Satgas Ungkap Penyebab Penurunan Kasus COVID-19 di Indonesia, Simak Penjelasannya

Penyebab penurunan kasus COVID-19 di Indonesia adalah pembatasan mobilitas dan kegiatan masyarakat.

Diperbarui 01 Oktober 2021, 17:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kasus COVID-19 di Indonesia sudah mengalami tren perbaikan dan lebih stabil, di tengah lonjakan kasus tengah di beberapa negara seperti India, Malaysia, dan Jepang. Apa penyebab penurunan kasus COVID-19 di Indonesia?

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkap penyebab penurunan kasus COVID-19 di Indonesia adalah pembatasan mobilitas dan kegiatan masyarakat atau PPKM diperpanjang.

“Pembatasan mobilitas dan aktivitas masih menjadi faktor utama," kata Wiku dalam konferensi pers daring, Kamis (30/9/2021).

Hal itu terbaca kala pemerintah mulai melonggarkan kegiatan masyarakat, maka berangsur kasus COVID-19 mulai meningkat. Meski demikian, Wiku menegaskan pembatasan kegiatan masyarakat tak bisa dilakukan secara terus menerus mengingat dampak negatif yang banyak ditimbulkan.

Berikut Liputan6.com ulas penjelasan lengkapnya dari berbagai sumber, Jumat (1/10/2021).

 

** #IngatPesanIbu 

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Bagaimana Upaya Pengendalian COVID-19 Seharusnya?

Pengendalian COVID-19 dengan pembatasan mobilitas dan aktivitas tidak seharusnya dilakukan terus-menerus. Satgas Wiku menyayangkannya karena hal tersebut berdampak pada sektor lain dan membutuhkan biaya tidak sedikit.

Dalam kesempatan yang sama, kata Wiku mestinya pengendalian COVID-19 bukan bertumpu pada pembatasan sosial melainkan pada kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. Disiplin prokes dianggap paling mudah dan mudah dilakukan.

"Pembatasan mobilitas dan aktivitas tentunya tidak dapat terus menerus kita lakukan, yang dapat terus menerus kita lakukan adalah disiplin prokes. Selalu memakai masker ke mana pun kita pergi dan sebisa mungkin tidak berkerumun," tekan Wiku.

5 Provinsi yang Menyumbang Kasus COVID-19 Terbanyak

Data harian sebaran COVID-19 per 30 September 2021 pukul 12.00 WIB menunjukkan 5 provinsi penyumbang kasus terbanyak. Kelima provinsi itu adalah Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Bali.

1. Jawa Timur hari ini melaporkan 195 kasus baru COVID-19 dan 257 sembuh.

2. Jawa Barat 161 kasus positif COVID-19 baru dan 288 orang sembuh.

3. DKI Jakarta melaporkan 149 kasus konfirmasi COVID-19 baru dan 194 sembuh.

4. Jawa Tengah di peringkat keempat dengan 144 kasus positif COVID-19 baru dan 282 sembuh.

5. Bali 86 kasus COVID-19 baru dan 229 sembuh dari COVID-19.

Total penambahan kasus baru hari ini adalah 1.954 sehingga akumulasinya menjadi 4.213.414. Penambahan terjadi pada kasus meninggal yakni sebanyak 117 sehingga akumulasinya menjadi 141.826.

Sedang, kasus sembuh bertambah 3.077 sehingga akumulasinya menjadi 4.034.176. Kasus aktif COVID-19 mengalami penurunan sebanyak 1.240 sehingga akumulasinya menjadi 37.412.

Data tersebut menunjukkan penambahan spesimen sebanyak 278.567 dan jumlah orang diperiksa bertambah 197.310.

Rata-Rata Kematian Akibat COVID-19 di Indonesia Masih Tinggi

Epidemiolog Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) 28 September 2021 lalu mengatakan, upaya pengendalian COVID-19 harus tepat sasaran dan sistematis. Berupa intervensi pada kasus dan kontak erat.

Jumlah kematian di Indonesia memang turun, tetapi menurut Masdalina, case fatality rate (rata-rata angka kematian) masih cukup tinggi, yakni 3,4 persen. Sementara itu, angka rata-rata kematian global adalah 2 persen dan Asia 1,5 persen.

Epidemiolog Masdalina Pane mengharapkan masyarakat tetap disiplin 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), mendukung pemerintah agar memperkuat 3T (testing, tracing, treatment), serta percepatan vaksinasi

"Masyarakat segera melakukan vaksinasi agar lebih terlindungi dari risiko sakit berat dan kematian saat terpapar virus Corona," lanjutnya.

Prediksi Gelombang Ketiga COVID-19 di Indonesia

Gelombang 3 pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi akan terjadi beberapa bulan ke depan. Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, mengungkapnya pada 21 September 2021 lalu di Jakarta menilik pola kenaikan kasus di negara India, Malaysia, dan Jepang.

Wiku memprediksi gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia akan terjadi 3 bulan ke depan saat periode libur Natal dan Tahun Baru 2022.

"Ini mengingat dalam 3 bulan ke depan, kita akan kembali memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022," jelasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sub Bidang Mitigasi Falla Adinda 21 September 2021 lalu, bahwa gelombang 3 pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi akan terjadi bila masyarakat mulai lengah dengan protokol kesehatan (prokes).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, kombinasi strategi menghindari gelombang 3 COVID-19. Deteksi yang baik hingga percepatan vaksinasi COVID-19 menjadi kuncinya.

"Kombinasi testing dengan PeduliLindungi, vaksinasi, dan jaga jarak. Saya kira itu alat kita untuk menghindari kalau ada gelombang COVID-19 berikutnya," ujar Luhut usai Rapat Terbatas PPKM pada Senin, 27 September 2021.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6