Kumpulan Peristiwa Penting yang Diyakini Terjadi pada Bulan Muharram, Awas Risalah Palsu

Terdapat berbagai peristiwa penting yang diyakini terjadi pada bulan Muharram. Namun tak semuanya memiliki landasan yang sahih, sehingga mesti dipilah.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram atau yang dimuliakan dalam Islam. Selain anjuran untuk memperbanyak amal ibadah, terdapat berbagai peristiwa penting yang diyakini terjadi pada bulan Muharram yang tercatat dalam lembar sejarah Islam.

Berbagai literatur keislaman mencatat bahwa pada Muharram, khususnya hari Asyura pada 10 Muharram terjadi peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh para Nabi dan tokoh besar Islam. Namun begitu, umat Islam harus bisa memilah peristiwa-peristiwa ini, dengan memperkaya referensi agar tidak jatuh pada pemahaman yang mengada-ada.

Pasalnya, tidak semua riwayat tentang peristiwa-peristiwa ini memiliki status yang shahih (valid). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ulama lainnya menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadits shahih dari Nabi SAW yang menerangkan peristiwa-peristiwa yang diyakini terjadi pada Muharram tersebut. Sebagiannya berasal dari risalah ahli kitab atau Israiliyat.

Merujuk berbagai literatur kontemporer dan klasik, berikut ini adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram.

1. Keselamatan Nabi Musa AS dan Tenggelamnya Fir'aun

Bulan Muharram, khususnya pada hari 'Asyura (10 Muharram), menjadi saksi bisu atas pertolongan besar Allah SWT kepada utusan-Nya, Nabi Musa AS, beserta kaum Bani Israil. Peristiwa ini menandai berakhirnya penindasan panjang yang dilakukan oleh Fir'aun yang tiran di tanah Mesir.

Saat Nabi Musa dan kaumnya terdesak di tepi Laut Merah dengan pasukan Fir'aun yang mengejar dari belakang, Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa untuk membelah lautan dengan tongkatnya. Bani Israil pun berhasil melintasi lautan tersebut dengan selamat, sementara Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan saat lautan kembali menyatu.

Sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam atas keselamatan ini, Nabi Musa AS melakukan puasa pada hari tersebut. Peristiwa ini terus dikenang hingga masa diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari 'Asyura. Hal ini dijelaskan secara rinci dalam Buku "Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?" karya Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman. Dalam buku tersebut dinukilkan riwayat hadits shahih dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Nabi SAW bertanya kepada orang-orang Yahudi mengenai alasan mereka berpuasa 'Asyura. Mereka menjawab: "Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa".

Mendengar pernyataan tersebut, Nabi Muhammad dengan tegas bersabda: "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian," kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa juga. Penjelasan dari hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim ini menegaskan bahwa puasa 'Asyura disyariatkan dalam Islam murni sebagai bentuk syukur atas kemenangan tauhid, bukan semata-mata mengadopsi tradisi agama lain.

2. Berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh AS

Peristiwa bersejarah lainnya yang juga diyakini terjadi pada bulan Muharram, tepatnya bertepatan dengan hari 'Asyura, adalah berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS di atas Bukit Judi dengan keadaan selamat sentosa. Setelah sekian lama terombang-ambing oleh gelombang banjir bandang yang teramat dahsyat di muka bumi, sebuah azab mengerikan yang ditimpakan Allah kepada kaum kafir yang ingkar dan menolak dakwah tauhid, Nabi Nuh beserta segelintir pengikutnya yang beriman akhirnya menemukan daratan yang aman.

Terselamatkannya umat manusia yang beriman dan berbagai spesies makhluk hidup dari kepunahan massal ini merupakan manifestasi rahmat Allah yang tak terhingga luasnya. Sama halnya dengan tradisi Nabi Musa kelak, Nabi Nuh 'Alaihissalam pun mensyukuri nikmat keselamatan ini dengan cara melakukan ibadah puasa secara khusus pada hari tersebut.

Informasi mengenai peristiwa luhur ini dapat ditemukan dalam buku "Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram" yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dan diterjemahkan oleh Abu Salma Muhammad Rachdie. Dalam buku tersebut, Syaikh Al-Munajjid mengutip sebuah riwayat yang menegaskan bahwa puasa 'Asyura sejatinya memiliki akar kesejarahan yang sangat panjang dalam tradisi para Nabi.

Beliau menyebutkan sebuah riwayat yang berbunyi: "Hari itu juga hari di mana Bahtera Nuh berlabuh di atas gunung Jûdî, maka Nuh pun berpuasa sebagai bentuk rasa syukur".

Riwayat yang disandarkan pada Musnad Imam Ahmad ini serta pemaparan para ulama memberikan dimensi pemahaman yang sangat komprehensif, bahwa bulan Muharram adalah momentum historis dan spiritual yang universal bagi para Nabi terdahulu untuk mengekspresikan rasa syukur mereka kepada Sang Pencipta atas keselamatan dari musibah dan kebinasaan yang menyapu kaum pendosa.

3. Syahidnya Husain bin Ali RA (Tragedi Karbala)

Selain diwarnai oleh peristiwa-peristiwa kemenangan para Nabi dan keselamatan umat beriman, bulan Muharram juga mencatat sebuah tragedi yang sangat memilukan dalam lembaran sejarah politik dan sosial umat Islam, yaitu syahidnya cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA.

Tragedi berdarah dan menyayat hati ini terjadi di padang Karbala, wilayah Irak saat ini, pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah. Gugurnya Husain beserta sejumlah anggota keluarga dan pengikut setianya dalam pertempuran heroik yang sangat tidak seimbang melawan pasukan penguasa saat itu menjadi duka yang amat mendalam bagi seluruh kaum muslimin.

Kendati peristiwa tersebut sangat menyedihkan, syariat Islam telah menetapkan panduan yang baku dan jelas dalam menyikapi musibah, sehingga umat tidak boleh larut dalam kesedihan berlebihan hingga terjerumus ke dalam praktik-praktik bid'ah yang bertentangan dengan kemurnian ajaran agama.

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam bukunya "Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?" memberikan penjelasan yang sangat mencerahkan dan tegas. Beliau menukil pandangan ulama kenamaan, Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali, yang menyoroti penyimpangan ritual terkait hari kematian Husain.

Ibnu Rajab menyatakan: "Adapun menjadikan hari Asyuro sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rafidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik".

Ibnu Rajab secara logis dan syar'i lebih lanjut menegaskan bahwa Allah dan Rasul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para Nabi di masa lalu dijadikan sebagai hari ratapan, lantas bagaimana mungkin perbuatan meratap ini dilegitimasi untuk orang yang derajatnya jelas berada di bawah para Nabi?.

Penjelasan ulama ini merupakan pedoman kuat bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah untuk menjadikan Muharram sebagai bulan ibadah, bukan sebagai ajang meratap, menyiksa fisik, atau menyebarkan sentimen permusuhan.

4. Berbagai Peristiwa Nabi, Tinjauan Kritis

Meskipun kisah Nabi Musa dan Nabi Nuh memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan, terdapat banyak peristiwa nabi lain yang sering kali diklaim jatuh tepat pada hari 'Asyura. Di mimbar-mimbar penceramah, sering dinarasikan bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan diterima taubatnya, Nabi Ibrahim dilahirkan dan diselamatkan dari kobaran api Raja Namrud, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit kulit menahun, Nabi Yunus dimuntahkan dari perut ikan paus, hingga hari di mana Nabi Ya'qub kembali dipertemukan dengan putranya, Nabi Yusuf.

Rangkaian narasi ini disusun sedemikian rupa sehingga hari Asyura terkesan sebagai hari akumulasi mukjizat seluruh Nabi. Namun, ditinjau secara akademis dan ilmu kritik hadits, klaim atas rentetan peristiwa heroik para Nabi tersebut sama sekali tidak memiliki dasar yang valid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, sebagaimana dinukil dalam buku "Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram" karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menegaskan bahwa riwayat-riwayat yang mengaitkan keselamatan nabi-nabi tersebut dengan hari 'Asyura bersumber dari hadits-hadits maudhu' (palsu) dan sarat akan kedustaan.

Cerita-cerita ini diyakini sengaja dirangkai dan disebarkan oleh para pemalsu hadits serta para tukang cerita (qushshosh) di masa lalu semata-mata untuk menarik simpati publik dan mendramatisir keagungan Muharram. Umat Islam diimbau untuk kritis dan hanya menyandarkan keyakinan sejarah pada riwayat shahih, serta tidak ikut menyebarkan kisah fiktif yang cacat sanad demi menjaga kemurnian akidah.

5. Peristiwa-Peristiwa Para Nabi yang Dikaitkan dengan 10 Muharram

Selain ketiga peristiwa utama di atas, sejumlah tradisi Islam, terutama dalam khazanah Ahlussunnah, juga menyebutkan berbagai peristiwa lain yang terjadi pada tanggal 10 Muharram. Namun, para ulama memberikan catatan kritis terhadap beberapa peristiwa di atas. Tidak semua riwayat tentang peristiwa-peristiwa ini memiliki status yang shahih (valid).

Berikut daftar peristiwa yang dikaitkan dengan 10 Muharram namun dianggap lemah secara risalah.

1. Diterimanya taubat Nabi Adam AS

 Setelah melanggar perintah Allah, Nabi Adam bertobat dan Allah menerima taubatnya pada hari Asyura

2. Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api

Diselamatkan dari kobaran api yang dinyalakan oleh Raja Namrud, menjadikannya peristiwa mukjizat

3. Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan

Setelah sekian lama berada di dalam perut ikan, Allah mengeluarkannya pada hari Asyura

4. Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara Mesir

Setelah difitnah oleh Zulaikha, Nabi Yusuf akhirnya dibebaskan pada hari Asyura

5. Nabi Ayyub AS disembuhkan dari penyakitnya

Allah menyembuhkan penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub, mengembalikan kesehatannya setelah sekian lama

6. Allah menciptakan langit dan bumi

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi terjadi pada hari Asyura

7. Dinaikkannya Nabi Isa AS

ke langit Sebagian sumber menyebutkan peristiwa pengangkatan Nabi Isa ke langit terjadi pada 10 Muharram.

Riwayat-riwayat semacam ini umumnya berasal dari tradisi Israiliyat (cerita-cerita yang bersumber dari Ahli Kitab) atau riwayat-riwayat yang lemah (dha’if) bahkan palsu (maudhu’). Oleh karenanya, tidak sepantasnya meyakini atau menyebarluaskan peristiwa-peristiwa ini sebagai fakta sejarah yang pasti tanpa kritik sanad yang ketat.

Hikmah Mengetahui Peristiwa Penting di Bulan Muharram

Mengetahui peristiwa-peristiwa penting di bulan Muharram, baik yang berlandaskan dalil shahih maupun yang perlu diklarifikasi, memberikan kedalaman spiritual dan ketajaman berpikir bagi seorang Muslim.

1. Meningkatkan Kualitas Tauhid dan Ibadah

Dengan memahami bahwa hari 'Asyura memiliki sejarah keselamatan bagi para Nabi (seperti Nabi Musa 'Alaihissalam), seorang Muslim dapat memurnikan niat ibadahnya. Ibadah puasa yang dilakukan bukan lagi sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud syukur atas kemenangan tauhid melawan kebatilan. Hal ini sejalan dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menjadikan momentum tersebut sebagai ajang memperbanyak puasa sunnah, bukan ajang ritual budaya yang menyimpang.

2. Membangun Sikap Kritis terhadap Tradisi (Tabayyun)

Mempelajari sejarah Muharram melatih umat untuk tidak menelan mentah-mentah narasi yang berkembang di masyarakat, terutama terkait mitos bulan "sial" atau ritual-ritual khusus (seperti pesta pora atau kirab pusaka). Hikmahnya adalah lahirnya sikap tabayyun (konfirmasi) dan kemampuan membedakan antara syariat yang murni dengan bid'ah atau khurafat, sehingga seorang Muslim mampu menjaga kemurnian agamanya dari pengaruh budaya yang tidak berlandaskan dalil.

3. Mengambil Ibrah (Pelajaran) Keteguhan Iman

Kisah-kisah sejarah para Nabi yang teruji melalui berbagai cobaan besar, seperti Nabi Nuh yang selamat dari banjir besar dan Nabi Musa yang lolos dari kejaran Fir'aun, memberikan pelajaran berharga tentang pertolongan Allah (nashrullah). Hikmahnya adalah menanamkan optimisme dan keteguhan hati bahwa di balik setiap kesulitan yang menimpa orang beriman, terdapat pertolongan Allah bagi mereka yang sabar dan senantiasa berpegang teguh pada jalan kebenaran.

4. Menghindarkan Diri dari Sikap Berlebihan (Ifrath & Tafrith)

Memahami sejarah secara proporsional melindungi umat dari dua sikap ekstrem. Di satu sisi, umat terhindar dari sikap berlebihan dalam kesedihan (seperti meratapi tragedi Karbala secara berlebihan yang dilarang syariat), dan di sisi lain terhindar dari sikap meremehkan keutamaan bulan Muharram. Hal ini membimbing umat untuk mengambil jalan tengah (wasathiyah) sesuai dengan bimbingan para ulama ahli hadits dan pemahaman salafush shalih.

5. Memperkokoh Tawakal dan Menepis Prasangka Buruk

Memahami bahwa tidak ada waktu yang membawa sial secara inheren (seperti anggapan Muharram/Suro adalah bulan yang buruk untuk menikah atau memulai usaha) akan membebaskan seorang Muslim dari belenggu khurafat tathayyur (menganggap sial). Hikmahnya adalah memperkokoh tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga setiap langkah hidup dijalani dengan penuh rasa percaya diri kepada ketetapan-Nya, tanpa terganggu oleh ketakutan-ketakutan irasional terhadap hitungan bulan atau hari tertentu.

Pertanyaan Seputar Peristiwa Penting Bulan Muharram

Apa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram?

4.Pada bulan Muharram juga Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara kerajaan Mesir akibat fitnah yang menimpanya. 5. Peristiwa Nabi Yunus AS selamat dan keluar dari perut ikan besar yang menelanya terjadi di bulan Muharram. 6.Nabi Ayyub AS disembuhkan dari penyakitnya juga terjadi dibulan Muharram.

Peristiwa apa yang terjadi pada 1 Muharram?

Peristiwa utama yang terjadi pada 1 Muharram adalah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi. Peristiwa penting ini yang menjadi tonggak awal ditetapkannya kalender Hijriah (penanggalan Islam) oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Apa yang terjadi pada tanggal 7 Muharram di Karbala?

Tanggal 7 Muharram adalah hari yang sangat tragis dalam peristiwa Karbala. Pada hari ini, air dihentikan agar tidak sampai ke perkemahan Husain . Cuaca di Karbala sangat panas. Seiring berjalannya hari, anak-anak menjadi sangat haus.

Apa saja sejarah 10 Muharram?

Pertama, pada hari 10 Muharram Nabi Adam AS bertaubat kepada Allah SWT dari dosa-dosanya dan taubat tersebut diterima oleh Allah SWT. Kedua, di tanggal 10 Muharram, kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi berlabuh dengan selamat, di mana pada saat itu dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.