Sukses

Kebaikan Itu Tidak Usah Muluk-Muluk Kata Gus Baha, Emang Kenapa?

Gus Baha mengatakan bahwa kebaikan itu tidak usah berlebihan atau muluk-muluk.

Liputan6.com, Cilacap - Ulama kondang dengan julukan manusia Al-Qur’an asal Rembang, Jawa Tengah yakni KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyarankan agar kebaikan itu tidak usah muluk-muluk atau berlebihan.

Menurut ulama yang merupakan murid Mbah Moen ini, jika hal ini terjadi, boleh jadi kebaikan yang dilakukan oleh seseorang tersebut bisa berdampak tidak baik bagi orang lain. Hal ini beliau sampaikan dalam salah satu ceramahnya.

Sebelum ke pokok pembahasan, Gus Baha menjelaskan hal yang harus dilakukan saat seseorang tidak bisa berbuat secara aktif, seperti sedekah, menolong orang dan lain sebagainya. Menurutnya, yang mesti dilakukan ialah menjaga keburukan kita agar tidak sampai menimpa orang lain.

“Saat kita tidak bisa berbuat baik aktif, misalnya tidak bisa sedekah, tidak bisa menolong orang, setidaknya keburukan kita tidak menimpa orang lain,” terangnya dikutip dari tayangan YouTube Short @SudarnoPranoto, Sabtu (06/07/2024).

 

Simak Video Pilihan Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Bahayanya Dapat Menimpa Orang Lain

Lebih lanjut beliau menerangkan perihal keburukan yang membahayakan orang lain. Beliau mencontohkan saat berpikir menjadi orang kaya yang dermawan.

Menurutnya, dengan berfikir seperti ini seseorang pasti membayangkan orang lain ini miskin. Inilah yang dimaksud dengan berpikir baik, namun buruk bagi orang lain.

“Termasuk keburukan yang terselubung adalah kita punya pikiran yang menurut kita hebat tapi bagi orang lain mungkin bahaya,” terangnya.

“Misalnya kita punya pikiran jadi orang kaya raya yang dermawan, itu artinya kan pikiran baik menjadi orang dermawan, tapi artinya membayangkan orang lain miskin semua, butuh derma kamu,” sambungnya.

“Mana mau orang lain kamu bayangkan miskin, butuh derma kamu, orang lain juga membayangkan kaya dan gak butuh derma, itu namanya kebaikan subyektif,” tandasnya.

3 dari 3 halaman

Kebaikan Jangan Muluk-muluk

Gus Baha menandaskan, bahwa kebaikan itu tidak usah berlebihan atau muluk-muluk. Beliau kembali mencontohkan kebaikan subyektif yang efeknya berbahaya bagi orang lain yakni tatkala kita berfikir menjadi seorang kiai atau ulama yang akan mengajari orang banyak.

Satu sisi, berfikiran seperti itu adalah kebaikan, namun dibalik itu semua ternyata mengandung keburukan sebab dengan mengatakan akan mengajari orang banyak secara otomatis kita berfikiran orang lain banyak yang tidak bisa ngaji.

 “Kamu ingin jadi Kiai yang mengajari orang banyak, oke itu baik, tapi kamu kan membayangkan orang lain tidak bisa ngaji dan kamu saja yang bisa ngaji, sehingga kamu yang ngajari,” terangnya.

“Ya sudahlah, kebaikan itu tidak usah muluk-muluk seperti itu, tandasnya.

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.