Cara Menambah Jumlah Ayam Kampung Setiap 2 Bulan agar Ternak Berkembang

Cara menambah jumlah ayam kampung setiap 2 bulan dengan memilih indukan, menetaskan telur, dan mengatur populasi.

Diterbitkan 14 September 2026, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memelihara ayam kampung bisa menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin mengembangkan ternak secara bertahap dari rumah maupun lahan yang lebih luas. Namun, ketika jumlah ayam mulai bertambah, diperlukan pola pemeliharaan yang teratur agar populasi tidak hanya meningkat, tetapi juga tetap sehat dan mudah dikendalikan.

Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah membuat siklus penambahan ayam setiap dua bulan melalui pemilihan indukan, penetasan telur, perawatan anak ayam, hingga seleksi ternak secara berkala. Dengan perencanaan yang tepat, peternak dapat mengetahui berapa banyak ayam yang perlu dipertahankan, dibesarkan, atau dijual sehingga perkembangan ternak tetap sesuai dengan kapasitas kandang dan kemampuan menyediakan pakan.

1. Mulai dengan Indukan yang Sehat

Langkah pertama untuk memperbanyak ayam kampung adalah memastikan indukan yang digunakan memiliki kondisi fisik dan kesehatan yang baik. Ayam betina yang akan dijadikan indukan sebaiknya aktif, memiliki nafsu makan baik, tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit, serta mempunyai kondisi tubuh yang proporsional sehingga mampu menghasilkan telur secara optimal.

Ayam jantan juga perlu mendapatkan perhatian karena berperan dalam menghasilkan telur yang fertil. Pilih ayam jantan yang aktif, sehat, tidak mengalami cacat pada kaki atau bagian tubuh lainnya, serta menunjukkan perilaku kawin yang normal agar peluang telur dapat berkembang menjadi embrio lebih besar.

Dalam satu kelompok pembiakan, jumlah ayam jantan dan betina juga perlu diperhatikan supaya proses perkawinan berlangsung efektif. Sebagai patokan awal, satu ayam jantan dapat dipelihara bersama sekitar enam hingga sepuluh ayam betina, meskipun jumlah tersebut tetap dapat disesuaikan dengan kondisi ayam, luas kandang, dan sistem pemeliharaan yang digunakan.

2. Buat Siklus Bertelur dan Menetas Setiap 2 Bulan

Agar jumlah ayam dapat bertambah secara teratur, peternak perlu membuat jadwal produksi dan penetasan yang tidak dilakukan secara sembarangan. Misalnya, telur tetas mulai dikumpulkan pada awal periode, kemudian dipilih dan dimasukkan ke mesin tetas sehingga sekitar tiga minggu kemudian anak ayam mulai menetas.

Setelah anak ayam menetas, indukan dapat kembali menjalani siklus pemeliharaan berikutnya, sementara anak ayam ditempatkan di area khusus untuk mendapatkan perawatan sesuai usianya. Dengan membagi kegiatan tersebut berdasarkan periode waktu, peternak lebih mudah mengetahui kapan harus mengumpulkan telur, menetaskan, memberikan pakan, dan melakukan pemisahan ayam muda.

Sistem dua bulanan juga dapat dibuat secara bergilir jika jumlah indukan sudah cukup banyak. Sebagai contoh, kelompok indukan A dapat menjadi sumber telur tetas pada periode pertama, sedangkan kelompok B dipersiapkan untuk periode berikutnya, sehingga proses penambahan populasi tidak harus bergantung pada satu kelompok indukan dalam waktu yang sama.

3. Pilih Telur yang Layak Ditambahkan ke Populasi

Tidak semua telur ayam kampung yang dikumpulkan harus dimasukkan ke mesin tetas karena kualitas telur sangat berpengaruh terhadap peluang keberhasilan penetasan. Telur yang dipilih sebaiknya berasal dari indukan sehat, memiliki bentuk normal, cangkang utuh, dan tidak menunjukkan kerusakan seperti retak atau perubahan bentuk yang mencolok.

Kebersihan telur juga perlu diperhatikan, tetapi telur jangan dibersihkan secara berlebihan dengan cara yang dapat merusak lapisan pelindung alaminya. Telur yang terlalu kotor atau mengalami kerusakan dapat dipisahkan sejak awal sehingga tidak bercampur dengan telur yang dianggap layak untuk ditetaskan.

Apabila menggunakan mesin tetas, proses inkubasi ayam umumnya berlangsung sekitar 21 hari, tetapi keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu tersebut. Suhu, kelembapan, kebersihan mesin, kualitas telur, serta pengelolaan selama masa inkubasi perlu diperhatikan agar perkembangan embrio berlangsung dengan baik hingga waktunya menetas.

4. Targetkan Penambahan Secara Realistis

Keinginan untuk menambah puluhan ayam setiap dua bulan memang dapat menjadi motivasi dalam mengembangkan usaha, tetapi target sebaiknya dibuat berdasarkan kemampuan produksi indukan dan kapasitas pemeliharaan. Jangan langsung menganggap seluruh telur yang dimasukkan ke mesin tetas akan menghasilkan anak ayam karena selalu ada kemungkinan telur tidak fertil atau embrio tidak berkembang sempurna.

Sebagai contoh, jika Anda memiliki sepuluh ayam betina dan satu ayam jantan, jumlah telur yang tersedia untuk ditetaskan akan bergantung pada produktivitas betina dan berapa banyak telur yang sengaja disisihkan sebagai telur tetas. Dari telur tersebut, sebagian mungkin tidak berhasil menetas sehingga jumlah anak ayam yang diperoleh dapat berbeda dari perkiraan awal.

Karena itu, pencatatan menjadi hal penting dalam sistem pembiakan dua bulanan. Catat jumlah telur yang dikumpulkan, jumlah telur yang ditetaskan, jumlah anak ayam yang berhasil menetas, jumlah ayam yang bertahan hidup, serta ayam yang dijual atau dipisahkan agar Anda memiliki gambaran nyata mengenai perkembangan populasi dari waktu ke waktu.

5. Pisahkan Anak Ayam dari Ayam Dewasa

Anak ayam yang baru menetas membutuhkan lingkungan yang berbeda dibandingkan ayam dewasa sehingga sebaiknya tidak langsung ditempatkan dalam kandang yang sama. Anak ayam masih membutuhkan kehangatan, perlindungan, pakan yang sesuai, serta tempat yang aman dari ayam dewasa yang berpotensi membuatnya kalah bersaing mendapatkan makanan.

Area khusus anak ayam atau brooder perlu dijaga agar tetap kering, bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan terlindung dari hujan maupun gangguan predator. Sumber panas juga harus diatur dengan aman karena anak ayam membutuhkan suhu yang sesuai, terutama pada periode awal ketika kemampuan tubuhnya mengatur suhu belum berkembang secara sempurna.

Seiring bertambahnya usia dan ukuran tubuh, ayam muda dapat mulai dikenalkan dengan kelompok yang lebih besar secara bertahap. Pemisahan berdasarkan umur juga membuat pemberian pakan dan pengawasan kesehatan menjadi lebih mudah karena kebutuhan ayam muda berbeda dengan ayam dewasa yang sudah memasuki fase produksi atau pembiakan.

6. Jangan Membiarkan Populasi Bertambah Tanpa Batas

Memperbanyak ayam kampung memang menjadi tujuan utama, tetapi populasi yang tumbuh terlalu cepat tanpa diikuti penambahan kapasitas kandang justru dapat menimbulkan masalah baru. Kandang yang terlalu padat membuat ayam lebih sulit bergerak, meningkatkan persaingan mendapatkan pakan dan air minum, serta membuat kotoran menumpuk lebih cepat.

Peternak sebaiknya memperhitungkan kapasitas kandang sebelum menetapkan target penambahan setiap dua bulan. Selain luas area, pertimbangkan pula ketersediaan tempat pakan, air minum, ventilasi, area istirahat, dan kemudahan membersihkan kandang agar pertumbuhan populasi tidak mengorbankan kenyamanan ayam.

Setiap akhir periode, lakukan evaluasi terhadap jumlah ternak yang dimiliki dan kemampuan pemeliharaan yang tersedia. Jika kandang sudah mendekati kapasitas, sebagian ayam dapat dipelihara untuk pembesaran dan dijual ketika mencapai ukuran yang sesuai, sementara ayam dengan kualitas terbaik dapat dipertahankan sebagai calon indukan untuk menjaga keberlanjutan populasi.

7. Gunakan Sistem Pembesaran dan Penjualan Bergantian

Jika tujuan Anda bukan hanya memperbanyak ayam, tetapi juga memperoleh keuntungan dari peternakan, sistem pembesaran dan penjualan bergantian dapat diterapkan. Anak ayam yang dihasilkan pada satu periode tidak harus seluruhnya dipertahankan sampai dewasa karena keputusan tersebut dapat membuat jumlah ayam meningkat lebih cepat daripada kapasitas kandang.

Sebagian ayam dapat dipilih untuk menjadi calon indukan berdasarkan kondisi tubuh, pertumbuhan, kesehatan, dan karakteristik lain yang dianggap penting untuk program pembiakan. Sementara itu, ayam lainnya dapat dipelihara untuk tujuan pembesaran sehingga pada periode berikutnya sudah tersedia ternak yang dapat dijual kepada konsumen atau pengepul.

Pola tersebut membuat perkembangan ternak menjadi lebih terukur karena setiap dua bulan terdapat kegiatan evaluasi populasi. Hasil penjualan juga dapat dimanfaatkan kembali untuk membeli pakan, memperbaiki kandang, menambah peralatan penetasan, atau meningkatkan kualitas indukan sehingga siklus berikutnya dapat berjalan lebih baik daripada periode sebelumnya.

Pola Penambahan Ayam Kampung Setiap 2 Bulan

Untuk mempermudah penerapannya, peternak dapat membuat pola sederhana yang dimulai dari kelompok indukan sebagai sumber telur tetas. Pada periode pertama, misalnya, indukan menghasilkan telur yang kemudian diseleksi dan ditetaskan, sedangkan anak ayam yang berhasil menetas dipindahkan ke tempat pemeliharaan khusus.

Memasuki periode kedua, anak ayam dari periode sebelumnya masih berada dalam tahap pembesaran, sementara indukan kembali dipantau untuk menghasilkan telur berikutnya. Pada saat yang sama, peternak dapat mencatat tingkat keberhasilan penetasan dan mengevaluasi apakah jumlah ayam baru masih sesuai dengan kapasitas kandang yang tersedia.

Ketika siklus berikutnya dimulai, sebagian ayam muda dapat dipertahankan sebagai calon indukan dan sebagian lainnya diarahkan untuk pembesaran atau penjualan. Pola seperti ini dapat terus diulang sehingga jumlah ternak berkembang secara bertahap, tetapi tetap dikendalikan melalui pencatatan dan seleksi.

Sederhananya, pola pengembangan ternak dapat dibuat seperti ini:

  • Periode 1: 10 betina + 1 jantan → menghasilkan anak ayam → pilih calon indukan dan ayam untuk pembesaran.
  • Periode 2: indukan tetap dipelihara → lakukan penetasan berikutnya → anak ayam dari periode pertama mulai dibesarkan.
  • Periode 3: sebagian ayam muda yang sudah layak dapat dijual → hasil penjualan digunakan untuk pakan atau penambahan indukan.
  • Periode 4: ulangi siklus dengan jumlah indukan yang sudah diperbaiki kualitasnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menambah Jumlah Ayam Kampung

1. Berapa lama telur ayam kampung menetas?

Telur ayam kampung umumnya membutuhkan waktu sekitar 21 hari untuk menetas jika proses pengeraman berlangsung dengan kondisi yang sesuai.

2. Berapa ayam betina untuk satu ayam jantan?

Sebagai patokan awal, satu ayam jantan dapat dipelihara bersama sekitar enam hingga sepuluh ayam betina dalam kelompok pembiakan.

3. Apakah anak ayam boleh langsung dicampur dengan ayam dewasa?

Sebaiknya tidak, karena anak ayam masih membutuhkan kehangatan, perlindungan, dan pakan yang sesuai dengan tahap pertumbuhannya.

4. Apakah semua telur ayam kampung bisa ditetaskan?

Tidak, telur yang dipilih untuk penetasan sebaiknya berasal dari indukan sehat serta memiliki bentuk normal dan cangkang yang utuh.

5. Mengapa jumlah ayam perlu dicatat setiap dua bulan?

Pencatatan membantu peternak mengetahui perkembangan populasi, keberhasilan penetasan, tingkat kelangsungan hidup, serta jumlah ayam yang dijual atau dipertahankan sebagai indukan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6