Tradisi Perayaan Asyura 10 Muharam di Indonesia: Antara Historical Event dan Spiritualitas

Asyura memiliki makna yang mendalam bagi umat Islam, termasuk juga di Indonesia. Oleh sebab itu dalam momen Asyura terdapat tradisi untuk merayakannya. Dalam konteks ini perayaan bukan sekadar hura-hura namun memiliki implikasi historis dan spiritual.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Cilacap - Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu hari yang paling bersejarah dan memiliki dimensi spiritual dalam Islam. Di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, perayaan Asyura memiliki makna yang sangat penting dan beragam.

Tahun ini peringatan hari Asyura jatuh pada Minggu tanggal 6 Juli 2025. Atau jika dikonversikan ke penanggalan Qamariyah, maka Hari Asyura tiba pada Sabtu petang, 5 Juli 2025. 

Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang peristiwa sejarah yang penting, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat iman. Asyura memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi Islam. Peristiwa penyelamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun merupakan salah satu peristiwa penting yang dirayakan pada hari Asyura.

Selain itu, Asyura juga memiliki makna spiritual yang mendalam, yaitu sebagai hari untuk berpuasa, berdzikir, dan melakukan amal kebaikan. Di Indonesia, perayaan Asyura seringkali diisi dengan berbagai aktivitas keagamaan, seperti berpuasa, berdzikir, dan melakukan amal kebaikan.

Masyarakat Indonesia memiliki tradisi dan ritual yang unik dalam merayakan Asyura. Dari Sabang sampai Merauke, perayaan Asyura dapat dilihat dalam berbagai bentuk, seperti pengajian, tabligh akbar, dan kegiatan sosial. Perayaan Asyura juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Tulisan ini akan membahas tentang tradisi perayaan di Hari Asyura 10 Muharam di Indonesia, dengan menelusuri makna sejarah dan spiritualitas di balik perayaan ini di mana momen Asyura ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia sebagaimana dinukil dari berbagai sumber, Senin (30/06/25).

 

Simak Video Pilihan Ini:

Tradisi Perayaan Hari Asyura di Indonesia

1. Tabuik (Pariaman, Sumatera Barat)

Tradisi Tabuik adalah salah satu perayaan Asyura paling terkenal di Indonesia. Kata “Tabuik” berasal dari bahasa Arab tabut, yang berarti peti atau tandu jenazah.

Ciri Khas Tradisi:

  • Replika Keranda: Dibuat menyerupai kendaraan perang yang disebut “Tabuik”, dihiasi indah dan diarak keliling kota.
  • Adu Tabuik: Dua tabuik dari kelompok berbeda diarak dan kemudian "dipertemukan" sebelum akhirnya dilarung ke laut.
  • Asal Usul: Dibawa oleh tentara India Muslim (keturunan Syiah) yang bekerja untuk kolonial Inggris pada abad ke-19. Kini lebih bersifat budaya daripada ritual agama.

2. Puasa Asyura dan Sedekah (Berbagai Daerah)

Di banyak wilayah Indonesia seperti Jawa, Madura, dan Kalimantan, umat Islam memperingati 10 Muharram dengan:

  • Puasa Sunnah: Dilakukan pada 9 dan 10 Muharram.
  • Pembagian Makanan: Seperti bubur Asyura, nasi kebuli, atau nasi kotak kepada fakir miskin dan anak yatim.
  • Santunan Anak Yatim: Disebut juga sebagai Lebaran Anak Yatim, mengacu pada hadis yang menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim di bulan Muharram.

3. Bubur Asyura (Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi)

Banyak masyarakat Indonesia menandai hari Asyura dengan membuat bubur Asyura, makanan khas yang dimasak secara gotong royong.

Keunikan Tradisi:

  • Bahan Beragam: Bubur dibuat dari beras, sayuran, rempah, dan kadang daging—melambangkan kebersamaan dan keberkahan.
  • Nilai Sosial: Proses memasaknya dilakukan bersama-sama dan bubur dibagikan kepada tetangga dan orang miskin.

Tradisi Perayaan Hari Asyura di Indonesia (4-5)

4. Zikir dan Doa Bersama (Pesantren dan Majelis Taklim)

Di lingkungan pesantren atau majelis taklim, Asyura diperingati dengan:

  • Pembacaan sejarah Karbala (dengan perspektif Sunni).
  • Dzikir, doa, dan tausiyah: Mengenang perjuangan Nabi dan para sahabat serta memperkuat semangat keislaman.
  • Ceramah keagamaan: Menyampaikan keutamaan bulan Muharram dan pentingnya menjaga keadilan serta keberpihakan kepada yang tertindas.

5. Kenduri dan Ritual Lokal (Jawa dan Lombok)

Beberapa komunitas di Jawa dan Lombok memperingati Asyura dengan kenduri atau selamatan, yang menggabungkan nilai keislaman dan budaya Jawa:

  • Tumpeng Muharram: Sajian nasi tumpeng sebagai simbol doa dan rasa syukur.
  • Pengajian umum: Menjadi momen silaturahmi dan peningkatan keimanan.

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul