Wanita dan Pria Bisa Alami Varises, Ini Beda Penyebab Kemunculannya

Prevalensi wanita alami varises memang lebih tinggi dari pria. Ini penyebabnya.

Diterbitkan 16 April 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Varises bisa terjadi pada wanita dan pria. Namun, prevalensi wanita mengalami varises lebih tinggi dari pria.

Menurut Journal of Vascular Surgery dan World Health Organization (WHO), varises terjadi pada sekitar 25% pada wanita di dunia. Sementara, pada pria sekitar 10–15%.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Emanoel Oepangat, mengungkapkan wanita memang lebih rentan alami varises karena pengaruh hormonal, terutama saat kehamilan atau menopause.

“Hormon estrogen dan progesteron dapat melemahkan dinding pembuluh darah, sementara tekanan intra-abdomen saat hamil menambah beban kerja vena di tungkai,” jelas dokter dari Heartology Cardiovascular Hospital Jakarta itu.

Sementara itu, varises pada pria kerap dijumpai pada mereka dengan pekerjaan yang menuntut berdiri lama (seperti petugas keamanan, tenaga medis, atau pekerja pabrik) maupun duduk dalam waktu lama (seperti pengemudi atau pekerja kantoran).

Varises berkembang perlahan dan tampak ringan, itu sebabnya kondisi ini kerap diabaikan. Gejala varises dimulai dengan gejala kaki terasa berat, nyeri tumpul, atau cepat lelah setelah beraktivitas.

Lalu, muncul pergelangan kaki membengkak, terutama di sore hari. Baru kemudian tampak gambaran pembuluh darah halus vena kebiruan atau keunguan di bawah kulit. Selanjutnya, muncul pembuluh darah vena yang tebal dan terpuntir di permukaan kulit.

Pada tahap lanjut, dapat muncul perubahan warna kulit menjadi lebih gelap, terutama di area betis bawah.

“Bercak kehitaman di kaki sering disangka akibat diabetes, padahal bisa merupakan tanda penyakit vena kronis yang sudah berjalan lama,” tambah Emanoel dalam keterangan tertulis.

Varises Cepat Ditangani, Penanganan Lebih Mudah

Varises merupakan tanda adanya gangguan pada sistem pembuluh darah vena dan bisa berkembang menjadi masalah serius bila diabaikan.

Jika varises tidak ditangani bisa mengalami insufisiensi vena kronis, ulkus (lesi berbentuk kawah yang terjadi pada lapisan kulit), hingga trombosis vena dalam (gumpalan darah di vena dalam).

Maka dari itu, jika mengalami gejala varises segera konsultasikan dengan dokter. Penanganan varises makin sulit jika lama dibiarkan.

"Banyak pasien baru datang ketika sudah muncul keluhan nyeri, bengkak, atau luka di kaki. Padahal, varises adalah kondisi progresif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan terlalu lama,” katanya.

Penanganan Varises

Emanoel mengatakan pada pasien dengan varises maka akan menjalani evaluasi katup vena dan derajat insufisiensi secara presisi menggunakan Duplex Ultrasound Vaskular. Ini adalah teknologi pencitraan yang mampu menilai fungsi katup dan mendeteksi lokasi sumbatan dengan akurasi tinggi.

Dari pemeriksaan tersebut bakal diketahui hasilnya yang menentukan terapi yang paling tepat. Penanganan varises bisa dengan:

  • Terapi kompresi medis untuk meningkatkan aliran balik vena
  • Sclerotherapy, penyuntikan larutan khusus untuk menutup vena bermasalah
  • Radiofrequency Ablation dan Laser Vein Therapy, teknik minim invasif tanpa sayatan besar yang memungkinkan pasien pulang di hari yang sama.

“Penanganan yang dilakukan secara menyeluruh dengan memperbaiki sirkulasi aliran balik, mengembalikan fungsi vena, dan mencegah komplikasi jangka panjang," kata Emanoel.