9 Fakta Menarik Bulan Muharram yang Jarang Diketahui Muslim

Sebagai tahun baru Islam, bulan haram dan disebut sebagai 'bulannya Allah', terdapat berbagai fakta menarik bulan Muharram yang jarang diketahui muslim

Diterbitkan 12 Juni 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram tidak sekadar menjadi penanda pergantian kalender dalam sistem penanggalan Islam. Terdapat berbagai fakta menarik bulan Muharram yang jarang diketahui muslim.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, tanggal 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Begitu pula dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pergantian hari dalam kalender Qamariah dimulai semenjak terbenamnya matahari. Dengan demikian, malam tahun baru Islam praktis dihitung sejak Senin petang, 15 Juni 2026.

Meski dirayakan setiap tahun, banyak esensi dan sejarah bulan Muharram yang kerap luput dari perhatian. Sementara, Muharram adalah pembuka tahun, salah satu dari empat Asyahrul Hurum, dan disebut sebagai bulannya Allah SWT.

Merujuk buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya karya Said Yai, serta literatur lainnya, berikut ini adalah fakta-fakta menarik bulan Muharram yang jarang diketahui oleh kaum Muslimin.

1. Bulan Muharram Diberi Nama Langsung oleh Rasulullah

Salah satu fakta paling menarik yang jarang diketahui adalah bahwa nama "Muharram" bukanlah warisan dari masa Jahiliah, melainkan pemberian langsung dari Rasulullah SAW.

Nama Asli Sebelum Islam

Imam Jalaluddin as-Suyuti rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim mengemukakan bahwa sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab di Jazirah tidak mengenal nama "Muharram".

Bulan ini pada awalnya dinamakan Shafar al-Awwal (Shafar Pertama), sedangkan bulan yang kini dikenal sebagai Shafar dinamakan Shafar ats-Tsani (Shafar Kedua).

Perubahan Nama oleh Nabi

Setelah Islam datang, Rasulullah ï·º mengganti nama Shafar al-Awwal menjadi Al-Muharram. Demikian Imam Jalaluddin as-Suyuti ï·º mengemukakan di dalam kitab Syarah Shahih Muslim susunannya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa nama Muharram adalah bagian dari wahyu, sebab Rasulullah ï·º yang langsung memberi nama itu. Tentu beliau melakukan segala sesuatu atas bimbingan dan petunjuk wahyu dari Allah ï·º.

Dari sinilah kata "Muharram" berasal dari akar kata harama yang berarti suci atau terlarang. Penamaan ini untuk menguatkan statusnya sebagai bulan yang diharamkan (suci), karena bangsa Arab pada saat itu sering bersikap berubah-ubah dalam pengharaman bulan—tahun ini diharamkan, tahun depannya dihalalkan.

 

2. Satu-satunya Bulan yang Dinamai "Syahrullah" (Bulan Allah)

Keistimewaan Muharram tidak berhenti pada pemberian nama oleh Rasulullah. Bulan ini mendapatkan gelar istimewa yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya dalam kalender Islam: Syahrullah (Bulan Allah).

Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah (syahrullah) yang bernama Muharram." (HR. Muslim, no. 1163)

Menurut para ulama, penyandaran bulan ini kepada lafazh Allah—sebagaimana istilah Baitullah (rumah Allah) dan Rasulullah (utusan Allah)—menunjukkan pemuliaan dan pengagungan yang sangat besar terhadap bulan Muharram.

Imam al-Qari menjelaskan penyandaran kata syahr (bulan) kepada lafazh Allah adalah untuk mengagungkan. Dan nampaknya maksudnya adalah semua (hari) di bulan Muharram.

Sementara itu, Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (736–795 H) menjelaskan bahwa Muharram disebut dengan Syahrullah (bulan Allah) karena memiliki dua hikmah agung yang berkaitan dengan kemuliaannya di sisi Allah.

Para ulama ahli tafsir juga menegaskan bahwa ketika suatu makhluk disandarkan pada lafzhul jalalah (nama Allah), maka itu mengindikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluk tersebut, sebagaimana istilah Baitullah bagi masjid atau Ka'bah.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata dalam tafsirnya mengenai firman Allah (QS. At-Taubah: 36): "Allah mengkhususkan keempat bulan ini sebagai bulan haram, menjadikannya suci, mengagungkan kehormatannya, dan menjadikan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih berat, serta menjadikan amal saleh dan pahala di dalamnya lebih besar."

Pernyataan ini diperkuat oleh Imam Qatadah rahimahullah yang berkata: "Sungguh kedzaliman yang dilakukan pada bulan haram merupakan seberat-beratnya kesalahan daripada bulan-bulan lainnya."

Penjelasan senada juga disebutkan dalam Tafsir at-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, yang menegaskan bahwa pelipatgandaan pahala dan dosa di bulan-bulan haram merupakan ketetapan syariat yang agung.

 

3. Konsekuensi Berat Dosa di Bulan Haram

Fakta menarik lainnya yang mungkin jarang disadari adalah bahwa bulan Muharram—bersama tiga bulan haram lainnya—memiliki konsekuensi hukum yang lebih berat bagi pelaku dosa maupun orang yang beramal saleh.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..."

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan menzalimi diri dalam ayat ini bersifat umum di semua bulan, namun Allah secara khusus menyebutkan empat bulan haram karena dosa yang dilakukan di dalamnya memiliki konsekuensi yang lebih berat dan pahala yang lebih besar bagi amal saleh.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menambahkan bahwa tiga bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram) berurutan demi menunaikan manasik haji dan umrah, sehingga diharamkan peperangan agar jamaah dapat beribadah dengan aman.

Konsekuensi ini menjadikan Muharram sebagai bulan yang sangat strategis bagi seorang muslim untuk memperbanyak amal saleh sekaligus menjauhi segala bentuk maksiat dengan lebih serius.

 

4. Puasa Asyura, Tradisi yang Sudah Ada Sejak Masa Jahiliah

Salah satu fakta yang mengejutkan adalah bahwa puasa Asyura (10 Muharram) bukanlah ibadah yang baru disyariatkan di masa Islam. Tradisi ini telah dikenal dan diamalkan oleh masyarakat sejak zaman Jahiliah.

Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan: "Sesungguhnya orang-orang Quraisy pada masa Jahiliah biasa berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah ﷺ pun memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, hingga turun perintah wajib puasa Ramadhan. Setelah itu, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa yang mau, silakan berpuasa; dan barang siapa yang tidak mau, silakan meninggalkannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam al-Qurthubi yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa tradisi puasa Asyura yang dilakukan orang-orang Quraisy adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim AS yang masih dipraktikkan secara turun-temurun, sebagaimana ibadah haji.

Fakta lain yang menarik adalah bahwa puasa Asyura pada awal kedatangan Islam di Madinah sempat memiliki status wajib, sebelum kemudian dihapus (mansukh) oleh kewajiban puasa Ramadhan.

Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan para sahabat untuk berpuasa Asyura di awal-awal hijrah, dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau bersabda bahwa puasa Asyura menjadi sunnah—suka-suka, tidak lagi wajib.

 

5. Alasan Kenapa Berpuasa pada 9 dan 11 Muharram

Banyak muslim yang hanya mengetahui puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, namun ternyata terdapat anjuran berpuasa pada tanggal 9 (Tasu'a) dan bahkan 11 Muharram dengan berbagai pertimbangan yang menarik.

Anjuran Puasa Tasu'a (9 Muharram) untuk Menyelisihi Yahudi

Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah ï·º tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Ketika beliau bertanya, mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari diselamatkannya

Nabi Musa 'alaihis salam dari kejaran Fir‘aun, maka mereka berpuasa sebagai bentuk syukur. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda: "Kami lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian." Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Rasulullah ﷺ kemudian menyatakan keinginannya: "Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram)."

Puasa pada 9 Muharram (Tasu'a) bertujuan supaya tidak sama antara puasanya Nabi Muhammad ï·º dan kaum Yahudi. Rasulullah ï·º ingin agar puasa sejak tanggal 9 Muharram sampai 10 Muharram, jadi dua hari puasanya, agar berbeda dengan kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.

Sayangnya, Rasulullah ﷺ tidak sempat melaksanakan niat ini karena beliau wafat sebelum tahun depan tiba. Namun, para sahabat dan tabi‘in tetap menganjurkan puasa Tasu'a sebagai bentuk menyelisihi Ahli Kitab dan mengikuti semangat sunnah.

Puasa 11 Muharram, Antara Kehati-hatian dan Fadhilah Amal

Sebagian ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram. Anjuran ini didasarkan pada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Berpuasalah kalian pada hari 'Asyura, dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah kalian sebelumnya atau sesudahnya."

Para ulama berbeda pendapat mengenai status hadis ini. Syaikh Ahmad Syakir mengkategorikannya sebagai hadits hasan. Sementara itu, Syaikh al-Albani dan para peneliti lainnya mendhaifkannya (melemahkannya) karena buruknya hafalan salah satu perawi.

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menjelaskan bahwa meskipun hadits tersebut dha‘if, tingkat kedha‘ifannya tergolong ringan, tidak termasuk maudhu' (palsu), dan termasuk dalam bab fadhail amal (keutamaan amal). Apalagi telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ anjuran untuk berpuasa pada bulan Muharram secara umum. Dengan demikian, puasa tanggal 11 Muharram tetap diperbolehkan dan termasuk bagian dari puasa sunnah di bulan Muharram.

Pendapat lain menyebutkan bahwa landasan puasa tanggal 11 Muharram lebih didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram, di samping sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

 

6. Bulan Pertama dalam Kalender Hijriah, Ditetapkan di Masa Umar bin Khattab

Fakta menarik lainnya yang mungkin luput dari perhatian adalah bahwa penetapan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah baru terjadi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.

Setelah Rasulullah ï·º wafat, para sahabat merasakan kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku untuk kepentingan administrasi dan pencatatan peristiwa. Dalam sebuah musyawarah yang melibatkan para tokoh sahabat, diputuskan untuk menjadikan tahun hijrah Rasulullah ï·º dari Makkah ke Madinah sebagai tahun pertama kalender Islam.

Sayyidina Umar kemudian memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama pada susunan tahun Hijriah, karena bulan Muharram adalah bulan yang muncul setelah bulan Dzulhijjah—bulan terakhir dalam penanggalan.

Penetapan ini kemudian menjadi konsensus para sahabat dan diterima oleh seluruh umat Islam hingga saat ini, menjadikan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Hijriah.

 

7. Puasa Asyura Menghapus Dosa Kecil Setahun

Salah satu fakta paling populer sekaligus paling sering disalahpahami adalah tentang keutamaan puasa Asyura dalam menghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa pada hari 'Asyura, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menegaskan bahwa dosa yang digugurkan oleh puasa Asyura—sebagaimana puasa Arafah—adalah dosa-dosa kecil (as-saghair) semata, bukan dosa besar (al-kaba‘ir). Dosa besar membutuhkan taubat nasuha yang disertai dengan meninggalkan dosa tersebut dan mengembalikan hak-hak orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa juga menegaskan, pengguguran dosa pada thaharah (wudhu), shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa Asyura, hanya menggugurkan dosa-dosa kecil saja.

Ini menjadi pengingat penting bahwa keutamaan puasa Asyura tidak boleh dimanfaatkan untuk melalaikan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban dengan alasan "puasa Asyura akan menghapus semuanya". Puasa Asyura adalah sarana pembersih dosa kecil, sementara dosa besar tetap membutuhkan pertobatan yang sungguh-sungguh.

 

8. Bulan Haram yang Paling Utama

Dari sekian banyak bulan yang memiliki keistimewaan, Muharram memiliki status khusus di antara bulan-bulan haram lainnya. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Bulan haram (suci) yang paling utama adalah bulan Allah, Muharram."

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat empat bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), Muharram memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ketiga bulan lainnya.

Di bulan inilah terdapat hari Asyura yang memiliki keistimewaan luar biasa, di samping statusnya sebagai Syahrullah yang disandarkan langsung kepada Allah.

 

9. Bukan Sekadar Bulan, Tapi Momentum Pengampunan dan Perubahan

Fakta terakhir yang tidak kalah menarik adalah bahwa bulan Muharram—khususnya hari Asyura—dikaitkan dengan berbagai peristiwa besar para nabi yang semuanya bermuara pada satu pesan: pertolongan Allah pasti datang bagi orang yang bertakwa.

Pada hari Asyura (10 Muharram), terjadi peristiwa-peristiwa monumental yang diabadikan dalam sejarah kenabian:

  • Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihis salam dan menenggelamkan Fir‘aun
  • Bahtera Nabi Nuh 'alaihis salam berlabuh dengan selamat
  • Nabi Yunus 'alaihis salam dikeluarkan dari perut ikan
  • Nabi Ibrahim 'alaihis salam diselamatkan dari api Namrud
  • Nabi Yusuf 'alaihis salam dibebaskan dari penjara
  • Taubat Nabi Adam 'alaihis salam diterima oleh Allah

Hal ini menjadikan Muharram sebagai momentum spiritual yang komprehensif—bukan hanya untuk meraih ampunan dosa melalui puasa, tetapi juga untuk meneladani kesabaran, keyakinan, dan optimisme para nabi bahwa kebenaran pasti menang.

Pertanyaan Seputar Fakta Menarik Bulan Muharram

Apa saja fakta menarik tentang Muharram?

Bulan Muharram sarat dengan makna keagamaan dan sejarah bagi umat Islam. Tidak hanya sebagai bulan yang ditetapkan Allah (SWT) sebagai bulan suci, tetapi juga sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, menandai hijrah (emigrasi) umat Islam ke Madinah dan berdirinya negara Islam pertama pada tahun 622 M.

Apa keistimewaan bulan Muharram menurut Islam?

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (Asyhurul Hurum) yang sangat dimuliakan. Bulan ini istimewa karena berstatus sebagai "Bulan Allah" (Syahrullah), menjadi pembuka kalender Hijriyah, dan menjadi momen dilipatgandakannya pahala amal kebaikan.

Sejarah apa saja yang terjadi di bulan Muharram?

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan dikenal sebagai salah satu dari empat bulan suci (bulan haram). Bulan ini menyimpan banyak sejarah besar, termasuk

Siapa yang meninggal lebih dulu pada tanggal 10 Muharram?

10 Muharram (Ashura): Perang Karbala terjadi pada hari ini tahun 680. Husain dan sebagian besar kerabat laki-lakinya serta rombongan kecilnya dibantai oleh tentara Umayyah pada akhir hari itu.