Hijriah / 2026 M

Ketetapan jatuhnya awal tahun baru Islam merujuk pada dokumen resmi Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Berdasarkan kalender tersebut, 1 Muharram 1448 H ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026.

Di sisi lain, merujuk pada prinsip penanggalan yang dipublikasikan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid melalui portal Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah, sistem kalender kamariah menetapkan bahwa pergantian hari dimulai semenjak terbenamnya matahari (waktu magrib).

Dengan demikian, malam tahun baru Islam 1448 H secara praktis sudah mulai dihitung sejak Senin petang, 15 Juni 2026.

Kedua rujukan ini memberikan panduan yang jelas bagi umat Islam di Indonesia untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan yang dijuluki Syahrullah (Bulan Allah) ini.

Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram

Bulan Muharram menyimpan bobot teologis yang sangat mendalam. Sebagai salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum), setiap amal kebaikan di bulan ini dijanjikan ganjaran yang berlipat ganda. Berikut adalah amalan-amalan utama yang dianjurkan:

1. Memperbanyak Puasa Sunah Secara Umum

Bulan Muharram adalah waktu paling afdal untuk memperbanyak kuantitas ibadah puasa sunah setelah bulan Ramadan.

Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, "Seutama-utama puasa setelah (puasa) Ramadan adalah (puasa) di bulan Allah, Al-Muharram."

Dalam buku yang ditulis oleh Said Yai, dinukil penjelasan dari Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Beliau menegaskan bahwa hadits ini merupakan dorongan (targhib) yang sangat kuat untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram.

Penyandaran kata "bulan" kepada "Allah" (Syahrullah) adalah bentuk tasyrif (pengagungan), yang menunjukkan kemuliaan waktu tersebut untuk beribadah.

2. Melaksanakan Puasa Asyura (10 Muharram)

Di antara seluruh hari di bulan Muharram, hari ke-10 (Asyura) memiliki kedudukan yang paling istimewa karena merupakan hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Fir'aun.

Ketika ditanya mengenai puasa Asyura, Rasulullah ï·º bersabda, "Dan puasa di hari 'Asyura', saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid memberikan catatan penting dengan mengutip pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra. Beliau menjelaskan bahwa puasa Asyura hanya menggugurkan dosa-dosa kecil (ash-shaghair).

Adapun dosa-dosa besar, seperti meninggalkan shalat wajib atau memakan harta haram, tidak serta-merta gugur hanya dengan puasa sunah, melainkan membutuhkan taubat yang khusus (taubatan nasuha).

3. Melaksanakan Puasa Tasu'a (9 Muharram) dan 11 Muharram

Untuk membedakan syiar ibadah umat Islam dengan tradisi Ahli Kitab (Yahudi) yang juga mengagungkan Asyura, syariat sangat menganjurkan pelaksanaan puasa pada hari kesembilan (Tasu'a).

Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah ï·º bertekad, "Seandainya aku masih hidup di tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam mahakaryanya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa puasa pada tanggal 9 Muharram berfungsi untuk menyelisihi orang Yahudi (mukhalafah).

Selain itu, para ulama menganjurkan puasa formasi tiga hari (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram) sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath) apabila terjadi kesalahan dalam melihat hilal penentuan awal bulan, sehingga kemuliaan puasa Asyura dipastikan tidak terlewatkan.

4. Menahan Diri dari Kezaliman dan Menjauhi Bid'ah

Karena Muharram adalah bulan haram (suci), seorang Muslim dituntut untuk lebih ketat menjaga lisannya, perilakunya, dan akidahnya.

Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36: "Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri di dalamnya...".

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menguraikan bahwa umat Islam sering kali tergelincir pada dua ekstremitas keliru di bulan ini. Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra, umat diharamkan untuk meratap, menyiksa diri, atau menjadikan bulan ini sebagai bulan duka cita atas wafatnya Al-Husain bin Ali (tradisi ekstrem).

Di saat yang sama, umat juga dilarang mengada-adakan ritual khusus seperti mandi tolak bala, menganggap Muharram sebagai bulan sial untuk menikah, atau merayakannya dengan hura-hura bersandarkan pada riwayat-riwayat palsu.

5. Memperbanyak Amal Saleh (Sedekah, Tilawah, Shalat Sunah)

Anjuran beribadah di bulan Muharram bersifat universal ('aam), mencakup seluruh spektrum amal kebaikan, baik ibadah vertikal maupun sosial.

Kaidah ini merujuk pada keutamaan umum Asyhurul Hurum dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36 mengenai pengagungan empat bulan suci.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam tafsirnya menegaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan ini dan menjadikannya luar biasa.

Sebagaimana dosa dilipatgandakan bobotnya, pahala dari setiap amal saleh—seperti bersedekah, menyantuni anak yatim, membaca Al-Qur'an, hingga menjaga silaturahmi—juga akan diberikan ganjaran yang berlipat ganda (mudha'afah).

Menggiatkan sedekah di bulan ini menjadi wujud syukur empiris atas berbagai anugerah keselamatan yang Allah berikan sepanjang tahun.

6. Menghidupkan Syiar Islam dengan Ilmu dan Dakwah

Mengawali tahun baru Islam merupakan waktu yang tepat untuk memperbarui niat dalam menuntut ilmu syar'i dan mendakwahkan ajaran Islam yang murni kepada masyarakat luas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sangat menekankan pentingnya mengedukasi umat (dakwah wa taklim) di bulan Muharram guna meluruskan berbagai kesalahpahaman.

Mengingat bulan ini sering kali dipenuhi dengan dua spektrum bid'ah (kelompok yang meratap dan kelompok yang merayakan dengan hura-hura/klenik), menyebarkan literasi sejarah yang sahih dan membagikan panduan fikih ibadah yang benar merupakan salah satu amal saleh yang bernilai jihad keilmuan.

Dengan menggabungkan ibadah puasa sunah, taubat yang tulus, peningkatan sedekah, serta penyebaran ilmu yang bermanfaat, seorang Muslim telah menempatkan hak-hak Syahrullah (Bulan Allah) ini secara proporsional dan profesional.

Pertanyaan Seputar Kapan 1 Muharram 1448 Hijriah?

Kapan 1 Muharram 1448?

1 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan hari Selasa, 16 Juni 2026. Penetapan awal Tahun Baru Islam ini juga telah diresmikan oleh pemerintah sebagai hari libur nasional. Anda dapat melihat jadwal lengkap hari libur lainnya di situs web resmi Kementerian Luar Negeri RI atau memantau rinciannya melalui artikel

1 Muharram disunnahkan apa saja?

Pada 1 Muharram (Tahun Baru Islam), umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sebagai refleksi dan persiapan diri, seperti membaca doa awal tahun, memperbanyak dzikir dan istighfar, bersedekah, serta bersiap menjalankan puasa sunnah di bulan Muharram.

1 Muharram jatuh pada tanggal berapa?

1 Muharram Jatuh pada 16 Juni 2026

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Tanggal tersebut sekaligus ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Minum susu putih 1 Muharram jam berapa?

Susu merupakan tanda kefitrahan umat Rasulullah SAW. Sementara itu, ulama keturunan Rasulullah, lewat cucunya, Imam Al-Hasan bin Ali, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki mengatakan waktu yang baik untuk meminum susu adalah malam 1 Muharam tepat sebelum mendekati Subuh.

Apakah tahun 1448 atau 1447 merupakan tahun Islam?

Pada tahun 2026, kalender Islam mencakup sebagian dari tahun 1447 H dan 1448 H. Tanggal-tanggal penting seperti Ramadan, Idul Fitri, Haji, Hari Arafah, Idul Adha, Tahun Baru Islam, dan Maulid Nabi didasarkan pada penampakan bulan dan dapat bervariasi tergantung lokasi.