Jutaan Orang Naik KRL Tiap Hari, Tapi Risiko Ini Justru Paling Sering Diremehkan

Naik KRL tiap hari, dokter ungkap risiko kesehatan tersembunyi yang mengintai. Apa saja?

Diterbitkan 04 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rutinitas naik KRL sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan jutaan masyarakat Jabodetabek. Setiap pagi dan sore, stasiun dipadati penumpang yang berpacu dengan waktu demi sampai ke tempat kerja. Namun, di balik rutinitas tersebut, ada risiko kesehatan dan keselamatan yang sering kali luput dari perhatian.

Ketua HCC Indonesia, Dr. Ray Wagiu Basrowi mengingatkan bahwa perjalanan harian atau commute bukan sekadar aktivitas biasa. Dampaknya bisa langsung terasa pada kondisi fisik hingga mental seseorang.

"Perjalanan harian memengaruhi tekanan darah, hormon stres, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga produktivitas kerja," ujar Ray.

Menurutnya, komuter yang mengalami kelelahan kronis lebih rentan sakit, mudah emosi, sulit fokus, dan berisiko lebih tinggi mengalami kecelakaan. Sayangnya, banyak orang masih menganggap hal ini sepele.

Salah satu risiko terbesar adalah kurang tidur. Banyak komuter harus bangun sangat pagi demi menghindari kepadatan. Akibatnya, waktu tidur sering terpangkas. Padahal, tidur kurang dari enam jam dapat menurunkan konsentrasi dan refleks. Dalam kondisi padat seperti di peron atau dalam kereta, situasi ini bisa berbahaya.

Selain itu, dehidrasi juga kerap terjadi tanpa disadari. Tidak sedikit penumpang yang sengaja mengurangi minum agar tidak perlu ke toilet selama perjalanan. Kebiasaan ini justru bisa memicu pusing, lemas, jantung berdebar, hingga penurunan fokus saat bekerja.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah postur tubuh. Berdiri lama sambil membawa tas berat bisa menyebabkan nyeri pada leher, pinggang, dan lutut. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal yang umum dialami pekerja urban.

Di sisi lain, kondisi kereta yang padat juga meningkatkan risiko fisik dan psikologis. Desakan penumpang dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan, sesak napas, hingga panic attack. Belum lagi stres akibat keterlambatan, kebisingan, atau kekhawatiran terlambat kerja yang terus menumpuk setiap hari.

"Komuter yang lelah kronis lebih mudah sakit, emosi naik, fokus turun, dan rentan kecelakaan," ujar Ray.

 

Potensi Risiko Kecelakaan KRL

Dia juga menyoroti potensi risiko kecelakaan akibat gangguan operasional, seperti rem mendadak atau situasi evakuasi panik. Dalam kondisi tertentu, hal ini bahkan bisa berujung pada cedera massal.

Oleh sebab itu, Ray mengingatkan pentingnya menerapkan kebiasaan sederhana demi menjaga kesehatan dan keselamatan selama commute.

Mulai dari tidur cukup, sarapan ringan tinggi protein, hingga memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sebelum berangkat.

Selain itu, komuter juga disarankan untuk menggunakan alas kaki yang aman, tidak terburu-buru saat di stasiun, serta tetap waspada dengan lingkungan sekitar.

Saat berada di dalam kereta, penting untuk menjaga keseimbangan, tidak bersandar di pintu, dan segera mencari bantuan jika merasa pusing atau sesak.

Tak kalah penting, kenali sinyal tubuh. Pusing berulang, nyeri dada, sesak napas di keramaian, hingga rasa panik saat naik kereta adalah tanda yang tidak boleh diabaikan.

Pada akhirnya, bekerja memang penting. Namun menjaga tubuh dan mental tetap sehat selama perjalanan adalah hal yang jauh lebih krusial.

"Kerja penting. Tapi sampai kerja dengan tubuh dan mental yang selamat jauh lebih penting," pungkas Ray.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Health Collaborative Center (HCC) (@hcc.indonesia)