Liputan6.com, Jakarta - Hari Maritim Dunia diperingati setiap Kamis terakhir September sebagai momentum untuk menyoroti pentingnya sektor maritim serta penerapan aturan internasional di bidang pelayaran. Pada 2026, peringatan ini jatuh pada 24 September dan menjadi bagian dari tema dua tahunan IMO.
Peringatan Hari Maritim Dunia 2026–2027 mengangkat tema "From Policy to Practice: Powering Maritime Excellence". Melalui tema tersebut, International Maritime Organization (IMO) menekankan pentingnya menerjemahkan kebijakan dan aturan maritim menjadi tindakan nyata untuk mendukung pelayaran yang aman, efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, Hari Maritim Dunia juga relevan untuk melihat luasnya aktivitas ekonomi yang bergantung pada laut, termasuk perikanan. IMO menyebut sedikitnya 80 persen perdagangan internasional bergerak melalui jalur laut, sementara laut juga menjadi sumber pangan dan mata pencaharian bagi jutaan orang di berbagai negara.
Advertisement
Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang Hari Maritim Dunia dan peran nelayan dalam ekonomi Indonesia, Kamis (24/9/2026).
Hari Maritim Dunia 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164253/original/074947200_1742142583-nelayan.jpg)
Melansir laman United Nations, Hari Maritim Dunia diperingati setiap Kamis terakhir September dan pada 2026 jatuh pada 24 September. International Maritime Organization (IMO) menetapkan tema 2026–2027 "From Policy to Practice: Powering Maritime Excellence". Tema tersebut menekankan pentingnya menerjemahkan kebijakan dan aturan maritim menjadi penerapan nyata melalui penguatan kapasitas, pelatihan, kerja sama teknis, serta tata kelola yang efektif.
Meski fokus IMO banyak berkaitan dengan pelayaran internasional, keselamatan, pelaut, pelabuhan, dan perlindungan lingkungan laut, semangat tersebut juga relevan dengan aktivitas perikanan. Di Indonesia, nelayan menjadi salah satu kelompok yang menjalankan kegiatan ekonomi secara langsung di wilayah laut dan perairan, sekaligus terhubung dengan rantai pengolahan, distribusi, serta perdagangan hasil perikanan.
Data terbaru KKP menunjukkan besarnya ekosistem ekonomi tersebut. Berdasarkan data KUSUKA 2024 yang dipublikasikan KKP pada Januari 2026, terdapat lebih dari tiga juta pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan. Sebanyak 43,3 persen merupakan nelayan, sedangkan sekitar 90 persen seluruh pelaku usaha tersebut berada dalam kategori usaha mikro dan kecil.
Advertisement
Peran Nelayan dalam Ekonomi Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794774/original/077538600_1712258088-andreea-munteanu-4PYgyAyveYA-unsplash.jpg)
1. Menjadi Sumber Mata Pencaharian Masyarakat Pesisir
Nelayan memiliki peran penting sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. KKP mencatat jumlah nelayan Indonesia pada 2024 mencapai 3.228.209 orang, terdiri atas 2.819.994 nelayan perairan laut dan 408.215 nelayan perairan umum daratan. Data tersebut menunjukkan besarnya masyarakat yang menjalankan kegiatan ekonomi melalui penangkapan ikan.
Aktivitas tersebut juga berhubungan dengan kebutuhan usaha lain, mulai dari penyediaan alat tangkap, bahan bakar, perbekalan melaut hingga perdagangan hasil tangkapan. Dengan demikian, aktivitas nelayan turut menciptakan perputaran ekonomi di kawasan pesisir.
2. Menopang Ketersediaan Pangan
Hasil tangkapan nelayan menjadi salah satu sumber pangan bagi masyarakat. Pada 2025, KKP mencatat produksi perikanan tangkap mencapai 7,85 juta ton. Angka tersebut menjadi bagian dari total produksi perikanan nasional sebesar 26,26 juta ton yang juga mencakup budidaya ikan dan rumput laut.
Ketersediaan hasil tangkapan kemudian disalurkan melalui pasar dan berbagai jalur distribusi sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai daerah. Peran ini membuat kegiatan perikanan tangkap tidak hanya berkaitan dengan mata pencaharian nelayan, tetapi juga dengan penyediaan bahan pangan.
3. Menggerakkan Rantai Ekonomi Perikanan
Peran nelayan tidak berhenti ketika ikan berhasil ditangkap dan didaratkan. Hasil tersebut masuk ke berbagai tahapan berikutnya, seperti penyortiran, penyimpanan, pengolahan, pengangkutan, hingga pemasaran. SEAFDEC mencatat bahwa sektor perikanan Indonesia mencakup kegiatan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran yang turut meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan.
Rantai tersebut juga melibatkan pelaku usaha mikro dan kecil. KKP menyebut sekitar 90 persen pelaku usaha kelautan dan perikanan berdasarkan data KUSUKA 2024 merupakan usaha mikro dan kecil. Kondisi ini memperlihatkan keterkaitan antara aktivitas nelayan dengan kegiatan ekonomi masyarakat pesisir yang lebih luas.
4. Mendukung Perdagangan dan Ekspor Hasil Perikanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794772/original/002343500_1712258082-anastasia-palagutina-txbXuzTJdSA-unsplash.jpg)
Hasil perikanan Indonesia juga memiliki nilai ekonomi di pasar internasional. KKP mencatat nilai ekspor produk perikanan selama Januari–Desember 2025 mencapai USD6,27 miliar, meningkat 5,2 persen dibandingkan 2024. Komoditas dengan nilai ekspor terbesar antara lain udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut.
Angka ekspor tersebut merupakan nilai dari sektor produk perikanan secara keseluruhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kontribusi nelayan saja. Namun, perikanan tangkap menjadi salah satu sumber bahan baku yang menopang rantai perdagangan tersebut, khususnya untuk berbagai komoditas hasil laut.
5. Memberi Kontribusi terhadap Perekonomian Nasional
Besarnya aktivitas perikanan juga tercermin dalam struktur ekonomi Indonesia. Data BPS yang diperbarui pada 5 Agustus 2026 menunjukkan lapangan usaha perikanan menyumbang 2,56 persen terhadap PDB Indonesia pada triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku. Angka ini memberikan gambaran mengenai posisi ekonomi subsektor perikanan dalam perekonomian nasional.
Kontribusi tersebut berasal dari ekosistem yang lebih luas, meliputi kegiatan penangkapan ikan, budidaya, hingga aktivitas ekonomi yang terkait dengan hasil perikanan. Karena itu, peran nelayan perlu dilihat sebagai bagian dari rantai ekonomi kelautan yang saling terhubung.
6. Mendukung Pengelolaan Laut yang Berkelanjutan
Peran ekonomi nelayan juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya ikan. Indonesia menerapkan berbagai kebijakan pengelolaan perikanan untuk menjaga sumber daya laut sekaligus mempertahankan aktivitas ekonomi masyarakat. SEAFDEC mencatat bahwa pengelolaan perikanan Indonesia mencakup pembagian wilayah pengelolaan, penangkapan ikan berbasis kuota, pengawasan, serta kebijakan yang diarahkan pada pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Arah tersebut sejalan dengan tema Hari Maritim Dunia 2026–2027 yang menekankan perubahan dari kebijakan menuju penerapan nyata. Dalam konteks perikanan, pengelolaan yang diterapkan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga sumber daya laut sekaligus mempertahankan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut.
Advertisement
Tantangan yang Membayangi Kehidupan Nelayan Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3519127/original/056412900_1627036623-nelyan.jpg)
Meski berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan, nelayan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Persoalannya meliputi cuaca, biaya operasional, akses pembiayaan, kondisi lingkungan, hingga keberlanjutan sumber daya ikan.
1. Perubahan Cuaca dan Iklim
Cuaca ekstrem seperti gelombang tinggi dan angin kencang dapat menghambat aktivitas sekaligus meningkatkan risiko keselamatan nelayan. Perubahan iklim juga berpotensi menggeser daerah tangkapan dan memengaruhi hasil ikan.Â
2. Tingginya Biaya Operasional
BBM menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam kegiatan melaut. KKP pada April 2026 menyebut sekitar 70 persen biaya operasional melaut berasal dari BBM, sementara akses dan distribusinya masih menjadi perhatian.
3. Akses Pembiayaan dan Fasilitas
Nelayan dan pelaku usaha kecil masih menghadapi keterbatasan pembiayaan. Ketersediaan fasilitas seperti pabrik es, gudang beku, dan cold storage juga perlu diperkuat agar hasil tangkapan dapat ditangani dengan lebih baik.Â
4. Tekanan terhadap Sumber Daya Laut
Perubahan iklim, kerusakan ekosistem pesisir, dan aktivitas pemanfaatan ruang laut dapat memengaruhi kondisi sumber daya perikanan. KKP mencatat perubahan lingkungan laut berpotensi berdampak pada stok ikan dan penghidupan masyarakat pesisir.
5. Ancaman IUU Fishing
Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing) dapat mengancam keberlanjutan sumber daya ikan dan perekonomian. KKP menyatakan pemberantasan praktik tersebut sepanjang 2020–2025 telah menyelamatkan potensi kerugian negara lebih dari Rp13 triliun.Â
6. Sampah dan Pencemaran Laut
Sampah plastik juga berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan. KKP menyebut sampah laut dapat menurunkan hasil tangkapan hingga 30 persen dan menyebabkan sekitar 30–40 persen alat tangkap rusak akibat tersangkut sampah.Â
7. Keterbatasan Informasi Cuaca
Informasi cuaca dan kondisi laut penting untuk keselamatan maupun efisiensi melaut. KKP bersama BMKG menjalankan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan untuk membantu nelayan memahami prakiraan dan risiko cuaca sebelum beraktivitas.Â
Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan nelayan tidak hanya berkaitan dengan hasil tangkapan, tetapi juga keselamatan, biaya usaha, fasilitas, lingkungan, dan tata kelola. KKP pada November 2025 meluncurkan Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Perikanan Skala Kecil (RAN-PPSK) untuk memperkuat tata kelola dan kesejahteraan nelayan kecil.
Hari Maritim Dunia dan Pentingnya Peran Nelayan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4081796/original/073791100_1657179769-pexels-quang-nguyen-vinh-6346764_1_.jpg)
Peringatan Hari Maritim Dunia 2026 menjadi momentum untuk melihat aktivitas maritim secara lebih luas. Bagi Indonesia, laut bukan hanya jalur pelayaran dan perdagangan internasional, tetapi juga ruang ekonomi bagi jutaan masyarakat pesisir.
Nelayan berperan dalam menyediakan hasil tangkapan, menopang pangan, menggerakkan perdagangan, menciptakan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir, serta menjadi bagian dari rantai produk perikanan hingga pasar internasional. Data 2025 dan 2026 juga menunjukkan bahwa aktivitas perikanan tetap memiliki posisi penting dalam ekonomi Indonesia, sehingga pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Hari Maritim Dunia
Kapan Hari Maritim Dunia 2026 diperingati?
Hari Maritim Dunia 2026 diperingati pada 24 September 2026. Peringatan ini mengangkat tema dua tahunan IMO, yaitu "From Policy to Practice: Powering Maritime Excellence", yang menekankan penerapan kebijakan maritim dalam praktik nyata.
Apa peran nelayan dalam ekonomi Indonesia?
Nelayan berperan dalam menyediakan hasil perikanan untuk kebutuhan pangan sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi di wilayah pesisir. Aktivitas tersebut juga terhubung dengan perdagangan, pengolahan, distribusi, dan berbagai usaha yang berkaitan dengan sektor perikanan.
Seberapa besar kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian Indonesia?
Berdasarkan data BPS, lapangan usaha perikanan menyumbang sekitar 2,56 persen terhadap PDB Indonesia pada triwulan II 2026. Angka ini mencakup kegiatan sektor perikanan secara luas, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kontribusi nelayan saja.
Berapa produksi perikanan tangkap Indonesia pada 2025?
KKP mencatat produksi perikanan tangkap Indonesia mencapai sekitar 7,85 juta ton pada 2025. Jumlah tersebut merupakan bagian dari total produksi perikanan nasional yang juga mencakup sektor budidaya.
Mengapa peran nelayan berkaitan dengan pembangunan maritim berkelanjutan?
Kegiatan penangkapan ikan perlu dikelola agar sumber daya laut tetap tersedia untuk jangka panjang. Kebijakan seperti pengelolaan berbasis kuota, pengawasan wilayah perikanan, dan perlindungan ekosistem menjadi bagian dari upaya menyeimbangkan aktivitas ekonomi dengan keberlanjutan sumber daya laut.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356963/original/076849000_1790227753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-24T122607.841.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348780/original/066704200_1789457937-cek_fakta_-_pekerja_migran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337193/original/082818200_1788236451-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-01T111508.347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4725737/original/013503700_1706149552-matan-levanon-OKEgf_AR6W8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356952/original/046397400_1790227655-Sage_Green_Minimalist_House.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289097/original/084266400_1783392126-Perawatan_dan_Pemupukan_Agar_Cepat_Panen.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4197731/original/027071100_1666240767-pharmacist-checking-medicines-drugstore.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333852/original/049228500_1787809844-Screenshot__252_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456968/original/059102500_1766982723-SnapInsta-Ai_3720053977506767582.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356861/original/091626900_1790223209-f7a041f2-74a5-4ab4-9641-68aa1db62787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356807/original/052174600_1790221357-2137.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)