Mobilitas Adalah Kesiapsiagaan untuk Bergerak, Ketahui Bentuk dan Contohnya

Pengertian mobilitas adalah gerakan berpindah-pindah atau kesiapsiagaan untuk bergerak.

Diperbarui 12 Juni 2025, 13:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan seseorang untuk berpindah tempat, beradaptasi, atau merespons situasi secara fisik maupun sosial sering disebut dengan istilah mobilitas. Mobilitas adalah kesiapsiagaan seseorang, baik secara jasmani maupun dalam konteks sosial dan ekonomi, untuk bergerak atau berubah sesuai tuntutan keadaan. Konsep ini tidak hanya berlaku dalam dunia olahraga atau kesehatan tubuh, tetapi juga dalam konteks sosial dan pembangunan masyarakat.

Menurut buku Sosiologi Suatu Pengantar (2013) karya Soerjono Soekanto, menjelaskan bahwa mobilitas sosial adalah suatu proses perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya. Artinya, mobilitas tidak hanya terbatas pada gerak tubuh, tetapi juga mencakup perubahan posisi ekonomi, pendidikan, atau pekerjaan seseorang dari waktu ke waktu. Dalam skala yang lebih luas, mobilitas menjadi indikator penting dalam menilai dinamika suatu komunitas atau negara.

Dalam bidang kesehatan dan kebugaran, mobilitas diartikan sebagai kemampuan sendi dan otot untuk bergerak bebas tanpa rasa sakit. Seperti dijelaskan dalam buku Kinesiologi: Ilmu Gerak Manusia oleh Kathryn M. Refshauge, menegaska   bahwa mobilitas yang baik adalah dasar dari aktivitas fungsional sehari-hari, dan menjadi faktor penentu dalam mencegah cedera. Oleh karena itu, memahami makna mobilitas dalam berbagai aspek kehidupan menjadi penting untuk meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan dan tantangan zaman.

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Kamis (12/6/2025).

Mobilitas Adalah

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, mobilitas adalah sebagai gerakan berpindah-pindah atau kesiapsiagaan untuk bergerak. Sedangkan secara etimologis mobilitas berasal dari bahasa latin yaitu ‘mobilis’ yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Sementara dalam antropologi, mobilitas adalah sebagai gerak perubahan yang terjadi di antara warga masyarakat, baik secara fisik maupun secara sosial. Terdapatnya kata sosial pada istilah mobilitas sosial adalah untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial.

Salah satu bentuk yang paling banyak dibahas dalam ilmu sosial adalah mobilitas sosial, yaitu perpindahan status atau kedudukan seseorang dalam struktur masyarakat, baik naik maupun turun. Hubungan antara mobilitas dan mobilitas sosial sangat erat, karena mobilitas secara sosial mencerminkan dinamika dalam masyarakat yang memungkinkan individu untuk memperbaiki (atau kehilangan) posisi sosialnya, tergantung pada faktor seperti pendidikan, pekerjaan, dan akses terhadap sumber daya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar (2013), menegaskan bahwa mobilitas sosial adalah perpindahan seseorang atau sekelompok warga masyarakat dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya. Pernyataan ini mempertegas bahwa mobilitas sosial merupakan dimensi penting dari mobilitas secara umum, yang menggarisbawahi perubahan dalam hierarki sosial.

Sementara itu, dalam Sociology (2013) karya Anthony Giddens, dijelaskan mobilitas sosial mengacu pada pergerakan individu dan kelompok antara posisi sosial ekonomi yang berbeda. Penjelasan ini menunjukkan bahwa mobilitas bukan hanya sekadar gerakan fisik, tetapi memiliki dampak struktural terhadap tatanan masyarakat itu sendiri.

Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai perpindahan atau gerak sosial yang dilakukan seseorang atau sekelompok masyarakat dari satu strata (kelas sosial) ke strata lain biasanya dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup. Mobilitas yang dilakukan oleh seseorang akan menempatkan seseorang tersebut pada suatu kelas sosial (stratifikasi sosial) yang berbeda dari sebelumnya. Pada stratifikasi sosial terdapat pengkategorian kelas-kelas yang disebut dengan class sistem yang menempatkan mereka masuk pada kelas yang sesuai dengan kondisi yang mereka miliki.

 

Dikutip dari buku Sociology in a Changing World (1988) karya William Kornblum, mobilitas sosial adalah perpindahan individu, keluarga atau kelompok sosial dari lapisan ke lapisan sosial lainnya. Dalam perpindahan yang dilakukan dapat mempengaruhi status sosial yang dimiliki yaitu bisa naik atau turun, atau bahkan tetap pada tingkat yang sama tetapi dalam pekerjaan yang berbeda.

Dikutip dari buku Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (2004) karya Bagong Suyanto, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya baik itu berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan (biasanya) termasuk pula segi penghasilan, yang dapat dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok.

Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial

1. Mobilitas Vertikal

Mobilitas vertikal adalah bentuk perpindahan dari suatu kedudukan ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat. Jadi, perpindahan yang dilakukan bisa ke tingkat yang lebih tinggi (social climbing) atau ke tingkat yang lebih rendah (sosial sinking).

a. Social Climbing

Social climbing ditandai dengan naiknya status seseorang ke kedudukan yang lebih tinggi atau berada dalam kelompok yang lebih tinggi dibanding lapisan sosial sebelumnya. Contohnya adalah karyawan yang naik jabatan karena memiliki kinerja yang bagus.

b. Social Sinking

Social sinking merupakan proses penurunan status seseorang dari atas ke bawah. Alasan terjadinya social sinking juga sangat beragam, seperti masa pensiun, turun jabatan, atau dipecat. Contohnya adalah polisi yang diturunkan pangkat jabatannya, karena melakukan pelanggaran dalam menjalankan tugas.

2. Mobilitas Horizontal

Mobilitas sosial horizontal mengacu kepada perpindahan geografis atau tempat tinggal atau juga peralihan individu dari suatu kelompok sosial ke kelompok lainnya yang sederajat. Status sosial pun tetap atau sederajat tanpa kenaikan atau penurunan. Contohnya adalah seorang kepala sekolah yang dipindahkan bertugas ke sekolah lain karena masa kerja di sekolah lamanya sudah habis. Meskipun, ia dipindahkan ke sekolah yang baru, namun jabatannya masih tetap sebagai kepala sekolah.

Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas

Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi mobilitas adalah sosial dalam masyarakat. Faktor-faktor ini dapat berasal dari individu itu sendiri maupun dari lingkungan sosial di sekitarnya. Memahami faktor-faktor ini penting untuk memahami mengapa seseorang atau kelompok dapat mengalami perubahan status sosial.

1. Pendidikan

Pendidikan seringkali dianggap sebagai jalur utama untuk mobilitas sosial ke atas. Individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih tinggi.

2. Ekonomi

Selain pendidikan, faktor ekonomi juga memainkan peran penting dalam mobilitas sosial. Individu yang memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi yang lebih besar cenderung memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan status sosial mereka.

3. Politik dan Sosial Budaya

Faktor politik dan sosial budaya juga dapat memengaruhi mobilitas sosial. Sistem politik yang stabil dan inklusif dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mobilitas sosial. Selain itu, nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat juga dapat memengaruhi kesempatan individu untuk mengalami mobilitas sosial.

4. Sistem Stratifikasi Sosial

Sistem stratifikasi sosial suatu masyarakat juga berperan penting dalam menentukan tingkat mobilitas sosial. Masyarakat dengan sistem terbuka cenderung memiliki mobilitas sosial yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan sistem tertutup. Dalam masyarakat dengan sistem terbuka, individu memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan status sosial mereka tanpa terhalang oleh batasan-batasan sosial yang kaku.

Dampak Mobilitas Sosial

1. Dampak positif

a. Memotivasi seseorang untuk lebih berusaha memperbaiki kedudukannya. Hal ini akan mendorong seseorang untuk untuk berprestasi agar mendapatkan status sosial yang lebih baik.

b. Terjadi perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik dengan lebih cepat.

c. Terjadinya peningkatan integrasi sosial di tengah-tengah masyarakat. Dengan penerimaan pengaruh yang ditimbulkan dari adanya mobilitas sosial menjadi salah satu contoh terjadinya integrasi dalam masyarakat.

2. Dampak Negatif

a. Mobilitas sosial akan menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat. Konflik tersebut dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu konflik antarkelas, konflik antarkelompok sosial, dan konflik antargenerasi.

b. Rasa solidaritas di dalam diri setiap individu akan semakin berkurang. Hal ini terjadi karena setiap individu yang berubah status sosialnya melakukan penyesuaian diri dengan norma dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok orang dengan status sosial baru tersebut supaya diterima.

c. Mobilitas sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, terutama jika mengalami penurunan status sosial. 

QnA tentang Mobilitas

Q: Apa itu mobilitas?

A: Mobilitas adalah kemampuan atau kesiapsiagaan seseorang untuk berpindah atau bergerak dari satu posisi ke posisi lainnya. Istilah ini bisa merujuk pada mobilitas fisik (gerakan tubuh), geografis (perpindahan tempat tinggal), maupun sosial (perubahan status atau kedudukan dalam masyarakat).

Q: Apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial?

A: Mobilitas sosial adalah perpindahan status sosial seseorang atau kelompok dari satu lapisan sosial ke lapisan lain, baik secara vertikal (naik/turun) maupun horizontal (perubahan posisi sejajar). Misalnya, seseorang yang sebelumnya bekerja sebagai buruh lalu menjadi pengusaha kecil.

Q: Apakah sistem sosial memengaruhi tingkat mobilitas?

A: Ya. Dalam masyarakat dengan sistem stratifikasi terbuka, mobilitas sosial cenderung lebih mudah terjadi karena status bisa berubah melalui usaha. Sedangkan dalam sistem tertutup, seperti kasta, perubahan status sosial hampir tidak mungkin terjadi.

Q: Apa manfaat memahami mobilitas sosial dalam masyarakat?

A: Dengan memahami mobilitas sosial, kita bisa melihat seberapa terbuka sebuah masyarakat terhadap perubahan, mengetahui faktor penghambat atau pendukung kemajuan individu, serta mengukur keadilan sosial dan pemerataan kesempatan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6