Sukses

Top 3 Islami: Sebutan Bulan Muharram itu Keliru Kata UAH, Tirakat Terberat Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat Berguru

UAH mengungkapkan secara makna Muharram dan Al-Muharram bermakna berbeda

Liputan6.com, Jakarta Penjelasan Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengenai penyebutan bulan Muharram adalah keliru menjadi artikel terpopuler di kanal Islami Liputan6.com. Yang benar adalah Al-Muharram.

UAH mengungkapkan secara makna Muharram dan Al-Muharram bermakna berbeda.

Artikel kedua yang juga menyita perhatian adalah tirakat paling berat yang dilakukan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat berguru kepada Nabi Khidir AS.

Sementara, artikel ketiga terpopuler yaitu saran Gus Baha agar seseorang tidak berencana melakukan kebaikan yang muluk-muluk. Lho, kenapa?

Selengkapnya, mari simak Top 3 Islami.

 

Simak Video Pilihan Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

1. Menurut UAH Sebutan Bulan Muharram itu Keliru, Seharusnya Disebut Ini

Penceramah muda Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengungkakan ada  kekeliruan dalam kalender Hijriyah terkait penyebutan bulan Muharram.

Menurut dia, yang benar dalam terminologi Islam adalah Al-Muharram, yang memiliki makna lebih spesifik sebagai bulan untuk meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah SWT, bukan sekadar Muharram yang hanya merujuk pada sesuatu yang diharamkan.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan mengenai bulan Muharram dalam kalender Hijriyah, yang sering disalahpahami.

UAH mengungkapkan bahwa istilah yang benar dalam kalender Hijriyah adalah Al-Muharram, bukan Muharram.

UAH mengingatkan bahwa nama yang benar untuk bulan pertama adalah Al-Muharram. "Tidak ada yang namanya bulan Muharram," jelas UAH dalam kajiannya, dikutip laman Youtube kanal @fansusthananattaki.

"Yang ada adalah Al-Muharram," tegasnya.

Selengkapnya baca di sini

3 dari 4 halaman

2. Kisah Tirakat Terberat Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saat Berguru kepada Nabi Khidir

Nabi Khidir AS merupakan salah seorang Nabiyullah yang diyakini masih hidup hingga saat ini. Berdasarkan hikayat, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pernah bertemu dan berguru kepadanya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tersohor sebagai seorang wali yang memiliki banyak karomah dan gelar kehormatan.

Gelar-gelar tersebut seperti Shultanul Awliya (Rajanya para wali), Al Imam Qutubul Aqtab (pemimpin dan penguasa seluruh wali di alam semesta).

Derajat mulia sebagai waliyullah dan pemipinnya para wali berdasarkan riwayat salah satunya disebabkan karena beliau berguru kepada Nabi Khidir AS dan melaksanakan tirakat yang berat.

Berikut ini kisahnya.

Selengkapnya baca di sini

4 dari 4 halaman

3. Kebaikan Itu Tidak Usah Muluk-Muluk Kata Gus Baha, Emang Kenapa?

Ulama kondang dengan julukan manusia Al-Qur’an asal Rembang, Jawa Tengah yakni KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyarankan agar kebaikan itu tidak usah muluk-muluk atau berlebihan.

Menurut ulama yang merupakan murid Mbah Moen ini, jika hal ini terjadi, boleh jadi kebaikan yang dilakukan oleh seseorang tersebut bisa berdampak tidak baik bagi orang lain. Hal ini beliau sampaikan dalam salah satu ceramahnya.

Sebelum ke pokok pembahasan, Gus Baha menjelaskan hal yang harus dilakukan saat seseorang tidak bisa berbuat secara aktif, seperti sedekah, menolong orang dan lain sebagainya. Menurutnya, yang mesti dilakukan ialah menjaga keburukan kita agar tidak sampai menimpa orang lain.

“Saat kita tidak bisa berbuat baik aktif, misalnya tidak bisa sedekah, tidak bisa menolong orang, setidaknya keburukan kita tidak menimpa orang lain,” terangnya dikutip dari tayangan YouTube Short @SudarnoPranoto, Sabtu (06/07/2024).

Selengkapnya baca di sini

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.