8 Kebiasaan yang Dianggap Biasa oleh Generasi Lama, tetapi Bisa Menyinggung Gen Z

Tak semua yang dulu dianggap biasa masih diterima sekarang. Ini 8 hal yang kerap membuat Gen Z merasa tersinggung.

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gen Z dikenal sebagai generasi yang berani menantang kebiasaan lama dan membawa cara pandang baru terhadap banyak hal. Namun, tidak sedikit sikap atau hal yang dianggap menyinggung oleh Gen Z justru terasa membingungkan bagi generasi yang lebih tua, seperti Baby Boomer, Gen X, dan Milenial.

Perbedaan cara pandang antargenerasi memang bukan hal baru. Masing-masing tumbuh dalam kondisi sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda sehingga wajar jika memiliki nilai yang tidak selalu sama. Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Yang terpenting adalah saling memahami sudut pandang satu sama lain.

Berikut beberapa hal yang sering membuat Gen Z merasa tersinggung, tetapi kerap sulit dipahami oleh Baby Boomer, Gen X, dan Milenial.

1. Selera humor yang dianggap sudah tidak relevan

Bukan berarti Gen Z tidak suka bercanda. Namun, mereka cenderung lebih sensitif terhadap lelucon yang dianggap merendahkan orang lain atau dibuat dengan mengorbankan perasaan seseorang.

Candaan tentang politik, fisik, identitas, maupun keyakinan sering kali dipandang tidak lagi lucu jika bernada mengejek. Terlebih jika disampaikan dengan gaya pasif-agresif atau disamarkan sebagai "hanya bercanda".

Inilah yang membuat sebagian Baby Boomer, Gen X, maupun Milenial merasa bingung karena menganggap jenis humor tersebut dulu merupakan hal yang biasa.

2. Membanggakan gaya hidup yang mengorbankan work-life balance

Bagi banyak Gen Z, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi salah satu prioritas utama. Mereka kurang menyukai budaya kerja yang menganggap lembur, bekerja saat akhir pekan, atau selalu siap membalas email di luar jam kerja sebagai sesuatu yang patut dibanggakan.

Karena itu, mereka merasa keberatan ketika batasan pribadi tidak dihargai atau ketika atasan menganggap bekerja tanpa henti sebagai ukuran loyalitas.

Pandangan mereka tentang kesuksesan memang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kesuksesan tidak selalu berarti bekerja selama mungkin, tetapi juga memiliki waktu untuk menikmati hidup.

3. Orang yang mengolok-olok terapi kesehatan mental

Semakin banyak Gen Z yang menjadikan terapi psikolog sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Bagi mereka, terapi tidak selalu dilakukan saat mengalami masalah besar, tetapi juga sebagai bentuk perawatan diri, layaknya berolahraga atau menjaga pola makan.

Itulah sebabnya mereka merasa tersinggung ketika ada yang mengejek atau meremehkan orang yang menjalani terapi.

Sementara bagi sebagian Baby Boomer maupun Gen X, stigma terhadap kesehatan mental sudah tertanam cukup lama sehingga tidak mudah dihilangkan begitu saja.

4. Dipaksa mengikuti stereotip gender

Secara umum, Gen Z memiliki pandangan yang lebih terbuka mengenai identitas dan peran gender dibandingkan generasi sebelumnya.

Sebagian dari mereka merasa nyaman mengekspresikan diri tanpa harus mengikuti aturan tradisional mengenai bagaimana laki-laki atau perempuan seharusnya bersikap maupun berpakaian. Bahkan, ada yang tidak terlalu nyaman menggunakan sapaan berbasis gender.

Bagi Baby Boomer, Gen X, maupun Milenial, sapaan tersebut umumnya dianggap sebagai bentuk kesopanan. Namun bagi sebagian Gen Z, mengasumsikan identitas gender seseorang hanya berdasarkan penampilan bisa dianggap kurang menghargai, meskipun tidak dimaksudkan untuk menyinggung.

5. Disebut malas

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap generasi memiliki orang-orang yang malas. Namun, Gen Z merasa label tersebut sering digunakan secara tidak adil hanya karena mereka memiliki cara berbeda dalam menjalani hidup.

Misalnya, mereka menetapkan batasan dengan keluarga, menolak budaya kerja berlebihan, atau lebih memilih menjaga kesehatan mental dibanding terus bekerja tanpa henti.

Menurut Gen Z, menjaga keseimbangan hidup bukan berarti malas, melainkan memahami batas kemampuan diri.

6. Telepon mendadak tanpa pemberitahuan

Fenomena ini sering membuat Baby Boomer, Gen X, dan Milenial mengernyitkan dahi. Banyak anggota Gen Z merasa tidak nyaman menerima telepon secara tiba-tiba tanpa pesan terlebih dahulu.

Sebagian dari mereka bahkan mengalami phone anxiety atau kecemasan saat harus berbicara melalui telepon.

Hal ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya yang tumbuh ketika telepon menjadi sarana utama untuk berkomunikasi. Pada era 1990-an misalnya, banyak remaja berharap memiliki telepon sendiri di kamar. Kini hampir semua orang memiliki ponsel, tetapi banyak Gen Z justru lebih memilih mengirim pesan singkat.

7. Komentar tentang bentuk tubuh dan berat badan

Tumbuh bersama media sosial membuat Gen Z lebih sadar terhadap dampak komentar mengenai bentuk tubuh. Banyak dari mereka menilai bahwa komentar seperti "kok gemukan?" atau "sekarang kurusan ya?" sebaiknya tidak lagi dijadikan basa-basi.

Terutama bagi perempuan yang sejak kecil sering menerima penilaian soal penampilan fisik, komentar seperti itu bisa berdampak pada rasa percaya diri.

Di sisi lain, tren body positivity yang sempat berkembang kini mulai bergeser dengan kembali populernya standar tubuh kurus. Karena itu, Gen Z lebih memilih pembahasan mengenai kesehatan dilakukan secara hormat tanpa mengaitkannya dengan standar kecantikan.

8. Dikritik karena dianggap terlalu banyak mengeluh

Banyak Baby Boomer dan sebagian Gen X dibesarkan dengan keyakinan bahwa etos kerja dibentuk melalui ketahanan mental dan kemampuan bertahan menghadapi kesulitan. Bagi mereka, tidak mengeluh dan tetap menjalankan tanggung jawab adalah sebuah kebanggaan.

Sementara itu, Gen Z memiliki pandangan berbeda. Mereka lebih terbuka membicarakan kesulitan yang dialami, termasuk kondisi kesehatan mental. Menurut mereka, mengungkapkan emosi bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara menjaga diri agar tidak memendam tekanan.

Meski begitu, keseimbangan tetap diperlukan. Terlalu mengandalkan emosi juga tidak selalu menjadi solusi, sama seperti memendam semua masalah sendirian.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6